Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Hanya Dipahami oleh Orang-Orang Beriman

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ  فِيْ  ذٰلِكَ  لَاٰ يَةً  لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۗ

“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 77)

Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Hanya Dipahami oleh Orang-Orang Beriman

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Kemudian Allah SWT memperingatkan bahwa azab yang ditimpakan-Nya kepada kaum Luth sehingga mereka hancur binasa serta terhindarnya Luth beserta pengikutnya merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Dia akan mengazab setiap orang yang ingkar dan durhaka dan memberi pahala orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Sedang bagi orang-orang kafir, peristiwa yang menghancurkan kaum Luth itu hanyalah semata-mata akibat bencana alam. Adanya gempa bumi, panas terik sepanjang tahun, dan timbulnya wabah penyakit adalah suatu hal yang biasa terjadi di alam ini, tidak ada hubungan dengan kedurhakaan dan keingkaran manusia pada Allah SWT.

Tafsir Kementerian Agama tersebut memberikan satu penekanan yang sangat penting: peristiwa yang sama dapat dipandang berbeda, tergantung pada keadaan hati seseorang. Orang yang beriman melihatnya sebagai ayat (tanda kekuasaan Allah), sedangkan orang yang mengingkari melihatnya hanya sebagai fenomena alam atau peristiwa sejarah tanpa makna spiritual.

Ayat ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya meyakini keberadaan Allah, tetapi juga kemampuan melihat hikmah di balik setiap peristiwa. Setelah menceritakan penyimpangan kaum Luth, penyelamatan Nabi Luth dan para pengikutnya, serta azab yang menghancurkan kaum tersebut, Allah tidak sekadar mengakhiri kisah itu sebagai catatan sejarah. Allah menegaskan bahwa di dalamnya terdapat āyah (tanda) bagi orang-orang yang beriman.

Kata “āyah” dalam Al-Qur’an bukan sekadar berarti bukti, tetapi juga petunjuk yang mengarahkan manusia kepada kebesaran, keadilan, dan hikmah Allah. Dengan demikian, kehancuran kaum Luth bukan hanya menunjukkan bahwa Allah Mahakuasa menghukum, tetapi juga bahwa Allah Mahaadil: Dia tidak membiarkan kezaliman dan kerusakan moral berlangsung tanpa batas, sekaligus menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang beriman dan taat.

Ayat ini juga mengingatkan bahwa keimanan memengaruhi cara seseorang membaca realitas. Orang yang beriman melihat sejarah sebagai guru, sedangkan orang yang menolak petunjuk Allah cenderung memandangnya hanya sebagai rangkaian kebetulan atau hukum alam semata. Padahal, Al-Qur’an mengajak manusia melihat bahwa di balik sebab-sebab alam, Allah tetap mengatur segala sesuatu dengan hikmah dan keadilan-Nya.

Dalam kehidupan sekarang, manusia menyaksikan berbagai peristiwa besar—bencana alam, keruntuhan suatu bangsa, kehancuran akibat kezaliman, atau runtuhnya suatu peradaban. Seorang mukmin tidak tergesa-gesa memastikan bahwa setiap musibah adalah azab atas dosa tertentu, karena hal itu merupakan urusan Allah. Namun, setiap peristiwa semacam itu seharusnya menjadi muhasabah, mengingatkan bahwa manusia lemah, kehidupan dunia tidak kekal, dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Oleh karena itu, QS. Al-Hijr ayat 77 mengajak setiap mukmin untuk memiliki mata hati yang hidup. Jangan sampai kita membaca ayat-ayat Al-Qur’an, melihat jejak sejarah umat-umat terdahulu, dan menyaksikan berbagai peristiwa di sekitar kita tanpa mengambil pelajaran.

Orang yang beriman bukan hanya melihat dengan mata, tetapi juga merenungkan dengan hati sehingga setiap tanda semakin menguatkan iman, menambah rasa takut kepada Allah, dan mendorong untuk memperbaiki diri.

Pelajaran utama dari ayat ini adalah bahwa keimanan menjadikan seseorang mampu menangkap hikmah di balik setiap tanda yang Allah bentangkan, sedangkan hati yang tertutup hanya melihat peristiwa lahiriah tanpa memperoleh pelajaran yang mendekatkannya kepada Allah.

Doa dimasukkan ke dalam orang yang mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah…

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَرَوْنَ آيَاتِكَ فَيَزْدَادُونَ إِيمَانًا، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي غَافِلًا عَنْ عِبَرِ الْمَاضِينَ، وَاحْفَظْنِي وَأَهْلِي وَأُمَّةَ مُحَمَّدٍ مِنْ أَسْبَابِ عَذَابِكَ.

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang beriman, yang ketika melihat tanda-tanda kebesaran-Mu semakin bertambah imannya. Janganlah Engkau jadikan hatiku lalai dari pelajaran umat-umat terdahulu. Lindungilah aku, keluargaku, dan umat Nabi Muhammad dari sebab-sebab yang mendatangkan azab-Mu.”