Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيْهِمْ نَا رًا ۗ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنٰهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَا بَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَزِ يْزًا حَكِيْمًا
“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 56).
Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat An-Nisa Ayat 56
Usai menjelaskan pembangkangan kaum yahudi, pada ayat ini Allah lalu menjelaskan adanya kaum selain yahudi yang juga durhaka. Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami, siapa pun mereka, kelak akan kami masukkan ke dalam neraka sebagai ganjaran atas kekafiran mereka. Setiap kali kulit mereka sudah terbakar hangus, kami ganti dengan kulit baru yang lain, agar mereka merasakan azab yang sangat pedih.
Kafir itu berlaku untuk semua (muslim dan nonmuslim) yang mengingkari ayat ayat Allah SWT
Istilah ‘kafir’ itu sama sekali tidak berkaitan dengan perbedaan agama.
Dalam bahasa Arab, kata ‘kafir’ berasal dari akar kata isim fail tsulasi mujarrod dari wazan (kata) ‘kafara-yakfuru-kufran’, yang artinya menutup. Dan orang yang menutup (isim fail), disebut dengan ‘kaafir’ (kaf, alif, fa, dan ra). Ini makna secara bahasa. Kata ‘kafara’ ini kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris dengan kata ‘cover’ yang artinya penutup.
Ada pun kata ‘kafir’ secara istilah, bisa kita perhatikan penyebutannya dalam Alquran. Ada banyak sekali Alquran menyebutkan kata ‘kafir’ ini. Kaafir, kaafirun, kufr, yakfuruun, maupun lainnya.
“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman [6].”
“Allah telah mengunci mati hati (qalb-qalb, quluubihim) dan pendengaran mereka, dan pengelihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat [7].”
“Innal ladziina kafaruu, sesungguhnya orang-orang kafir —yakni orang-orang yang menutup perkara yang hak dan menjegalnya— telah dipastikan hal tersebut oleh Allah akan dialami mereka. Yakni sama saja, kamu beri mereka peringatan atau tidak, mereka tetap tidak akan mau beriman kepada Alquran yang engkau datangkan kepada mereka.
Makna ayat ini semisal dengan ayat lain-nya, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat (azab) Tuhanmu tidaklah mereka akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. (QS. Yunus: 96-97).
Al-Baqarah ayt 7 “Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah “Allah mengunci mati.” Menurut Qatadah, ayat ini bermakna “setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup. Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya”. Jadi, makna dari kata ‘kafir’ pada ayat tersebut adalah menutup diri dalam menerima kebenaran.
“Dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir (Al-Kafiriin) dengan jelas.” “yaitu orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari ‘zikri’ (‘memerhatikan’) terhadap tanda-tanda kebesaran-Ku, dan adalah mereka tidak sanggup mendengar.”
Dari dua ayat Surah al-Kahfi ini, kita dapatkan definisi dari kata ‘kafir’. Bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kafir adalah mereka yang matanya tertutup dari ‘zikri’ terhadap tanda-tanda kebesaran Allah, dan telinganya tidak sanggup mendengar kebenaran sejati (al-Haqq).
Al-Kahfi tersebut 100 – 101 dan al-Hajj [22] ayat ke-46. “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah qalb-qalb mereka (quluubun) yang ada di dalam dada.”
‘kafir’ bukanlah orang yang berbeda agama, melainkan mereka yang mata (hati), telinga (hati) yang di dalam dadanya tidak berfungsi dalam melihat al-Haqq (kebenaran sejati). Ia melihat alam semesta, tetapi tidak bisa melihat kebesaran Allah pada alam semesta. Ia mendengar suara, tetapi ia tidak mendengar suara kebenaran sejati. Yang dimaksud dengan mata dan telinga disini adalah apa yang ada di dalam dada/jiwa (shudur, nafs), bukan liver atau jantung.
“Kafir” lebih manusiawi dibandingkan nonmuslim, kafir tertutup, tapi akhirnya tidak tahu, kalau mendapat hidayah bisa jadi husnul khotimah, kalau nonmuslim artinya “tidak selamat”.
Doa keteguhan hati dalam beriman
“Ya muqallibal quluub tsabbit qalbi ‘alaa diinik”
“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.’