Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَ اَقْسَمُوْا بِا للّٰهِ جَهْدَ اَيْمَا نِهِمْ ۙ لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُ ۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ ۙ
“Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati. Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 38)
Ketika Kematian Bukan Akhir: Jangan Menyangkal Hari Kebangkitan
Ayat ini berbicara tentang sebuah keyakinan yang sangat mendasar: apakah kehidupan berakhir ketika manusia meninggal dunia?
Orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya. Karena itu, tidak ada lagi kehidupan setelah kematian, tidak ada kebangkitan, dan tidak ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Padahal Allah dengan tegas membantahnya: “Bahkan, itu adalah janji yang benar dari-Nya.”
Kematian bukan akhir. Setelah kematian ada kebangkitan. Setelah kebangkitan ada kehidupan akhirat. Dan setelah itu manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya selama hidup di dunia.
Mengapa manusia tidak mau beribadah?
Salah satu sebab manusia enggan beribadah adalah karena hari kebangkitan dianggap sesuatu yang tidak terlihat dan belum dialami.
Manusia melihat kelahiran, pertumbuhan, kesenangan, harta, jabatan, dan kematian. Tetapi manusia belum melihat dengan mata kepalanya bagaimana kehidupan setelah kematian.
Di sinilah letak persoalannya.
Hari kebangkitan adalah perkara ghaib. Karena itu, untuk meyakininya diperlukan iman kepada perkara ghaib. Allah mengawali ciri orang-orang bertakwa dalam Al-Baqarah ayat 3:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah 2:3)
Perhatikan urutannya.
Beriman kepada yang ghaib → melaksanakan salat → menginfakkan rezeki.
Seolah-olah Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa iman kepada yang ghaib menjadi fondasi lahirnya ketaatan. Kalau seseorang benar-benar yakin bahwa setelah kematian ada kehidupan, ada kebangkitan, ada hisab, ada surga dan neraka, maka kehidupan dunia tidak akan dijalani dengan sembarangan.
Ia akan berpikir: “Apa yang saya lakukan hari ini akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah.”
Maka salat menjadi penting. Kejujuran menjadi penting. Menjaga amanah menjadi penting. Berbuat baik kepada orang lain menjadi penting. Menjauhi dosa menjadi penting.
Sebaliknya, ketika seseorang tidak yakin akan adanya kehidupan setelah kematian, kehidupan dunia mudah dianggap sebagai satu-satunya kesempatan untuk menikmati segala sesuatu.
Akibatnya, orientasinya bisa berubah: yang penting senang sekarang, yang penting berhasil sekarang, yang penting kaya sekarang, yang penting menikmati hidup sekarang.
Padahal dunia hanya sementara.
Iman kepada yang ghaib mengubah cara kita menjalani kehidupan. Inilah pelajaran penting dari hubungan Al-Baqarah ayat 3 dengan An-Nahl ayat 38.
Orang yang beriman kepada yang ghaib tidak hidup hanya berdasarkan apa yang dapat dilihat oleh matanya. Ia percaya kepada apa yang Allah janjikan meskipun belum melihatnya.
Bukan karena kita telah melihatnya, melainkan karena kita percaya kepada Allah yang menyampaikannya melalui wahyu-Nya.(Inilah iman)
Kematian bukan akhir
An-Nahl ayat 38 mengingatkan kita agar jangan terjebak pada pandangan bahwa kematian adalah akhir dari perjalanan manusia.
Kematian hanyalah perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan berikutnya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan: “Kapan saya mati?”
Tetapi: “Apa yang sudah saya persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?”
Selama masih hidup, pintu amal masih terbuka. Masih ada kesempatan untuk salat dengan lebih baik, memperbaiki akhlak, meminta maaf, memaafkan, bersedekah, membantu orang lain, dan memperbanyak amal saleh.
Tetapi ketika kematian datang, kesempatan itu berakhir. Maka jangan sampai kita baru percaya kepada hari kebangkitan ketika kita sudah dibangkitkan.
Berimanlah sekarang, sebelum kita melihatnya nanti. Hari kebangkitan memang perkara ghaib, tetapi janji Allah tentangnya adalah nyata.
Kita hidup di dunia untuk mempersiapkan kehidupan yang tidak berakhir.
Kita hidup di dunia bukan untuk tinggal selamanya. Dunia adalah tempat menyiapkan bekal, kematian adalah pintu menuju kehidupan berikutnya, dan hari kebangkitan adalah saat kita mempertanggungjawabkan bekal yang telah kita siapkan.
Doa dimudahkan mengumpulkan bekal sebelum kematian, dan dimudahkan melewati hari kebangkitan serta memperoleh keselamatan di akhirat.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْعَمَلِ، وَاجْعَلْ أَيَّامَنَا فِي الدُّنْيَا زَادًا لَنَا لِلْآخِرَةِ، وَتَوَفَّنَا وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا.
اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَكَرَاتِ الْمَوْتِ، وَثَبِّتْنَا عِنْدَ الْمَوْتِ، وَثَبِّتْنَا يَوْمَ نَبْعَثُ وَنُحْشَرُ، وَيَسِّرْ لَنَا الْحِسَابَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْآمِنِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاجْعَلْ مَصِيرَنَا إِلَى الْجَنَّةِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Allahumma a‘innā ‘alā thā‘atika, warzuqnā husnal-‘amal, waj‘al ayyāmanā fid-dunyā zādan lanā lil-ākhirah, wa tawaffanā wa anta rādhun ‘annā.
Allahumma hawwin ‘alainā sakarātil-maut, wa tsabbitnā ‘indal-maut, wa tsabbitnā yauma nub‘atsu wa nuhsyar, wa yassir lanal-hisāb, waj‘alnā minal-āminīna yaumal-qiyāmah, waj‘al mashīranā ilal-jannah birahmatika yā arhamar-rāhimīn.
“Ya Allah, bantulah kami untuk taat kepada-Mu, karuniakanlah kepada kami amal yang baik, jadikanlah hari-hari kami di dunia sebagai bekal menuju akhirat, dan wafatkanlah kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Ya Allah, ringankanlah bagi kami sakaratul maut, teguhkanlah kami ketika menghadapi kematian, dan teguhkanlah kami pada hari ketika kami dibangkitkan dan dikumpulkan. Mudahkanlah hisab kami, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memperoleh keamanan pada hari Kiamat, dan jadikanlah tempat kembali kami adalah surga dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang.”