Dua Maqam dalam Mengobati Sifat Riya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَا لَّذِيْنَ  يُنْفِقُوْنَ  اَمْوَا لَهُمْ  رِئَآءَ  النَّا سِ  وَلَا  يُؤْمِنُوْنَ  بِا للّٰهِ  وَلَا  بِا لْيَوْمِ  الْاٰ خِرِ   ۗ وَمَنْ  يَّكُنِ  الشَّيْطٰنُ  لَهٗ  قَرِ يْنًا  فَسَآءَ  قَرِ يْنًا

“Dan (juga) orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji), dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, maka (ketahuilah) dia (setan itu) adalah teman yang sangat jahat.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 38).

…azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ 4: 37)

  • menginfakkan hartanya karena riya kepada orang lain (ingin dilihat dan dipuji),
  • tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian.
  • setan sebagai temannya,

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nisa Ayat 38

Dan termasuk ke dalam orang-orag yang sombong dan membanggakan diri itu adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya karena ria kepada orang lain agar dilihat dan dipuji, dan juga orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak beriman kepada hari kemudian. Barang siapa menjadikan setan sebagai temannya, karena sombong dan membanggakan diri itu adalah sifat setan, maka ketahuilah bahwa dia, setan itu, adalah teman yang sangat jahat bagi manusia sebenarnya beriman kepada Allah dan hari kemudian serta menginfakkan sebagian dari karunia yang diberikan oleh Allah yang sangat banyak itu, tidaklah berat.

Di antara penyakit hati yang kerap menghinggapi manusia adalah sifat riya. Dampaknya orang yang riya selalu berharap pujian dan sanjungan dari orang lain dalam setiap perbuatan kebaikan yang dilakukannya. Amal ibadah yang dikerjakannya tidak dasari keikhlasan dan mengharap ridha Allah SWT.

Tetapi sebatas agar dirinya semakin dihormati dan disanjung makhluk. Banyak hadits yang meriwayatkan tentang konsekuensi orang-orang yang riya dalam beramal. Salah satunya adalah bahwa sifat riya menghancurkan pahala amal kebaikan yang dilakukan.
Sifat riya mengganggu dan menghalangi hamba dekat dengan Allah SWT. Seorang hamba yang sepanjang hidupnya terjangkit sifat riya maka tidak akan mencium harumnya surga.

Bermusabahah diri dan mendeteksi ada atau tidaknya sifat riya pada diri masing-masing. Maka setelah menyadari adanya sifat riya dalam diri, agar sesegera mungkin mengobatinya.
Mengobati penyakit riya diperlukan mujahadah.

Yakni perjuangan atau kesungguhan batin secara maksimal untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bentuk mujahadah antara lain adalah riyadhah yaitu melatih rohani (spiritual exercises) dengan memperbanyak wirid setiap hari terutama setelah melaksanakan shalat lima waktu.

Yaitu dengan membaca tasbih, tahmid, takbir dan tahlil dan lainnya. Selain itu riyadhoh juga dilakukan dengan meningkatkan ibadah sholat sunnah serta bermunajat mengharapkan keridhaan Allah dan agar semakin dekat dengan Allah (taqarrub ilallah).

Ada dua maqam dalam mengobati sifat riya.

Maqam pertama dengan mencabut akar-akar riya yang menjadi dasar tumbuh kembangnya ranting-ranting penyakit riya. Jadi mencabut akar-akar riya, jangan menanam bibit riya. Apa contohnya menanam bibit riya? Melakukan kebaikan di hadapan orang banyak. Memperkenalkan kebaikannya di depan publik. Menanam akar-akar riya pasti nanti akan panen riya,”

Maka dari itu ketika ada orang yang mengetahui amal kebaikan yg dikerjakan dan melontarkan pujian, agar bersegera menyandarkan diri kepada Allah SWT.

Memohon ampun dan perlindungan kepada Allah SWT dari buruknya sifat riya. Serta menyadari bahwa segala keberhasilan dalam melakukan amal adalah karena izin Allah SWT.
Harus lebih mengintrospeksi diri ketika banyak orang berterima kasih dan menyampaikan pujian atas kebaikan yang dilakukannya. Sebab khawatir tengah menanam bibit riya dalam diri.
Membiasakan beramal dengan tidak diketahui oleh orang lain akan menyelamatkan seseorang dari riya dan akan memanen kebaikan tersebut di akhirat.

Sedangkan orang yang berharap dirinya dikenal karena amal kebaikan yang dikerjakannya di dunia, maka tidak akan mendapatkan balasan apapun di akhirat.

Semua amal kebaikan yang pernah dilakukan orang tersebut ketika di dunia akan hilang ketika dirinya terbuai oleh banyak pujian orang lain yang datang padanya.

Maqam kedua dalam mengobati sifat riya adalah menolak hal yang timbul dari riya pada saat melaksanakan ibadah.

Melakukan kebajikan dan tidak mendapatkan apresiasi dan ucapan terimakasih dari orang lain sejatinya kebajikan yang dikerjakannya merupakan amal yang paling baik.

Sebab itu setiap hamba semestinya dalam melakukan kebajikan tidak mengharap ucapan terima kasih atau penghargaan lainnya.

Semoga amal ibadah yang kita lakukan hanya semata mata ingin mendapatkan ridho dari Allah SWT