Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ صَبَرُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“(yaitu) orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. An-Nahl Ayat 42)
Sabar dan Tawakal
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI disebutkan bahwa pahala yang besar dan baik itu hanya diperoleh oleh orang yang sabar dalam melaksanakan tuntunan Allah dan menghadapi berbagai cobaan, dan orang yang hanya kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan Maha Mengatur mereka bertawakal serta menyerahkan urusan mereka setelah berupaya mewujudkannya sekuat kemampuan.
Ayat 42 berbicara tentang orang-orang yang bersabar dan bertawakal kepada Allah.
Sabar dan tawakal ditempatkan bersama. Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, sedangkan tawakal bukan berarti menyerahkan semuanya tanpa ikhtiar.
Beberapa pokok tadabburnya bisa diarahkan kepada:
1. Sabar ketika jalan kehidupan tidak sesuai harapan.
Sabar bukan tidak merasa sedih atau berat, tetapi tetap menjaga hati dan perilaku agar tidak keluar dari jalan Allah.
2. Tawakal setelah melakukan ikhtiar.
Kita berusaha sebaik mungkin, tetapi menyadari bahwa hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
3. Sabar menjaga kita dari putus asa, tawakal menjaga kita dari kecemasan berlebihan.
Sabar menghadapi apa yang sedang terjadi; tawakal menyerahkan apa yang belum terjadi kepada Allah.
4. Sabar dan tawakal adalah tanda kedekatan hati kepada Allah.
Ayat ini tidak sekadar mengatakan “mereka bersabar”, tetapi “kepada Tuhan mereka bertawakal”. Ada tempat bersandar ketika manusia sudah tidak mampu mengendalikan keadaan.
5. Dalam menghadapi ujian, tugas manusia adalah berikhtiar, bersabar, lalu bertawakal.
Kita tidak dituntut menguasai hasil, tetapi dituntut menjaga sikap kita di hadapan Allah.
Kita tidak selalu mampu memilih apa yang terjadi dalam hidup, tetapi kita selalu dapat memilih bagaimana menghadapinya: bersabar ketika diuji, berikhtiar ketika diberi kesempatan, dan bertawakal ketika hasilnya berada di luar kuasa kita.
Dan ayat 42 ini sangat indah jika disambungkan dengan ayat 41, yang sebelumnya ; Hijrah karena Allah: Meninggalkan Kezaliman Menuju Kehidupan yang Lebih Baik.” Ayat 41 berbicara tentang orang yang berhijrah karena Allah, lalu ayat 42 menggambarkan bekal batin mereka: sabar dan tawakal. Jadi rangkaiannya terasa sangat alami: berani meninggalkan yang salah → bersabar menjalani proses → bertawakal kepada Allah.
QS. An-Nahl ayat 42 menegaskan dua sifat yang sangat penting ketika menghadapi ujian: sabar dan tawakal.
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Alladzīna shabarū wa ‘alā rabbihim yatawakkalūn
“(Yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Dari ayat ini, doa yang sangat sesuai adalah memohon agar Allah memberi kesabaran dalam menjalani proses dan tawakal setelah berikhtiar:
Doa pendek yang bisa didawamkan setiap hari:
رَبِّي أَعِنِّي عَلَى الصَّبْرِ، وَارْزُقْنِي حُسْنَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ.
Rabbī a‘innī ‘alaṣ-ṣabri, warzuqnī ḥusnat-tawakkuli ‘alaik.
“Ya Rabbku, bantulah aku untuk bersabar dan anugerahkan kepadaku sebaik-baik tawakal kepada-Mu.”