Ketika Allah Menghendaki, Tidak Ada yang Mustahil: Kun Fayakūn

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا  قَوْلُـنَا  لِشَيْءٍ  اِذَاۤ  اَرَدْنٰهُ  اَنْ  نَّقُوْلَ  لَهٗ  كُنْ  فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. An-Nahl Ayat 40)

Ketika Allah Menghendaki, Tidak Ada yang Mustahil: Kun Fayakūn

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI bahwa Allah SWT menerangkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi sedikit pun oleh semua makhluk, baik yang di langit maupun yang di bumi. Allah SWT menyatakan bahwa apabila ia berkehendak untuk menghidupkan orang yang mati, Ia cukup mengatakan kepadanya, “Jadilah.” Jadilah ia sesuai dengan kehendak Allah itu.

Pada ayat lain, Allah SWT menerangkan bahwa terwujudnya sesuatu yang dikehendaki itu tidaklah memerlukan waktu yang lama, akan tetapi cukup dalam waktu yang singkat.
Allah SWT berfirman: “Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata. (Al-Qamar/54: 50)”

Allah juga menjelaskan bahwa membangkitkan orang-orang yang telah mati bagi-Nya sama halnya dengan menciptakan satu jiwa.

Allah SWT berfirman: Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Luqman/31: 28).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan Allah tidak dibatasi oleh kemampuan makhluk. Apa yang menurut manusia sangat sulit, bahkan mustahil, bagi Allah tidaklah demikian. Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa apabila Allah berkehendak menghidupkan kembali orang yang telah mati, Dia cukup mengatakan, “Jadilah,” maka terjadilah sesuai dengan kehendak-Nya.

Di sinilah keterbatasan manusia perlu disadari. Kita sering mengukur kekuasaan Allah dengan ukuran kemampuan diri sendiri. Karena kita tidak mampu menghidupkan orang yang telah mati, kita kemudian membayangkan bahwa kebangkitan itu sulit. Padahal, Allah yang pertama kali menciptakan manusia tentu tidak kesulitan untuk menciptakannya kembali.

Bahkan Allah memberikan gambaran bahwa penciptaan dan kebangkitan seluruh manusia bagi-Nya hanyalah seperti menciptakan satu jiwa. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Luqman ayat 28:

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ
“Menciptakan dan membangkitkan kamu hanyalah seperti menciptakan satu jiwa saja.”

Kun Fayakūn bukan berarti Allah membutuhkan proses seperti manusia. Ada hal menarik untuk direnungkan manusia kalau ingin mewujudkan sesuatu membutuhkan tenaga, alat, waktu, proses, dan sebab-akibat. Allah tidak bergantung kepada semua itu. Tafsir Kemenag mengaitkan ayat ini dengan QS. Al-Qamar ayat 50:

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ
“Dan perintah Kami hanyalah dengan satu perkataan seperti kejapan mata.”

Artinya, jangan membayangkan kekuasaan Allah dengan standar keterbatasan manusia. Allah adalah Pencipta sebab, proses, waktu, dan hasil.

Apa yang bisa kita bawa dalam kehidupan?

Ayat ini seharusnya melahirkan keyakinan, bukan sikap pasif.

Ketika menghadapi persoalan yang terasa berat, kita boleh mengatakan:

“Saya tidak tahu bagaimana Allah akan menyelesaikannya, tetapi saya tahu bahwa Allah Mahakuasa.”

  • Ada doa yang belum terjawab.
  • Ada penyakit yang belum sembuh.
  • Ada hubungan yang belum membaik.
  • Ada masalah yang tampaknya tidak mempunyai jalan keluar.
  • Ada sesuatu yang menurut perhitungan manusia hampir mustahil.

Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menjadikan keterbatasan kita sebagai batas bagi kekuasaan Allah.

Namun, Kun fayakūn juga bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar. Kita tetap berusaha, berdoa, bersabar, dan bertawakal. Ikhtiar adalah tugas manusia; hasil akhirnya adalah wilayah kehendak Allah.

Dan dalam konteks ayat-ayat sebelumnya, pesan ini menjadi sangat kuat: kebangkitan yang dahulu didustakan manusia bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah. Jika Allah telah menjanjikannya, maka pasti terjadi.

Bagi manusia, ada yang mustahil. Bagi Allah, tidak ada yang mustahil jika Dia menghendakinya. Tugas kita bukan membatasi kekuasaan Allah dengan keterbatasan akal kita, tetapi beriman kepada-Nya, terus berikhtiar, dan menyerahkan hasil kepada-Nya. Karena ketika Allah menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: “Kun”—jadilah. Maka terjadilah.

Doa untuk tawakal, permohonan pertolongan, dan keyakinan bahwa Allah Mahakuasa. ketika Nabi Musa berada dalam kesulitan

رَبِّ إِنِّيْ لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr.

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”  QS. Al-Qashash: 24

Doa untuk benar-benar menegaskan keyakinan “Kun Fayakūn”
“Ya Allah, jika menurut akalku jalan ini sulit, jangan biarkan keterbatasan akalku membatasi keyakinanku kepada-Mu. Jika sesuatu itu baik menurut-Mu, bukakanlah jalannya. Jika keadaan yang sulit ini belum berubah, berilah aku kesabaran untuk menjalaninya dan kekuatan untuk terus berikhtiar. Aku serahkan hasilnya kepada-Mu. Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada yang sulit bagi-Mu. Jika Engkau menghendaki sesuatu, Engkau cukup berkata: Kun, fayakūn. Maka jadikanlah yang sulit menjadi mudah, yang buntu menjadi terbuka, dan yang belum baik menjadi baik dengan kehendak-Mu.”