Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنْ تَحْرِصْ عَلٰى هُدٰٮهُمْ فَاِ نَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ يُّضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِ يْنَ
“Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan mereka tidak mempunyai penolong.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 37)
Hidayah adalah pemberian Allah, tetapi mencarinya adalah pilihan kita
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sangat berharap kaum kafir mendapat petunjuk. Allah lalu menegaskan, “Jika engkau berusaha sekuat tenaga dan sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka itu tidak akan berhasil karena sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, yakni dibiarkan sesat karena lebih memilih jalan kesesatan itu, dan mereka tidak mempunyai penolong yang dapat menyelamatkan mereka.”
اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 56).
Hidayah pada akhirnya adalah hak prerogatif Allah SWT, tetapi Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa manusia diperintahkan mencari, meminta, membuka diri, dan menempuh jalan menuju hidayah.
Cara Meraih Hidayah Allah
1. Memohon hidayah kepada Allah
Karena hati berada dalam kekuasaan Allah. Doa yang paling sederhana dan terus-menerus adalah:
اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ —
“Ihdinash-shirāthal-mustaqīm”
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6). Minimal 17 kali dalam sehari meminta supaya diberi hidayah.
2. Mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh.
Jangan merasa sudah benar hanya karena mengikuti kebiasaan, kelompok, atau pendapat sendiri. Hidayah perlu dicari dengan hati yang jujur.
3. Membuka hati dan tidak keras kepala.
Hidayah sulit masuk ke hati yang sudah memutuskan: “Saya pasti benar dan tidak mau mendengar.” Kesediaan menerima nasihat adalah pintu hidayah.
4. Mau mendengar dan mengikuti Al-Qur’an
Bukan hanya membaca, tetapi berusaha memahami, mentadabburi, kemudian mengamalkannya.
5. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah
Hidayah bukan hanya berupa teori. Allah memberikan contoh nyata melalui kehidupan Rasulullah SAW.
6. Meninggalkan kesombongan
Salah satu penghalang terbesar hidayah adalah kesombongan: tahu ada kebenaran, tetapi tidak mau menerimanya.
7. Bertobat ketika menyadari kesalahan
Jangan mempertahankan kesalahan hanya karena sudah terlanjur. Mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah justru merupakan jalan menuju hidayah.
8. Memperbanyak amal saleh
Hidayah bukan hanya sesuatu yang ditunggu. Ia perlu dijemput dengan ketaatan: shalat, dzikir, sedekah, berbuat baik, menjaga lisan, dan meninggalkan maksiat.
9. Bergaul dengan orang-orang saleh
Lingkungan dapat menguatkan atau melemahkan hidayah. Teman yang baik mengingatkan ketika kita lalai dan menguatkan ketika kita lemah.
10. Terus berusaha meskipun belum sempurna
Jangan berkata, “Saya belum mendapat hidayah.” Lebih baik berkata, “Saya sedang berusaha mencari dan mempertahankan hidayah.”
Ayat 37 berbicara tentang orang yang sangat diharapkan agar mendapat hidayah, tetapi Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang memilih kesesatan. Ini memberikan pelajaran penting: Kita tidak berkuasa memberikan hidayah kepada seseorang, tetapi kita berkuasa memilih apakah hati kita mau membuka diri terhadap hidayah Allah.
Kita tidak bisa memaksa Allah memberikan hidayah kepada siapa pun. Tetapi kita bisa memilih untuk terus mengetuk pintu hidayah-Nya, membuka hati terhadap kebenaran, dan berjalan di jalan yang telah Allah tunjukkan.
اللّٰهُمَّ اهْدِنَا وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَافْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ هِدَايَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُوْنَ الْحَقَّ فَيَتَّبِعُوْنَهُ، وَلَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ حَتَّى نَلْقَاكَ.
Allahumma ihdinaa wahdi quluubanaa, waftah lanaa abwaaba hidaayatik, waj‘alnaa mimman yastami‘uunal-haqqa fayattabi‘uunah, wa laa tuzigh quluubanaa ba‘da idz hadaitanaa, wa tsabbitnaa ‘alaa shiraathikal-mustaqiim hattaa nalqaak.
“Ya Allah, berilah kami hidayah dan berilah hidayah kepada hati kami. Bukakanlah bagi kami pintu-pintu hidayah-Mu. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendengarkan kebenaran lalu mengikutinya. Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami. Teguhkanlah kami di atas jalan-Mu yang lurus hingga kami bertemu.
Aamiin ya rabbal aalamin.