Allah tidak Menyukai Makhluk yang Sombong dan Membanggakan Diri

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

ٱلَّذِيْنَ  يَـبْخَلُوْنَ  وَيَأْمُرُوْنَ  النَّا سَ  بِا لْبُخْلِ  وَيَكْتُمُوْنَ  مَاۤ  اٰتٰٮهُمُ  اللّٰهُ  مِنْ  فَضْلِهٖ   ۗ وَ  اَعْتَدْنَا  لِلْكٰفِرِ يْنَ  عَذَا بًا  مُّهِيْنًا

“(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 37)

Tadabur Qur’an ; memaknai ayat ayat Quran dengan melihat ayat sebelumnya, sesudahnya atau ayat yang berdekatan, untuk memaknai An Nisa 37 dengan cara melihat ayat 36,

Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36)…(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 37).

Orang -orang yang kikir yang menolak memberikan pertolongan kepada mereka yang menderita disebut sebagai orang kafir, yakni orang yang tertutup hatinya atas nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.
Orang yang tertutup hatinya, tidak akan mengikuti perintah Allah SWT dan tidak akan menjauhi atau menghindar larangan dari Allah SWT.

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir.(QS Al Baqarah, 34).

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَٰٓئِكَةِ ٱسْجُدُوا۟ لِءَادَمَ فَسَجَدُوٓا۟ إِلَّآ إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَٱسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ ٱلْكَٰفِرِينَ

Pada ayat lain disebutkan :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ الْعَالِينَ ﴿٧٥﴾

قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ (٧٦)

Allah berfirman: “Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.
(QS Shad, 75-76).

Allah menyebut Iblis sebagai kafir, bukan karena dia tidak percaya kepada Allah, tetapi karena dia menolak perintah Allah agar menghormat Adam dan dia merasa diri lebih baik dan lebih hebat daripada Adam. Dia sombong.

Jadi makhluk Allah yang “takabbur”, sombong, disamakan dan disebut kafir, sebagaimana Iblis.

QS An Nisa 37; mengatakan bahwa orang-orang yang kikir yang menolak memberikan pertolongan kepada mereka yang menderita sebagai orang kafir, yakni orang yang tertutup hatinya atas nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya.

Mufassir besar Ibnu Katsir mengatakan mengenai ayat ini : “kata “al-Kufr” berarti tutup. Maka “Al-Bakhil”, orang yang kikir berarti orang yang kafir (yang menutup) menyembunyikan dan menolak nikmat Allah kepadanya. Maka Allah menyediakan baginya siksa yang menghinakan”.

Sementara Syeikh Sa’di dalam tafsirnya : “Taisir al-Karim” mengatakan : Orang kikir yang tidak mau memberi nikmat kepada orang lain sama dengan orang yang sombong. Dia mengingkari, menutupi atau kafir atas nikmat Allah. Karunia nikmat yang Allah berikan tidak mau berbagi kepada yang lain. Terhadapnya Allah menyediakan hukuman berat yang menghinakan.

Al Quran sebagian berisi perintah dan larangan…

Tinggalkan larangan, kerjakan perintah semampunya
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ.

“Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya apa yang membinasakan umat sebelum kalian hanyalah karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka” (HR. Bukhâri dan Muslim).

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita untuk selalu menambah ilmu agama yang mulia ini, sehingga darinya kita mengetahui perkara-perkara perintah dan larangan Allah. Mudah-mudahan dengannya pula kita dapat membedakan dengan jelas mana yang Allah halalkan dan haramkan, sehingga semakin mendekatkan diri kita kepada keridaan Allah Ta’ala. Aamiin.