Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نَّهَا لَبِسَبِيْلٍ مُّقِيْمٍ
“dan sungguh, (negeri) itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia).” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 76)
Jejak azab Allah SWT masih Dapat Disaksikan
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Sungguh, pada yang demikian itu, yaitu berita-berita dan kisah-kisah yang Allah sampaikan, benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda yang diperlihatkan dan dihamparkan di alam semesta ini
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak hanya membinasakan kaum Nabi Luth karena kedurhakaan mereka, tetapi juga membiarkan bekas-bekas kehancuran mereka tetap dapat disaksikan oleh generasi berikutnya. Kota yang dihancurkan itu berada di jalur yang dikenal dan dilalui masyarakat pada masa itu. Dengan demikian, siapa pun yang melewati kawasan tersebut dapat mengambil pelajaran bahwa azab Allah adalah kenyataan, bukan sekadar cerita.
Hingga sekarang, kawasan yang diyakini sebagai lokasi kaum Nabi Luth di sekitar Laut Mati (Dead Sea) masih menjadi perhatian para peneliti dan sejarawan. Peradaban sebesar apa pun dapat lenyap ketika menolak kebenaran dan terus-menerus melakukan kemaksiatan.
Pesan utama ayat ini bukanlah mengajak manusia sekadar mengagumi situs sejarah, melainkan merenungkan hikmah di baliknya. Allah sengaja membiarkan sebagian jejak sejarah tetap ada agar manusia menyadari bahwa janji dan peringatan-Nya adalah benar. Sejarah menjadi saksi bahwa ketika suatu kaum terus membangkang setelah datang peringatan yang jelas, kehancuran dapat menjadi akhir dari perjalanan mereka.
Bagi orang beriman, bekas-bekas kehancuran itu adalah ayat-ayat Allah yang dapat dilihat dengan mata. Sejarah bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk menguatkan iman, memperbaiki akhlak, menjaga fitrah, dan menjauhi segala bentuk penyimpangan yang pernah menjadi sebab kebinasaan umat-umat terdahulu.
Karena itu, QS. Al-Hijr ayat 76 mengajarkan bahwa Allah tidak menghapus seluruh jejak sejarah orang-orang yang dibinasakan. Sebagian jejak itu tetap dibiarkan sebagai peringatan yang terus hidup sepanjang zaman, agar setiap manusia yang mau berpikir mengambil pelajaran sebelum datang penyesalan.
Berdasarkan kajian sejarah dan arkeologi, tidak ada kepastian tahun terjadinya azab terhadap kaum Nabi Luth (’alaihissalam). Namun, jika mengikuti kronologi yang umum digunakan berdasarkan kehidupan Nabi Ibrahim, peristiwa itu diperkirakan terjadi sekitar 3.800–4.000 tahun yang lalu, yakni sekitar 1900–1800 SM.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa bekas negeri mereka masih dapat disaksikan oleh orang-orang yang melintas.
Makna ayat ini sangat menarik. Ketika Al-Qur’an diturunkan sekitar 1.400 tahun yang lalu, Allah telah menyatakan bahwa lokasi kaum Luth berada di jalur yang dikenal masyarakat. Hingga sekarang, ribuan tahun setelah peristiwa itu, kawasan yang diyakini sebagai lokasi negeri kaum Luth di sekitar Laut Mati (Dead Sea) masih ada dan menjadi objek penelitian sejarah dan arkeologi.
Meskipun arkeologi tidak dapat membuktikan seluruh rincian peristiwa azab sebagaimana diceritakan Al-Qur’an, keberadaan kawasan tersebut menunjukkan bahwa kisah itu bukan sekadar legenda.
Hal ini menjadi salah satu sisi tadabbur yang menarik:
Dari sudut pandang keimanan, bagi seorang muslim, ini semakin menguatkan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Al-Qur’an tidak hanya menceritakan suatu peristiwa, tetapi juga menunjukkan bahwa bekas-bekasnya akan tetap menjadi pelajaran bagi generasi sesudahnya.
Menghubungkan rentang waktu yang sangat panjang dengan pesan Al-Qur’an bahwa bekas kehancuran kaum Luth tetap menjadi ayat (tanda) bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.
Doa supaya bisa mengambil hikmah dan pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan mereka.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُعْتَبِرِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا يَتَدَبَّرُ آيَاتِكَ وَيَتَّعِظُ بِعِبَرِ الْأُمَمِ السَّابِقِينَ.
Allāhumma’j’alnā minal-mu’tabirīn, wa lā taj’alnā minal-ghāfilīn, warzuqnā qalban yatadabbaru āyātika wa yatta’iẓu bi-’ibaril-umamis-sābiqīn.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mampu mengambil pelajaran, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Anugerahkanlah kepada kami hati yang mentadabburi ayat-ayat-Mu dan mengambil hikmah dari kisah serta jejak umat-umat terdahulu.”