Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَّلَا عَلَى الَّذِيْنَ اِذَا مَاۤ اَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَاۤ اَجِدُ مَاۤ اَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ ۖ تَوَلَّوْا وَّاَعْيُنُهُمْ تَفِيْضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا اَ لَّا يَجِدُوْا مَا يُنْفِقُوْنَ
“dan tidak ada (pula dosa) atas orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad), agar engkau memberi kendaraan kepada mereka, lalu engkau berkata, Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu, lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan (untuk ikut berperang).” (QS. At-Taubah 9: 92)
Menangis, tidak bisa ikut berperang bersama Rasulullah SAW
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sabab Nuzul: Di dalam sebuah riwayat yang diterangkan oleh Ibnu Jarir ath -thabari dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata, “Rasulullah memerintahkan agar orang-orang mukmin bersiap untuk pergi berperang. Maka segolongan dari para sahabatnya yang bernama ‘Abdullah bin Saffal al-Muzani berkata, “Ya Rasulullah, sediakanlah untuk kami kendaraan (kami miskin tidak mempunyai kendaraan).” Rasulullah menjawab, “Demi Allah, aku tidak sanggup menyediakan kendaraan yang akan membawa saudara-saudara ke medan perang.”
Maka turunlah ayat ini, lalu mereka semuanya menangis, karena tidak dapat ikut berperang, karena kendaraan dan alat perlengkapan perang sangat penting apabila medan perang letaknya sangat jauh.” Kendaraan itu merupakan perlengkapan perang yang sangat penting untuk setiap masa. Apabila pada masa dahulu kendaraan yang diperlukan hanya unta, keledai dan kuda, maka pada masa-masa berikutnya manusia menciptakan kendaraan yang berkecepatan tinggi yang dapat dipergunakan untuk lalu lintas darat, laut dan udara.
Dengan turunnya ayat ini terhiburlah hati mereka yang datang menghadap Rasulullah itu, tetapi air mata mereka bercucuran menangis karena tidak dapat ikut berperang bersama Rasulullah karena mereka dalam keadaan miskin, tidak mempunyai kendaraan. Kalau tempat berperang tidak begitu jauh maulah rasanya mereka berjalan kaki saja, karena keinginan mereka berjihad dan mencari keridaan Allah. Begitulah semangat dan ruh Islam yang berkobar dalam dada setiap muslim yang tidak akan padam buat selama-lamanya. Dengan semangat seperti itulah Islam bisa tegak dan maju dan kalimah Allah akan menjulang tinggi di bumi ini.
Dalam ayat ini diterangkan alasan yang lain yang dibenarkan syara bagi seseorang yang tidak ikut berperang. Alasan tersebut ialah karena mereka tidak mempunyai kendaraan yang dapat mengangkut mereka ke medan perang, apalagi kalau tempat yang dituju itu jauh letaknya, yang tidak bisa dicapai dengan jalan kaki, seperti halnya Perang Tabuk yang sangat jauh yang dapat ditempuh hanya dengan mengarungi padang pasir, berhari-hari dan berminggu-minggu, baru sampai di tempat yang dituju. Maka kepada mereka yang tidak mempunyai kendaraan, dibolehkan tidak ikut, mereka ini terhitung tidak besalah dan tidak berdosa bila tinggal di rumahnya.
Kelompok yang menangis karena tidak memiliki kendaraan untuk pergi berjihad bersama Rasulullah SAW dalam Perang Tabuk. Mereka sangat ingin ikut berperang, tetapi karena keterbatasan ekonomi, mereka tidak mampu mendapatkan perbekalan atau kendaraan untuk berangkatvperang.
Kelompok Manakah Mereka?
Mereka termasuk dalam kelompok Mukmin Mujahid, yaitu orang-orang beriman yang memiliki niat kuat untuk berjihad di jalan Allah, tetapi terhalang oleh keterbatasan mereka. Perbedaannya dengan para Mujahidin yang ikut berperang adalah mereka tidak mampu secara materi, tetapi hati mereka tetap penuh semangat jihad.
Ciri-ciri kelompok ini:
Kelompok ini sangat dihargai oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat yang berangkat ke Perang Tabuk: “Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok orang yang tidak bisa ikut bersama kalian, tetapi mereka mendapatkan pahala seperti kalian. Mereka tertahan oleh uzur (halangan yang syar’i).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, meskipun mereka tidak berangkat ke medan perang, niat tulus mereka sudah cukup untuk mendapatkan pahala jihad.
Niat dan keinginan yang baik bernilai pahala disisi Allah…
Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk selalu memiliki niat dan keinginan yang baik, serta menjadikannya sebagai amal yang bernilai pahala di sisi-Nya. Ya Allah, tanamkan dalam hati kami keikhlasan dalam setiap niat dan perbuatan, serta berilah kami kemampuan untuk mewujudkan kebaikan di dunia dan akhirat. Aamiin.