Jangan Asal Bertanya: Carilah Jawaban kepada Ahlinya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ  اَرْسَلْنَا  مِنْ  قَبْلِكَ  اِلَّا  رِجَا لًا  نُّوْحِيْۤ  اِلَيْهِمْ  فَسْــئَلُوْۤا  اَهْلَ  الذِّكْرِ  اِنْ كُنْتُمْ  لَا  تَعْلَمُوْنَ ۙ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 43)

Jangan Asal Bertanya: Carilah Jawaban kepada Ahlinya

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa pengutusan para nabi dan rasul adalah sesuatu yang hak dan benar adanya. Dan Kami tidak mengutus kepada umat manusia sebelum engkau, wahai Muhammad, melainkan orang laki-laki terpilih yang memiliki keistimewaan dan ketokohan dari kalangan manusia, bukan malaikat, yang Kami beri wahyu kepada mereka melalui utusan Kami, Jibril agar disampaikannya kepada umat mereka; maka bertanyalah, wahai orang yang meragukan keesaan Allah dan tidak mengetahui tuntunan-Nya, kepada orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab Allah, jika kamu tidak mengetahui. (Quran Surah al-Anbiya /21: 7 )

وَمَاۤ  اَرْسَلْنَا  قَبْلَكَ  اِلَّا  رِجَا لًا  نُّوْحِيْۤ  اِلَيْهِمْ  فَسْــئَلُوْۤا  اَهْلَ  الذِّكْرِ  اِنْ كُنْتُمْ  لَا  تَعْلَمُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus (rasul-rasul) sebelum engkau (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 7)

Dan al-Jinn/72: 6 :

وَّاَنَّهٗ  كَا نَ  رِجَا لٌ  مِّنَ  الْاِ نْسِ  يَعُوْذُوْنَ  بِرِجَا لٍ  مِّنَ  الْجِنِّ  فَزَا دُوْهُمْ  رَهَقًا ۙ

“dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (QS. Al-Jinn 72: Ayat 6).

QS. An-Nahl ayat 43 bisa ditadabburi lebih dalam. Ayat ini bukan hanya tentang “kalau tidak tahu, bertanyalah”, tetapi tentang kepada siapa kita bertanya dan bagaimana menyikapi jawaban yang kita terima.

1. Mengakui “saya tidak tahu” adalah bagian dari ilmu
Tidak mengetahui sesuatu bukanlah kehinaan. Yang berbahaya adalah tidak tahu tetapi merasa tahu. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati: ketika ilmu kita terbatas, kita diperintahkan untuk mencari orang yang mengetahui.

2. Tidak semua orang tepat untuk dijadikan tempat bertanya
Allah tidak mengatakan sekadar “bertanyalah kepada siapa saja”, tetapi:

فَسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ
“Maka bertanyalah kepada ahludz-dzikr.”

Ada penekanan pada orang yang memiliki pengetahuan. Maka dalam urusan agama, bertanyalah kepada orang yang memiliki ilmu agama; dalam kesehatan kepada tenaga kesehatan yang kompeten; dalam pertanian kepada ahlinya; dalam hukum kepada ahli hukum.

3. Salah memilih sumber ilmu dapat membawa kepada kesesatan
Al-Qur’an bahkan mengingatkan dalam QS. Al-Jinn: 6 bahwa ada manusia yang meminta perlindungan kepada jin, dan hal itu justru menambah kesesatan mereka.

Jadi, bukan hanya pertanyaannya yang penting, tetapi sumber jawabannya juga penting.

4. Banyak informasi tidak sama dengan banyak ilmu
Dahulu persoalannya mungkin adalah sulit mendapatkan informasi. Sekarang justru sebaliknya: informasi begitu melimpah.

Internet, media sosial, YouTube, bahkan AI dapat memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tetapi: Informasi belum tentu ilmu, dan jawaban belum tentu kebenaran.

Karena itu, QS. An-Nahl: 43 menjadi sangat relevan di zaman AI.

5. AI dapat membantu mencari informasi, tetapi bukan berarti AI selalu menjadi “ahludz-dzikr”
AI bisa menjadi alat untuk belajar, mencari penjelasan, membandingkan pendapat, dan membantu memahami sesuatu. Tetapi untuk perkara yang membutuhkan otoritas dan tanggung jawab keilmuan, hasil AI tetap perlu diperiksa kepada manusia yang kompeten.

Gunakan AI untuk membantu mencari dan memahami ilmu, tetapi jangan menyerahkan seluruh kebenaran kepadanya.

6. Orang berilmu pun harus tahu batas ilmunya
Ayat ini bukan hanya pelajaran bagi orang yang bertanya. Ini juga pelajaran bagi orang yang ditanya.

Kalau tidak tahu, jangan mengarang jawaban. Berani mengatakan:

“Saya tidak tahu.”

Itu lebih dekat kepada amanah ilmu daripada memberikan jawaban yang tidak memiliki dasar.

7. Bertanya adalah jalan menuju ilmu, tetapi memilih guru adalah bagian dari perjalanan itu
Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa mendapatkan ribuan jawaban dari berbagai sumber. Tantangannya bukan lagi sekadar “di mana mencari jawaban?”, tetapi:

“Siapa yang layak saya jadikan rujukan?”

Jangan malu karena tidak tahu. Malulah jika tidak tahu tetapi tidak mau belajar. Dan lebih berhati-hatilah ketika mencari jawaban kepada sumber yang tidak memiliki ilmu.

QS. An-Nahl 43 mengajarkan tiga adab sekaligus: rendah hati terhadap keterbatasan ilmu, tepat dalam memilih sumber ilmu, dan kritis terhadap jawaban yang kita terima.

Doa dalam al Qur’an yang indah supaya ilmu kita bertambah ;

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
Rabbi zidnī ‘ilmā.
“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Taha: 114)