أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ ذَا مَاۤ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ فَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ اَيُّكُمْ زَا دَتْهُ هٰذِهٖۤ اِيْمَا نًا ۚ فَاَ مَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَزَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّهُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ
“Dan apabila diturunkan suatu surat maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata, Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 124)
Bertambah iman dengan turun ayat baru = bertambah iman dengan banyak membaca dan memahami Al Quran
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Sikap kaum munafik di masa Nabi Muhammad saw di antaranya adalah apabila ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan kepada beliau dan disampaikan kepada mereka, maka di antara mereka itu ada yang bertanya kepada teman-temannya baik dari kalangan munafik sendiri maupun teman-teman mereka dari kaum Muslimin yang lemah imannya bahwa siapakah di antara mereka yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini. Ini meyakinkan bahwa Al-Qur’an ini benar-benar dari Allah bahwa Muhammad itu benar-benar pesuruh Allah, bahwa tiap-tiap ayat Al-Qur’an merupakan mukjizat bagi Muhammad, dan bahwa Al-Qur’an itu bukan buatan Muhammad.
Jika diperhatikan pertanyaan orang munafik yang tersebut dalam ayat-ayat ini, dirasakan bahwa pertanyaan itu bukanlah maksudnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui, tetapi menunjukkan apa yang menjadi isi hati mereka; yaitu mereka belum percaya kepada Rasulullah, sekalipun mulut mereka telah mengakuinya. Bahkan mereka ingin agar orang-orang Islam yang lemah imannya menjadi seperti mereka pula. Seandainya tidak ada penyakit di dalam hati orang-orang munafik itu, pasti mereka mengetahui bahwa iman yang sesungguhnya yang disertai dengan ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah, karena telah merasakan dan meyakini kekuasaan-Nya, pasti akan bertambah dengan mendengar dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, apalagi jika langsung mendengarnya dari Rasulullah saw sendiri.
Sifat-sifat munafik ini diterangkan dalam firman-Nya: Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. (al-Baqarah/2: 9-10)
Mengenai kesan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dalam hati orang-orang yang beriman diterangkan dalam firman Allah:
Sebenarnya, (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang zalim yang mengingkari ayat-ayat Kami. (al-‘Ankabut/29: 49)
Pertanyaan orang-orang munafik itu dijawab Allah dengan ungkapan yang tersebut pada akhir ayat ini yang maksudnya adalah orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya dan mereka merasa gembira.
Ayat ini menunjukkan bahwa turunnya ayat baru menambah keimanan orang-orang beriman karena mereka mendapatkan petunjuk, pemahaman baru, dan penguatan keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Apakah Membaca dan Memahami Al-Qur’an Bisa Memberikan Efek yang Sama?
Meskipun wahyu sudah lengkap dan tidak ada ayat baru yang turun lagi, membaca, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an bisa memberikan efek yang mirip, yaitu:
1. Menambah Keyakinan (Yaqin); Saat seseorang membaca Al-Qur’an dengan pemahaman, ia semakin menyadari kebenaran ayat-ayat Allah, sebagaimana para sahabat yang imannya bertambah saat menerima wahyu baru.
2. Menguatkan Hati dan Spiritual; Al-Qur’an adalah petunjuk yang relevan sepanjang zaman. Dengan membacanya secara rutin, seseorang akan mendapatkan solusi hidup dan merasa lebih dekat dengan Allah.
3. Mendapatkan Kebahagiaan dan Ketenangan; Sebagaimana para sahabat yastabshirun (bergembira) saat ayat turun, seorang Muslim juga bisa merasakan kebahagiaan saat menemukan jawaban dari masalah hidupnya dalam Al-Qur’an.
Jadi, makna QS. At-Taubah: 124 bisa dipahami dalam konteks bahwa membaca dan memahami Al-Qur’an juga dapat menambah iman, sebagaimana turunnya ayat baru menambah iman para sahabat. Perbedaannya hanya pada pengalaman langsung terhadap turunnya wahyu, tetapi efek spiritualnya bisa dirasakan oleh setiap Muslim yang membaca Al-Qur’an dengan hati yang terbuka.
Pemahaman ini juga sejalan dengan firman Allah dalam QS. Al-Anfal: 2:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)…” (QS. Al-Anfal: 2).
Jadi, membaca dan memahami Al-Qur’an bisa menjadi cara untuk terus memperbarui dan meningkatkan iman, sebagaimana yang dialami para sahabat saat menerima wahyu baru yang disampaikan Rassululloh SAW.
Doa Memohon Bertambahnya Iman dengan Membaca Al-Qur’an
اللَّهُمَّ زِدْنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفَهْمًا فِي كِتَابِكَ، وَاجْعَلِ الْقُرْآنَ نُورًا لِقَلْبِي، وَهُدًى لِنَفْسِي، وَرَحْمَةً لِي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Allahumma zidnī īmānan wa yaqīnan wa fahman fī kitābika, waj‘alil-Qur’āna nūran liqalbī, wa hudan linafsī, wa rahmatan lī fid-dunyā wal-ākhirah.”
“Ya Allah, tambahkanlah imanku, keyakinanku, dan pemahamanku dalam Kitab-Mu. Jadikanlah Al-Qur’an cahaya bagi hatiku, petunjuk bagi jiwaku, dan rahmat bagiku di dunia dan akhirat.”