Tauhid atau Tekanan: Ujian Iman dari Masa ke Masa

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

وَقَا لَ  الَّذِيْنَ  كَفَرُوْا  لِرُسُلِهِمْ  لَـنُخْرِجَنَّكُمْ  مِّنْ  اَرْضِنَاۤ  اَوْ  لَـتَعُوْدُنَّ  فِيْ  مِلَّتِنَا  ۗ فَاَ وْحٰۤى  اِلَيْهِمْ  رَبُّهُمْ  لَــنُهْلِكَنَّ  الظّٰلِمِيْنَ

“Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali kepada agama kami. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, Kami pasti akan membinasakan orang yang zalim itu. (QS. Ibrahim 14: Ayat 13)

Ancaman orang kafir: memilih antara terus berada dalam tauhid atau kembali kepada agama nenek moyang mereka

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Ayat ini, diceritakan lanjutan dari ucapan kaum kafir terhadap rasul-rasul, di mana mereka mengancam para rasul itu akan diusir dari negeri mereka apabila tidak menghentikan dakwah kepada agama Allah. Kaum kafir tersebut mengajukan pilihan kepada rasul-rasul itu, apakah mereka menerima pengusiran itu, ataukah mereka bersedia untuk kembali kepada agama yang mereka warisi dari nenek moyang, yaitu agama syirik dan kufur.

Selanjutnya dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setelah adanya ancaman kaum kafir, maka Allah swt mewahyukan kepada rasul-rasul tersebut bahwa Dia pasti akan membinasakan kaum yang zalim itu. Wahyu ini merupakan dorongan moril yang amat besar artinya bagi masing-masing rasul yang sedang menjalankan tugas sucinya, sehingga mereka tidak merasa gentar untuk menghadapi umat yang zalim itu.

“Ancaman orang kafir: memilih antara tetap dalam tauhid atau kembali kepada agama nenek moyang” itu sangat sesuai dengan pola yang juga dialami oleh Bilal bin Rabah.

Ketika Bilal bin Rabah masuk Islam di masa awal dakwah Muhammad di Mekah, ia disiksa oleh tuannya, Umayyah bin Khalaf. Bentuk tekanannya:

  • Bilal diseret dan dijemur di padang pasir
  • Ditindih batu besar di dadanya
  • Dipaksa untuk meninggalkan tauhid dan kembali menyembah berhala (agama nenek moyang Quraisy)

Intinya sama seperti Quran Surah Al-A’raf ayat 88 : “Kami pasti akan mengusirmu… kecuali kamu kembali kepada agama kami.”. Polanya sama: dipaksa kembali ke agama nenek moyang. Namun, yang luar biasa:

  • Bilal tetap berkata: “Ahad… Ahad…” (Allah Maha Esa)
  • Ia memilih tauhid, meski harus menanggung penderitaan

Tadabur:

  • Ujian iman sering datang dalam bentuk dipaksa memilih antara kebenaran dan tekanan.
  • Tauhid bukan hanya diyakini, tapi dipertahankan dengan pengorbanan

Sejak dulu, tauhid selalu diuji dengan ancaman: tinggalkan iman atau tanggung akibatnya dan Bilal memilih tetap bersama Allah

Ujian Tauhid Zaman Sekarang

Kalau dulu orang menyembah berhala secara fisik, sekarang banyak bentuknya lebih halus, tersembunyi, dan sering tidak disadari.

Bentuk Kesyirikan Zaman Sekarang

1. Bergantung kepada selain Allah (hati condong)

  • Merasa rezeki hanya dari jabatan, bisnis, atau manusia
  • Takut kehilangan dunia lebih daripada takut kepada Allah

Ini termasuk syirik kecil (tersembunyi) karena hati tidak sepenuhnya bertawakal.

2. Riya (ingin dilihat manusia)

  • Ibadah supaya dipuji
  • Sedekah supaya dianggap dermawan

Nabi Muhamad Muhammad SAW menyebut riya sebagai syirik kecil, karena: “Aku paling tidak butuh sekutu dalam amal…”

3. Percaya benda atau simbol membawa kekuatan

  • Jimat, azimat, benda “penarik rezeki”
  • Angka, hari tertentu dianggap membawa sial/beruntung

Ini bisa masuk syirik, jika diyakini memberi manfaat/menolak mudarat tanpa Allah.

4. Mengikuti hawa nafsu sebagai “tuhan

Allah berfirman tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan.

  • Menghalalkan yang haram karena keinginan
  • Menolak kebenaran karena tidak sesuai selera.

“Apakah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (QS Al-Furqan: 43)

Lawannya: Tauhid yang Benar. Ciri tauhid yang kuat:

  • Bergantung hanya kepada Allah, tapi tetap berusaha
  • Hati tenang walau hasil tidak sempurna
  • Tidak silau dunia
  • Ikhlas dalam ibadah

Ujian tauhid hari ini bukan lagi pada patung yang disembah, tetapi pada hati yang bergantungh

  • Apakah hati bergantung pada Allah? (tauhid)
  • Atau bergantung pada selain-Nya? (syirik halus).

Doa dijauhkan dari syirik

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا وَأَنَا أَعْلَمُ
وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.”