أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يَعْتَذِرُوْنَ اِلَيْكُمْ اِذَا رَجَعْتُمْ اِلَيْهِمْ ۗ قُلْ لَّا تَعْتَذِرُوْا لَنْ نُّـؤْمِنَ لَـكُمْ قَدْ نَـبَّاَنَا اللّٰهُ مِنْ اَخْبَا رِكُمْ ۗ وَ سَيَرَ ى اللّٰهُ عَمَلَـكُمْ وَرَسُوْلُهٗ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Mereka (orang-orang munafik yang tidak ikut berperang) akan mengemukakan alasannya kepadamu ketika kamu telah kembali kepada mereka. Katakanlah (Muhammad), Janganlah kamu mengemukakan alasan; kami tidak percaya lagi kepadamu, sungguh, Allah telah memberitahukan kepada kami tentang beritamu. Dan Allah akan melihat pekerjaanmu, (demikian pula) Rasul-Nya, kemudian kamu dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. At-Taubah 9: Ayat 94)
Munafikun, mencari muka dan meminta maaf atas ketidakhadiran mereka di medan perang.
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini disebutkan hal-hal yang akan dihadapi Nabi dan kaum Muslimin setelah kembali dari Perang Tabuk, yaitu bahwa orang-orang munafik yang tidak ikut dalam peperangan tanpa alasan pasti akan datang menemui Rasulullah dan kaum Muslimin untuk meminta maaf atas ketidakhadiran mereka di medan perang. Maka Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar beliau mengatakan kepada orang-orang munafik itu bahwa mereka tidak perlu meminta maaf, karena Rasulullah dan kaum Muslimin tidak akan mempercayai alasan-alasan palsu yang mereka kemukakan, sebab Allah telah memberitahukan kepada Rasul-Nya dan kaum Muslimin semua hal ikhwal dan sifat-sifat jelek kaum munafik itu.
Allah dan Rasul-Nya hanya memperhatikan sikap dan tingkah laku mereka selanjutnya, apakah mereka benar-benar sudah insyaf dan meninggalkan kekufuran mereka serta kembali kepada iman dan taat kepada Allah, ataukah mereka akan tetap dalam kekufuran itu. Kemudian mereka akan dikembalikan kepada Zat Yang Maha Mengetahui semua hal-hal yang gaib dan yang nyata, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka segala apa yang telah mereka perbuat sewaktu hidup di dunia.
Dengan perkataan lain, tidak ada gunanya lagi bagi mereka mengemukakan bermacam-macam alasan atas ketidakhadiran mereka di medan perang, sebab semua rahasia yang tersimpan dalam hati mereka sudah cukup diketahui oleh Rasulullah dan kaum Muslimin melalui wahyu Allah. Selanjutnya terserah kepada mereka sendiri. Jika benar-benar mereka telah menyadari kesalahan, lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan menerima tobat mereka, maka Rasulullah pun akan memberi maaf kepada mereka.
Sifat kemunafikan seperti yang disebutkan dalam QS. At-Taubah: 94 masih bisa ditemukan di zaman sekarang. Dalam ayat tersebut, Allah menggambarkan bagaimana kaum munafik berusaha mencari alasan dan meminta maaf atas ketidakhadiran mereka di medan perang, padahal sebenarnya mereka hanya ingin menghindari tanggung jawab dan tetap dalam zona nyaman mereka.
Kemunafikan tidak hanya terbatas pada masa Rasulullah ﷺ tetapi bisa terjadi di setiap zaman. Ciri-ciri orang munafik yang disebut dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti berbohong, mengingkari janji, berkhianat, dan mencari muka, masih relevan hingga kini. Dalam kehidupan modern, sifat ini bisa terlihat dalam berbagai aspek, seperti:
- Dalam politik dan pemerintahan; Orang yang menunjukkan kesetiaan di depan umum tetapi diam-diam memiliki kepentingan pribadi.
- Dalam dunia kerja; Karyawan atau pemimpin yang hanya ingin terlihat baik di depan atasan tetapi tidak menjalankan tugas dengan jujur.
- Dalam pergaulan sosial; Orang yang berpura-pura baik di hadapan teman tetapi membicarakan keburukan mereka di belakang.
- Dalam kehidupan beragama; Orang yang tampak taat secara lahiriah tetapi sebenarnya tidak memiliki keimanan yang kuat.
Semoga Allah SWT menjauhkan kita dari sifat kemunafikan dan menjadikan hati kita bersih serta istiqamah dalam ketaatan.