Tanda Kebesaran Allah Sangat Banyak, Tetapi Sering tidak Memberi Pengaruh Bagi Manusia

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَاَ يِّنْ  مِّنْ  اٰيَةٍ  فِى  السَّمٰوٰتِ  وَا لْاَ رْضِ  يَمُرُّوْنَ  عَلَيْهَا  وَهُمْ  عَنْهَا  مُعْرِضُوْنَ

“Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.” (QS. Yusuf 12: Ayat 105)

Tanda kebesaran Allah sangat banyak, tetapi sering tidak memberi pengaruh bagi manusia

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa tidak sedikit tanda-tanda yang menunjukkan keesaan, kesempurnaan, dan kekuasaan-Nya, seperti matahari, bulan, bintang-bintang, gunung-gunung, lautan, tanam-tanaman, dan lain-lain, yang bisa dilihat dan disaksikan sendiri oleh manusia. Akan tetapi, mereka tidak memperhatikannya dan tidak memikirkan hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Semua itu menunjukkan bahwa Allah swt itu Esa, tiada Tuhan melainkan Dia.

Dialah yang menciptakan semua makhluk dengan sempurna dan teratur. Kalaupun ada di antara mereka yang berusaha ingin mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, tetapi mereka lupa kepada Penciptanya. Dengan akalnya, mereka asyik menerapkan ilmunya, mengembangkan dan memanfaatkannya, tetapi jiwa mereka kosong dari mengingat Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Ilmu saja, meskipun ada gunanya, tetapi tidak bermanfaat di akhirat kecuali apabila dilandasi iman kepada Allah. Alangkah berbahagianya orang yang dapat menyatukan keduanya. Orang itulah yang akan memperoleh kebaikan di dunia, dan akhirat serta selamat dari azab api neraka kelak.

QS Yusuf:105 itu seperti cermin keras tapi jujur. Ayatnya singkat, tapi menampar kesadaran. Ada peringatan peringatan, ada bencana, ada musibah, kebesaran dan kekuasaan Allah ditampakkan tapi manusia sadar sebentar setelah itu abai lagi.

Beberapa tadabbur penting yang bisa kita ambil:

1. Tanda Allah itu banyak, bukan sedikit

Allah menegaskan “betapa banyak” tanda-tanda kebesaran-Nya. Artinya:
– alam semesta,
– sejarah,
– peristiwa hidup,
– bahkan diri kita sendiri

semuanya ayat-ayat Allah. Masalahnya bukan pada kurangnya tanda, tapi pada mata dan hati yang tidak membaca.

2. Melihat ≠ mengambil pelajaran

Manusia dalam ayat ini melintas, bukan berhenti.
Artinya:
– melihat tapi tidak merenung,
– tahu tapi tidak berubah,
– kagum sesaat tapi hidup tetap sama.

Ini peringatan bahwa iman bukan soal penglihatan, tapi perenungan.

3. Bahaya “iman yang tidak berpengaruh”

Ayat ini mengisyaratkan iman yang pasif:
– tahu Allah Maha Besar,
– tapi tidak membuat shalat lebih khusyuk,
– tidak membuat dosa ditinggalkan,
– tidak membuat hidup lebih taat.

Ini iman yang tidak mendidik (tidak menarbiyah).

4. Kesibukan bisa mematikan kesadaran

“Mereka berpaling darinya” bisa ditadaburi sebagai:
– sibuk dunia,
– terjebak rutinitas,
– tenggelam dalam distraksi,

hingga tanda Allah kalah oleh kesibukan manusia sendiri.

5. Ramadhan seharusnya menghentikan kita, bukan sekadar lewat

Jika dikaitkan dengan Ramadhan:
– Ramadhan bukan untuk melewati hari,
– tapi berhenti, merenung, dan berubah.

Kalau Ramadhan berlalu tanpa perubahan, kita khawatir masuk golongan ayat ini.

Banyaknya tanda Allah tidak menjamin hidayah, jika hati tidak mau berhenti dan merenung

.Doa agar peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah

ۚ رَبَّنَا  مَا  خَلَقْتَ  هٰذَا  بَا طِلًا    ۚ سُبْحٰنَكَ  فَقِنَا  عَذَا بَ  النَّا رِ

Rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilâ, subhânaka faqina ‘adzâban nâr.

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)