Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَا يُؤْمِنُ اَكْثَرُهُمْ بِا للّٰهِ اِلَّا وَهُمْ مُّشْرِكُوْنَ
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka menyekutukan-Nya.” (QS. Yusuf 12: Ayat 106)
Kebanyakan manusia mengaku beriman, tetapi masih menyekutukan Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menjelaskan keadaan orang-orang Quraisy Mekah. Di samping percaya kepada Allah yang menciptakan segala sesuatu, mereka juga menyekutukan-Nya. Kalau mereka ditanya siapa yang menciptakan semua yang ada di bumi maupun di langit, mereka akan menjawab dengan tegas bahwa yang menciptakan semuanya itu ialah Allah SWT sebagai tercantum dalam Al-Quran: Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Luqman/31: 25)
Pengakuan Quraisy Mekah terhadap eksistensi Allah juga diikuti dengan mempersekutukan-Nya. Mereka menyembah berhala dan menjadikan pendeta sebagai tuhan. Bahkan, ada di antara mereka yang mengatakan bahwa Allah itu mempunyai anak. Mahasuci Allah SWT dari apa yang dituduhkan itu. Menyekutukan Allah itu adalah dosa yang paling besar. Ibnu Masud pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW tentang dosa yang paling besar. Nabi SAW menjawab: Bahwa kamu jadikan sekutu bagi Allah SWT padahal Dialah yang menciptakanmu. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Masud).
Tadabbur QS Yusuf:106
1. Iman tidak selalu berarti tauhid yang murni.
Seseorang bisa mengaku beriman, salat, berdoa, tapi hati masih bergantung pada selain Allah.
Iman ada, tapi belum total.
2. Syirik paling berbahaya itu yang tidak disadari
Bukan sujud ke berhala, tapi:
-lebih tenang saat ada “backup manusia” daripada Allah,
– lebih takut kehilangan jabatan, nilai, relasi, daripada kehilangan ridha Allah,
– taat kepada aturan manusia meski melanggar perintah Allah.
Ini syirik halus, dan justru paling banyak terjadi.
3. Allah menilai arah hati, bukan sekadar pengakuan lisan
“Banyak” di ayat ini mengingatkan:
mayoritas bukan jaminan kebenaran.
Yang dilihat Allah:
Kepada siapa hati benar-benar bergantung saat genting.
4. Syirik sering muncul saat ujian, bukan saat nikmat
Saat semuanya lancar, mudah bilang “ini dari Allah”.
Tapi saat terdesak:
– siapa yang pertama dicari?
– siapa yang paling ditakuti?
– siapa yang paling ditaati?
Di situlah kualitas tauhid diuji.
5. Ayat ini mengajak muhasabah.
“Apakah imanku masih bercampur kepentingan dunia?”
“QS Yusuf:106 mengingatkan bahwa iman tanpa tauhid yang murni mudah tergelincir menjadi syirik yang halus dan tidak terasa.”
Doa agar iman tidak menyimpang menjadi syirik halus setelah mendapat hidayah;
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)