Tahu Bukan Sekadar Cerdas, Tapi Paham dan Taat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

قَا لَ  قَدْ  اُجِيْبَتْ  دَّعْوَتُكُمَا  فَا سْتَقِيْمَا  وَلَا  تَتَّبِعٰٓنِّ  سَبِيْلَ  الَّذِيْنَ  لَا  يَعْلَمُوْنَ

“Dia Allah berfirman, Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan sekali-kali kamu mengikuti jalan orang yang tidak mengetahui.” (QS. Yunus 10: Ayat 89).

Allah mengabulkan doa Nabi Musa dan Harun, tetapi mengingatkan mereka untuk tetap istiqamah dan tidak mengikuti jalan orang-orang yang tidak tahu

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah menyatakan kepada Musa dan Harun bahwa doa mereka untuk kehancuran Firaun dan kekuasaannya, akan diperkenankan Tuhan. Hal itu sudah menjadi ketetapan Allah. Kemudian Allah memerintahkan kepada Musa dan Harun untuk tetap menjalankan perintah-Nya dan terus menyampaikan seruan ke jalan Allah dan mempersiapkan Bani Israil untuk berjuang dan pindah meninggalkan bumi Mesir. Allah melarang mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengikuti Sunnah Tuhan pada makhluk-Nya yaitu hukum sebab-akibat, seperti menuntut segera kehancuran Firaun sebelum waktunya atau minta ditunda kehancuran itu pada waktu yang sudah ditetapkan. Masa keruntuhan Firaun itu pasti datang, sebab mereka tidak dapat lepas dari hukum Tuhan itu.

Tadabur dan Pelajaran Penting dari Yunus 89:

1. Doa orang beriman pasti dikabulkan

Allah menegaskan bahwa doa Musa dan Harun langsung dikabulkan. Ini menunjukkan bahwa doa dari hati yang tulus dan sabar pasti akan didengar, meskipun hasilnya mungkin tidak langsung terlihat. Pelajaran: Jangan ragu berdoa, meskipun situasi tampak mustahil. Keikhlasan dan keteguhan iman adalah kunci terkabulnya doa.

2. Istiqamah setelah berdoa

Allah tidak hanya mengabulkan, tetapi juga memerintahkan mereka untuk tetap istiqamah. Artinya, doa bukan akhir dari usaha — harus tetap konsisten di jalan yang benar. Pelajaran: Setelah berdoa, tetaplah teguh dalam keimanan dan amal. Doa harus diiringi dengan sikap yang benar dan tidak menyimpang.

3. Larangan mengikuti jalan “orang yang tidak tahu”

Allah memperingatkan agar tidak mengikuti jalan orang-orang yang tidak tahu (jāhilīn) — yaitu mereka yang hidup tanpa petunjuk wahyu, mengikuti hawa nafsu atau kekufuran. Pelajaran: Ilmu dan kebenaran wahyu harus menjadi dasar dalam bersikap. Jangan ikut arus kebodohan, meskipun mayoritas orang melakukannya.

4. Tahu bukan sekadar cerdas, tapi paham dan taat

Orang-orang yang “tidak tahu” di sini bukan hanya yang bodoh secara ilmu dunia, tetapi yang tidak mengerti atau tidak mau mengikuti kebenaran. Pelajaran: Ilmu dalam Islam adalah ilmu yang melahirkan amal dan tunduk kepada kebenaran. Banyak tahu tapi tidak taat, tetap termasuk golongan “tidak tahu”.

Doa permintaan untuk tetap istiqamah, dan perlindungan dari mengikuti jalan orang-orang yang tidak tahu (jahil):

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ الْمُسْتَقِيمِينَ، وَثَبِّتْنِي عَلَى دِينِكَ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِمَّنْ يَتَّبِعُ سَبِيلَ الْجَاهِلِينَ، وَاشْكُرْ لِي دُعَائِي وَارْزُقْنِي حُسْنَ الْعَاقِبَةِ.

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang istiqamah, tetapkan aku di atas agama-Mu, dan jangan jadikan aku termasuk orang yang mengikuti jalan orang-orang yang jahil. Terimalah doaku dan anugerahkan aku akhir yang baik.”