Usaha Tanpa Iman Tidak Akan Menyelamatkan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَمَاۤ  اَغْنٰى  عَنْهُمْ  مَّا  كَا نُوْا  يَكْسِبُوْنَ ۗ

“sehingga tidak berguna bagi mereka, apa yang telah mereka usahakan.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 84)

مَاۤ  اَغْنٰى  عَنْهُ  مَا لُهٗ  وَمَا  كَسَبَ ۗ

“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.” (QS. Al-Lahab 111: Ayat 2).

Usaha Tanpa Iman Tidak Akan Menyelamatkan

Dalam tafsir ringkas Kemenag (QS. Al-Hijr 15: Ayat 84) menjelaskan bahwa azab itu datang dengan begitu dahsyat, sehingga tidak berguna lagi bagi mereka apa yang telah mereka usahakan. Mereka mengira bahwa rumah-rumah yang mereka pahat pada sisi tebing gunung yang kukuh itu akan menyelamatkan mereka, namun ternyata semua itu tidak mampu melindungi mereka dari azab Allah.”

Sedangkan tafsir Rmringkas Kemenag QS Al Lahab ayat 2) menjelaskan Ketika azab Allah menimpanya maka tidaklah berguna baginya hartanya yang dia kumpulkan dan banggakan, dan tidak pula bermanfaat apa yang dia usahakan seperti jabatan dan keturunan untuk menyelamatkan dirinya dari azab itu. Hanya iman dan amal saleh yang dapat menyelamatkan seseorang dari murka Allah.

Pesan utama dari dua ayat tersebut sama: segala sesuatu yang diusahakan manusia tidak akan berguna jika tidak mendapatkan ridha Allah dan tidak disertai iman serta amal saleh.

Persamaan makna Al-Hijr ayat 84 dan Al-Lahab ayat 2

QS. Al-Hijr: 84

“Sehingga tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka usahakan.”

Yang dimaksud “apa yang mereka usahakan” dalam konteks kaum Tsamud antara lain:

  • Rumah-rumah megah yang dipahat di gunung,
  • Kekuatan teknologi pada zamannya,
  • Kekayaan,
  • Kemampuan membangun peradaban,
  • Seluruh hasil kerja keras mereka.

Ketika azab Allah datang, semuanya tidak dapat menyelamatkan mereka.

QS. Al-Lahab: 2

“Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan.”

Pada Abu Lahab, yang tidak berguna adalah:

  • Hartanya,
  • Kedudukannya sebagai pembesar Quraisy,
  • Pengaruhnya,
  • Usaha dan jerih payahnya,
  • Bahkan keluarganya.

Semuanya tidak mampu menghindarkannya dari azab Allah.

Apa pelajaran untuk kita?

Kedua ayat ini mengingatkan bahwa nilai suatu usaha bukan hanya diukur dari keberhasilan di dunia, tetapi juga dari nilainya di sisi Allah. Seseorang bisa:

  • Membangun perusahaan,
    Menjadi profesor,
  • Menjadi pejabat,engumpulkan kekayaan,
    Memiliki banyak aset,
    Memiliki anak-anak yang sukses,

namun bila semua itu menjauhkan dirinya dari Allah, maka pada Hari Kiamat semua itu tidak mampu menjadi penebus.

Sebaliknya, usaha yang diniatkan karena Allah akan menjadi pahala yang terus mengalir.

Apakah ini berlaku untuk kita?

Sangat berlaku.

Al-Qur’an berulang kali mengingatkan bahwa dunia hanyalah sarana, bukan tujuan.

Karena itu kita perlu terus bertanya kepada diri sendiri:

  • Apakah pekerjaan saya mendekatkan saya kepada Allah?
  • Apakah harta yang saya kumpulkan diperoleh dengan cara yang halal?
  • Apakah harta itu digunakan untuk keluarga, sedekah, dakwah, pendidikan, dan kemaslahatan umat?
  • Apakah jabatan saya menjadi amanah atau justru menjadi sebab kesombongan?
  • Apakah ilmu yang saya miliki diamalkan dan diajarkan?

Jika jawabannya “ya”, maka usaha itu bukan sia-sia. Justru menjadi bekal menuju akhirat.

Kapan usaha menjadi sia-sia?

Usaha menjadi sia-sia apabila:

  • Tidak dilandasi iman,
  • Bertujuan hanya untuk kebanggaan dunia,
  • Melahirkan kesombongan,
  • Diperoleh dengan cara yang haram,
  • Tidak menghasilkan amal saleh,
  • Tidak membawa seseorang semakin taat kepada Allah.

Allah juga berfirman: “Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia… Tetapi di akhirat mereka tidak memperoleh selain neraka.” (QS. Hud: 15–16)

Artinya, seseorang bisa memperoleh keberhasilan dunia, tetapi jika seluruh orientasinya berhenti di dunia, ia tidak memiliki bekal untuk akhirat.

Tadabbur yang dapat menjadi renungan

Jangan hanya sibuk mengumpulkan hasil usaha, tetapi pastikan setiap usaha berubah menjadi amal jariyah. Harta akan habis, jabatan akan berakhir, bangunan akan ditinggalkan, anak-anak akan hidup dengan jalannya sendiri. Yang menemani kita di alam kubur hanyalah iman dan amal saleh yang diterima Allah

Usaha yang kita lakukan harus menjadi jalan menuju ridha Allah. Jika demikian, insya Allah usaha itu tidak sia-sia, melainkan menjadi investasi akhirat yang pahalanya terus mengalir.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ أَعْمَالَنَا هَبَاءً مَنْثُورًا، وَاجْعَلْ كُلَّ سَعْيِنَا خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، وَارْزُقْنَا عَمَلًا صَالِحًا يَبْقَى أَجْرُهُ إِلَى يَوْمِ نَلْقَاكَ.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan amal dan usaha kami sia-sia. Jadikanlah setiap ikhtiar kami ikhlas karena wajah-Mu yang mulia, dan anugerahkanlah kepada kami amal saleh yang pahalanya terus mengalir hingga hari kami berjumpa dengan-Mu.”