Berjalanlah di Muka Bumi dan Perhatikan Bagaimana Kesudahan Orang yang Mendustakan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ  بَعَثْنَا  فِيْ  كُلِّ  اُمَّةٍ  رَّسُوْلًا  اَنِ  اعْبُدُوا  اللّٰهَ  وَا جْتَنِبُوا  الطَّا غُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ  مَّنْ  هَدَى  اللّٰهُ  وَمِنْهُمْ  مَّنْ  حَقَّتْ  عَلَيْهِ  الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا  فِى  الْاَ رْضِ  فَا نْظُرُوْا  كَيْفَ  كَا نَ  عَا قِبَةُ  الْمُكَذِّبِيْنَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An-Nahl 16: Ayat 36)

Berjalanlah di muka bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan orang yang mendustakan

Ada dua kata perintah yang sangat kuat dalam ayat ini: Berjalanlah… فَسِيْرُوْا (fasīrū) dan yang kedua Perhatikanlah…فَانْظُرُوْا (fanzhurū)

Artinya, perjalanan yang Allah kehendaki bukan hanya perjalanan kaki, kendaraan, atau perjalanan wisata. Berjalanlah dengan mata yang melihat dan hati yang mengambil pelajaran.

Kita bisa mengunjungi tempat-tempat yang pernah menjadi saksi perjalanan umat manusia. Ada peninggalan kaum terdahulu pada zaman para rasul. Ada bekas kerajaan-kerajaan besar. Ada kota-kota yang dahulu megah, tetapi akhirnya runtuh. Ada pula peninggalan orang-orang yang pernah memiliki kekuasaan luar biasa, namun kekuasaan itu tidak mampu menyelamatkan mereka dari kehancuran.

Dahulu mungkin ada manusia yang merasa dirinya kuat.

Memiliki harta, memiliki kekuasaan, memiliki pengikut, memiliki bangunan yang megah dan bahkan merasa mampu menentukan nasib orang lain. Tetapi hari ini, yang tersisa mungkin hanya reruntuhan, makam, batu, prasasti, atau cerita sejarah.

Mereka pernah hidup seperti kita, mereka pernah memiliki keluarga, mereka pernah memiliki rencana untuk masa depan, mereka mungkin pernah merasa dunia ini akan terus berada di tangan mereka. Tetapi ternyata kekuasaan manusia ada batasnya.

Karena itu Allah tidak hanya berkata, “berjalanlah di muka bumi.” Allah melanjutkan dengan “perhatikanlah bagaimana kesudahannya.”

Inilah yang membuat perjalanan menjadi tadabbur. Kita tidak hanya bertanya: “Siapa yang pernah tinggal di tempat ini?”

Tetapi juga: “Mengapa mereka berakhir seperti itu?”

Bukan hanya: “Seberapa besar kerajaan mereka?”

Tetapi: “Apa yang mereka lakukan dengan kekuasaan yang Allah berikan?”

Bukan hanya: “Mengapa bangunan semegah ini akhirnya menjadi reruntuhan?”

Tetapi: “Apa yang dapat saya pelajari agar hidup saya tidak berakhir dengan penyesalan yang sama?”

An-Nahl ayat 36 memang berbicara tentang orang-orang yang mendustakan para rasul. Jadi, jangan sampai ayat ini kita perluas secara sembarangan seolah-olah setiap orang yang hidupnya berakhir buruk pasti merupakan orang yang dimaksud ayat tersebut. Penilaian akhir seseorang adalah hak Allah. Tetapi kita boleh menjadikan sejarah sebagai peringatan bagi diri sendiri.

Ketika melihat kehancuran orang zalim, kita belajar bahwa kezaliman bukan jalan menuju keselamatan. Ketika melihat runtuhnya kekuasaan yang dahulu begitu besar, kita belajar bahwa jabatan bukan milik kita selamanya.

Ketika melihat peninggalan manusia yang dahulu begitu sombong, kita belajar bahwa sehebat apa pun manusia, pada akhirnya ia akan meninggalkan dunia.

Dan ketika melihat orang yang hidupnya sederhana tetapi meninggal dalam kebaikan dan dikenang dengan kasih sayang, kita belajar bahwa ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa besar dunia yang berhasil kita kuasai, tetapi bagaimana kita mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Allah.

Maka, berjalanlah di muka bumi.

Kunjungi tempat-tempat bersejarah. Pelajari peninggalan umat terdahulu. Lihat bekas kejayaan dan kehancuran manusia. Tetapi jangan hanya membawa pulang foto dan kenangan.

Bawalah pulang pelajaran.

Sebab bisa jadi, ketika kita berdiri di hadapan reruntuhan sebuah kerajaan, sebenarnya Allah sedang mengingatkan kita: “Jangan merasa terlalu kuat.”

Ketika melihat makam manusia yang dahulu berkuasa: “Jangan terlalu mencintai dunia.”

Ketika melihat kehancuran akibat kezaliman: “Jangan pernah menzalimi orang lain.”

Dan ketika melihat bahwa semua manusia akhirnya meninggalkan dunia: “Persiapkanlah kesudahanmu.”

Berjalanlah di muka bumi bukan sekadar untuk melihat dunia, tetapi untuk membaca pesan Allah melalui sejarah manusia. Lihatlah bagaimana kejayaan bisa berakhir, kekuasaan bisa runtuh, kezaliman bisa membawa kehancuran, dan manusia yang dahulu merasa kuat akhirnya kembali menjadi tanah.

Jangan hanya bertanya, “Apa yang terjadi kepada mereka?” Tetapi bertanyalah, “Apa yang harus saya perbaiki dalam diri saya sebelum tiba kesudahan saya?”

Karena perjalanan yang paling berharga bukanlah perjalanan yang membuat kita semakin banyak melihat, tetapi perjalanan yang membuat kita semakin banyak belajar dan semakin dekat kepada Allah.

اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَعْتَبِرُونَ بِمَا جَرَى لِلْأَوَّلِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ.

Allahumma arinal-haqqa haqqan warzuqnat-tiba’ah, wa arinal-bathila bathilan warzuqnajtinabah, waj’alna minalladzina ya’tabiruna bima jara lil-awwalin, wa la taj’alna minal-ghafilin.

“Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kepada kami kekuatan untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kepada kami kekuatan untuk menjauhinya. Jadikanlah kami orang-orang yang mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi pada umat-umat terdahulu, dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai.”