Suara yang Mengguntur Mengakhiri Kesombongan Kaum Tsamud

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ خَذَتْهُمُ  الصَّيْحَةُ  مُصْبِحِيْنَ ۙ

“Kemudian mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada pagi hari,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 83).

Suara yang Mengguntur Mengakhiri Kesombongan Kaum Tsamud

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa keberpalingan mereka dari Allah dan kedurhakaan kepada-Nya kemudian membuat Allah murka. Mereka lalu dibinasakan oleh Allah pada hari keempat dari tenggat yang telah Nabi Saleh berikan kepada mereka untuk berpikir, dengan suatu azab berupa suara keras yang mengguntur pada pagi hari. Suara itu memicu gempa dahsyat yang membuat mereka terkubur dalam rumah-rumah mereka yang dipahat pada gunung-gunung batu itu

Nabi Shaleh A.S. tidak berada bersama kaumnya ketika azab itu turun.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa setelah kaum Tsamud membunuh unta mukjizat, Nabi Shaleh berkata kepada mereka: “Bersenang-senanglah kamu di rumahmu selama tiga hari. Itulah janji yang tidak dapat didustakan.”
(QS. Hud: 65)

Setelah menyampaikan peringatan itu, Nabi Shaleh a.s. bersama orang-orang yang beriman meninggalkan perkampungan kaum Tsamud atas perintah Allah. Karena itu, ketika azab berupa suara keras (ṣaiḥah), gempa yang dahsyat, dan petir menimpa mereka, Nabi Shaleh dan para pengikutnya sudah berada di tempat yang aman.

Allah berfirman: “Maka ketika datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami…” (QS. Hud: 66)

Adapun di mana tepatnya Nabi Shaleh berada, Al-Qur’an tidak menyebutkan lokasi secara rinci. Beberapa riwayat sejarah dan tafsir menyebutkan bahwa beliau bersama para pengikutnya menuju wilayah lain, bahkan ada riwayat yang mengatakan menuju Palestina atau Makkah. Namun, riwayat-riwayat tersebut tidak memiliki dalil yang pasti sehingga tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Yang dapat dipastikan berdasarkan Al-Qur’an adalah:

  • Nabi Shaleh telah memperingatkan kaumnya.
  • Beliau dan orang-orang beriman diselamatkan oleh Allah sebelum azab turun.
  • Azab hanya menimpa kaum yang tetap ingkar dan membangkang.

Pelajaran pentingnya adalah bahwa Allah tidak akan menzalimi hamba-Nya yang beriman. Sebelum azab diturunkan, Allah selalu memberikan peringatan dan menyelamatkan para rasul beserta orang-orang yang mengikuti mereka. Ini menjadi sunnatullah yang juga tampak pada kisah Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Musa, dan para rasul lainnya. Sebagaimana firman Allah:

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 103).

Pada zaman para rasul, terdapat sunnatullah yang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an: Allah menyelamatkan rasul dan orang-orang yang beriman terlebih dahulu, kemudian azab pemusnah diturunkan kepada kaum yang tetap mendustakan.

Setelah masa para rasul berakhir, para ulama menjelaskan bahwa azab pemusnah seperti yang menimpa umat-umat terdahulu tidak lagi menjadi sunnatullah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, dan Allah memberikan kesempatan yang lebih luas untuk bertobat.

Namun, bukan berarti tidak ada hukuman Allah. Yang terjadi sekarang bisa berupa:

  • Musibah,
  • Bencana alam,
  • Beperangan,
  • Wabah penyakit,
  • Krisis ekonomi,
  • Atau berbagai bentuk ujian dan peringatan.

Musibah seperti ini dapat menimpa orang saleh maupun orang yang durhaka. Orang beriman tidak selalu diselamatkan secara fisik dari bencana tersebut, tetapi mereka memperoleh perlindungan dalam bentuk lain, seperti pahala, pengampunan dosa, dan kemuliaan di sisi Allah.

Doa memohon perlindungan, bukan hanya keselamatan jasmani, tetapi juga keselamatan iman dan husnul khatimah.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِكَ وَغَضَبِكَ، وَاجْعَلْ كُلَّ بَلَاءٍ يُصِيبُنَا كَفَّارَةً لِذُنُوبِنَا، وَرَفْعًا لِدَرَجَاتِنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ حَتَّى نَلْقَاكَ.

“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Kami berlindung kepada-Mu dari azab dan murka-Mu. Jadikanlah setiap musibah yang menimpa kami sebagai penghapus dosa-dosa kami, pengangkat derajat kami, dan teguhkanlah kami di atas iman hingga kami berjumpa dengan-Mu.”