Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نْ كَا نَ اَصْحٰبُ الْاَ يْكَةِ لَظٰلِمِيْنَ ۙ
“Dan sesungguhnya penduduk Aikah itu benar-benar kaum yang zalim,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 78)
Salah Satu Bentuk Kezaliman yang Diazab Allah: Curang dalam Perdagangan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Ayat ini menerangkan bahwa penduduk kota Aikah adalah penduduk yang zalim dan ingkar. Kepada mereka diutus Nabi Syuaib a.s., tetapi mereka mengingkari dan mendustakan dakwahnya.
Dalam hadis diterangkan hubungan penduduk Aikah dengan penduduk kota Madyan. Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya penduduk kota Madyan dan penduduk Aikah itu adalah dua umat yang kepada keduanya Allah mengutus Nabi Syuaib”. (Riwayat Ibnu Mardawaih dan Ibnu ‘Asakir). Arti dasar dari Aikah ialah hutan, kemudian menjadi nama suatu negeri karena negeri itu memiliki banyak hutan. Negeri itu terletak di daerah Madyan.
Penduduk Aikah menganut kepercayaan politeisme, suka menyamun dan merampok orang yang lewat negeri mereka, serta berlaku curang dalam menimbang dan menakar. Kepada mereka diutus Nabi Syuaib a.s., tetapi mereka mengingkarinya
Allah SWT menampilkan variasi bentuk kezaliman kaum terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa penyebab kebinasaan suatu kaum tidak hanya satu jenis dosa, melainkan beragam, sesuai dengan penyimpangan yang mereka lakukan.
Penduduk Aikah dan Madyan: curang dalam perdagangan, merampok, menzalimi hak orang lain, dan tetap menyekutukan Allah. Setiap bentuk kezaliman, apabila dilakukan terus-menerus, dibela, dan tidak diiringi pertobatan setelah datang peringatan, akan mengantarkan suatu kaum kepada kehancuran.
Dengan kata lain, Allah seolah berkata kepada manusia:
Ada beberapa hikmah mengapa Allah menampilkan berbagai jenis kezaliman, kaum yang berbeda dan zaman yang berbeda.
Tadabbur QS. Al-Hijr: 78
Ayat tentang penduduk Aikah mengingatkan bahwa kezaliman ekonomi juga merupakan dosa besar di sisi Allah. Kecurangan dalam timbangan, penipuan, perampasan hak orang lain, dan penyalahgunaan kekuasaan bukan sekadar pelanggaran sosial, tetapi juga bentuk pembangkangan kepada Allah. Sebagaimana kerusakan moral dapat menghancurkan suatu kaum, demikian pula ketidakjujuran dalam ekonomi dan kezaliman terhadap sesama dapat mengundang murka-Nya apabila dilakukan secara sistematis dan terus-menerus tanpa pertobatan.
Pesan besarnya adalah bahwa Allah memperingatkan manusia melalui banyak kisah agar setiap generasi dapat mengenali bentuk kezaliman yang paling dekat dengan dirinya. Bukan untuk sibuk mencari dosa kaum lain, tetapi untuk bertanya, “Apakah ada sifat mereka yang mulai tumbuh dalam diri dan masyarakat kita?” Itulah hakikat tadabbur terhadap kisah-kisah umat terdahulu.
Doa memohon dijauhkan dari kezaliman
اللّٰهُمَّ جَنِّبْنَا الظُّلْمَ وَالْخِيَانَةَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الصَّادِقِينَ
“Allahumma jannibna az-zulma wal-khiyanah, waj‘alna minas-sadiqin.
“Ya Allah, jauhkanlah kami dari kezaliman dan pengkhianatan, serta jadikanlah kami termasuk orang-orang yang jujur.”