Hijrah karena Allah: Meninggalkan Kezaliman Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ  هَا جَرُوْا  فِى  اللّٰهِ  مِنْۢ  بَعْدِ  مَا  ظُلِمُوْا  لَـنُبَوِّئَنَّهُمْ  فِى  الدُّنْيَا  حَسَنَةً ۗ وَلَاَ جْرُ  الْاٰ خِرَةِ  اَكْبَرُ ۘ لَوْ  كَا نُوْا  يَعْلَمُوْنَ ۙ

“Dan orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala di akhirat pasti lebih besar, sekiranya mereka mengetahui,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 41).

Hijrah karena Allah: Meninggalkan Kezaliman Menuju Kehidupan yang Lebih Baik

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa setelah berbicara tentang pengingkaran kaum musyrik Mekah dan kezaliman mereka kepada Nabi Muhammad dan kaum muslim, Allah lalu beralih menjelaskan ketentuan hijrah dan pahala bagi orang yang berhijrah:

Dan orang yang berhijrah meninggalkan kerabat dan kampung halamannya karena mengikuti perintah Allah setelah mereka dizalimi, pasti Kami akan memberikan tempat, suasana, dan ganjaran yang baik kepada mereka di dunia. Dan pahala yang Kami berikan kepada mereka di akhirat kelak pasti lebih besar dan baik. Sekiranya mereka, orang kafir, mengetahui betapa besar pahala yang Kami berikan kepada orang yang beriman dan berhijrah, niscaya mereka beriman dan berhijrah.

QS An-Nahl ayat 41 sangat kaya untuk ditadabburi. Ayat ini bukan hanya berbicara tentang perpindahan tempat, tetapi tentang keberanian meninggalkan sesuatu yang menzalimi demi mempertahankan iman dan ketaatan kepada Allah.

Beberapa hal yang bisa ditadabburi

1. Hijrah dimulai dari keberanian meninggalkan kezaliman

مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
“setelah mereka dizalimi”

Mereka tidak memilih hijrah karena kehidupan lama tidak nyaman semata, tetapi karena mereka mengalami kezaliman. Ini mengajarkan bahwa mempertahankan iman kadang membutuhkan keberanian untuk meninggalkan lingkungan atau keadaan yang tidak lagi memungkinkan seseorang hidup dalam ketaatan.

2. Yang paling penting bukan ke mana kita berhijrah, tetapi untuk siapa

هَاجَرُوا فِي اللَّهِ
“mereka berhijrah karena Allah.”

Inilah inti hijrah. Seseorang mungkin berpindah rumah, pekerjaan, lingkungan, bahkan kota, tetapi belum tentu itu menjadi hijrah dalam makna spiritual.

Hijrah menjadi bernilai ketika orientasinya kepada Allah.

3. Meninggalkan sesuatu bukan berarti kehilangan

Allah langsung memberikan janji:

لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
“Pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia.”

Ada sesuatu yang menarik. Mereka meninggalkan sesuatu, tetapi Allah menjanjikan pengganti yang baik.

Ini memberikan ketenangan kepada orang yang sedang berada dalam persimpangan hidup: terkadang kita takut meninggalkan sesuatu karena khawatir tidak mendapatkan penggantinya.

Ayat ini mengajarkan bahwa ketika sesuatu ditinggalkan karena Allah, jangan hanya melihat apa yang hilang; lihat pula kepada siapa kita menyerahkan masa depan kita: Allah.

4. Allah tidak mengatakan kehidupan mereka tanpa ujian

Ayat tidak mengatakan bahwa setelah hijrah mereka akan memperoleh kehidupan yang tanpa masalah. Allah menjanjikan:

حَسَنَةً — kehidupan/tempat yang baik

Artinya, kebaikan dari Allah tidak selalu berarti hidup tanpa kesulitan. Bisa berupa ketenangan, keselamatan, rezeki, lingkungan yang lebih baik, kebebasan menjalankan iman, atau keberkahan dalam kehidupan.

Jadi, jangan mengukur “kehidupan yang baik” hanya dari banyaknya harta atau hilangnya masalah.

5. Pahala akhirat jauh lebih besar

Ini bagian yang sangat kuat:

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ
“Dan sungguh, pahala akhirat itu lebih besar.”

Allah tidak hanya menjanjikan kebaikan di dunia. Bahkan setelah menyebut حَسَنَةً di dunia, Allah menegaskan bahwa أَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ — pahala akhirat jauh lebih besar.

Ini mengubah cara kita memandang pengorbanan.

Ada orang yang mungkin kehilangan rumah, kedudukan, kenyamanan, lingkungan, bahkan harta ketika memilih jalan Allah. Tetapi bagi orang beriman, kerugian dunia tidak boleh menjadi ukuran terakhir.

6. Kalimat “لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ” sangat dalam

لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
“Sekiranya mereka mengetahui.”

Seakan-akan Allah mengingatkan bahwa manusia sering takut meninggalkan sesuatu karena tidak mengetahui apa yang Allah siapkan setelahnya.

Kita melihat kehilangan di depan mata, tetapi tidak melihat janji Allah yang berada di baliknya.

Maka iman mengajarkan: Tidak semua yang kita tinggalkan karena Allah benar-benar menjadi kehilangan.

Tadabbur yang sangat relevan dengan kehidupan kita

Hijrah dalam kehidupan sekarang dapat kita renungkan lebih luas. Ada kalanya seseorang perlu berhijrah:

  • Dari maksiat menuju taat,
  • Dari kesombongan menuju kerendahan hati,
  • Dari dendam menuju memaafkan,
  • Dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang baik,
  • Dari kebiasaan yang merusak menuju kebiasaan yang mendekatkan kepada Allah,
  • Dari mengejar dunia semata menuju menyeimbangkan dunia dan akhirat.

Tidak semua hijrah harus terlihat oleh manusia. Ada hijrah yang hanya diketahui oleh Allah dan diri kita sendiri.

Kadang-kadang Allah meminta kita meninggalkan sesuatu yang kita cintai, bukan untuk membuat kita kehilangan, tetapi untuk menyelamatkan kita dan membawa kita menuju sesuatu yang lebih baik.

Jika kita meninggalkan sesuatu karena Allah, jangan terlalu takut dengan apa yang ada di belakang kita. Percayalah kepada Allah yang mengetahui apa yang ada di depan kita. Sebab Allah menjanjikan kebaikan di dunia, dan menegaskan bahwa pahala di akhirat jauh lebih besar.

Semakin bertambah usia, hijrah tidak selalu berarti pindah tempat. Bisa jadi justru hijrah hati—meninggalkan hal-hal yang tidak perlu lagi dibawa menuju akhir kehidupan, dan semakin mendekat kepada Allah.

Hijrah → meninggalkan yang buruk karena Allah → hidup dalam kebaikan → memperoleh pahala akhirat yang lebih besar → berharap berakhir dengan husnul khatimah.

Salah satu doa ingin husnul khotimah

اللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ، وَلَا تَخْتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْخَاتِمَةِ

Allahumma-khtim lana bihusnil-khatimah, wa la takhtim ‘alaina bisu’il-khatimah.

“Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khatimah, dan jangan Engkau akhiri hidup kami dengan suul khotimah”