Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ بِهٖ وَمِنْهُمْ مَّنْ صَدَّ عَنْهُ ۗ وَكَفٰى بِجَهَـنَّمَ سَعِيْرًا
“Maka di antara mereka (yang dengki itu), ada yang beriman kepadanya dan ada pula yang menghalangi (manusia beriman) kepadanya. Cukuplah (bagi mereka) neraka Jahanam yang menyala-nyala apinya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 55)
Menghalangi manusia untuk beriman kepada Allah SWT
Meskipun semua orang Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad adalah benar-benar Utusan Allah, akan tetapi rupanya kedengkian telah menghalangi mereka untuk beriman kepada beliau dan mengunci mati hati mereka. Sedemikian jelas dan terperincinya pengetahuan yang mereka miliki tentang Rasulullah, sampai-sampai dapat dikatakan bahwa pengetahuan mereka itu cukup dapat membuat mereka beriman kepada Rasulullah walau dengan sekali melihat saja. Hal itu dapat terjadi karena mereka benar-benar mengetahui semua ciri, karakter, dan sifat sang nabi yang dijanjikan dalam taurat.
Al-Qur`an menyatakan fakta ini dalam sebuah ayat yang berbunyi: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 146).
Di dalam ayat ini, Allah sengaja tidak menyebutkan nama sang nabi yang dijanjikan dan hanya menggunakan kata ganti (dhamîr) orang ketiga ‘ـه’ untuk menyatakan bahwa semua Ahlul Kitab telah mengetahui dengan baik sang Nabi Penutup. Itulah sebabnya, ketika Allah menyebut sosok sang nabi dengan kata ganti orang ketiga, kalangan Ahlul Kitab langsung mengetahui bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah sang nabi yang namanya telah disebutkan di dalam Taurat dan Injil sebagai Ahmad atau Muhammad Saw. yang telah mereka kenal melebihi anak-anak mereka sendiri.
Diriwayatkan dari Umar ibn Khaththab ra., suatu ketika dia bertanya kepada Abdullah ibn Salam: “Apakah kau mengenal Muhammad seperti kau mengenal anakmu?”
Abdullah ibn Salam menjawab: “Ya, bahkan aku jauh lebih mengenal beliau. Sang Terpercaya turun dari langit menemui sang Terpercaya di bumi dengan penjelasan tentang sifat beliau sehingga akupun mengenal beliau. Sedangkan anakku, aku tak tahu apakah ia benar-benar dari ibunya.
Abdullah ibn Salam, seorang Yahudi yang masuk.
Para Ahlul Kitab memang telah mengenal Rasulullah dengan baik. Akan tetapi keimanan dan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda. Mereka mengenal Rasulullah dengan baik tapi tak mau beriman kepada beliau. Rupanya kecemburuan dan rasa dengki telah menjadi dinding pemisah yang menghalangi mereka untuk beriman kepada beliau.
Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur`an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS al-Baqarah [2]: 89).
Ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang penyebab keengganan Ahlul Kitab untuk beriman kepada Rasulullah Saw. Ternyata semuanya bermuara pada bahwasannya sang Nabi Penutup bukan berasal dari kalangan Yahudi. Seandainya saja Rasulullah muncul dari kalangan Yahudi, pasti akan lain ceritanya.
Salah satu bukti asumsi ini adalah pernyataan Abdullah ibn Salam ra. sesaat setelah memeluk Islam. Dia berkata kepada Rasulullah Saw.: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Yahudi adalah orang-orang yang paling pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum kau bertanya kepada mereka, mereka pasti akan menuduhku dengan hal yang buruk.”
Sekarang Yahudi sudah mulai menyebar kemana mana termasuk Indonesia…
Semoga keimanan kita tidak terpengaruh dengan keberadaan Yahudi dan keimanan kita semakin bertambah dan merasakan manisnya iman.