أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاَ مَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ فَزَا دَتْهُمْ رِجْسًا اِلٰى رِجْسِهِمْ وَمَا تُوْا وَهُمْ كٰفِرُوْنَ
“Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surat itu) akan menambah kekafiran mereka yang telah ada dan mereka akan mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 125)
Setiap ayat yang disampaikan kepada mereka selalu menimbulkan keragu-raguan dan kemunafikan dalam hati
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Jawaban pertanyaan mereka seputar Al-Qur’an diterangkan pada ayat ini. Adapun orang-orang yang hatinya ragu-ragu dan orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang hatinya penuh kekafiran sedang mulutnya menyatakan iman, setiap ayat yang disampaikan kepada mereka selalu menimbulkan keragu-raguan dan kemunafikan dalam hati mereka. Hal seperti ini selalu bertambah kuat pengaruhnya pada diri mereka, sehingga akhirnya mereka mati sebagai seorang munafik yang kafir. Hal yang mereka alami ini akan dialami oleh orang-orang sesudah mereka, yang sama hatinya dengan hati mereka, mereka akan mati sebagai orang kafir.
Dari ayat ini, ada beberapa hal tentang sifat kemunafikan:
1. Setiap wahyu yang turun justru menambah keraguan
Orang-orang munafik tidak mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah, bahkan semakin jauh dari kebenaran. Ini karena hati mereka sudah dipenuhi penyakit, seperti iri, dengki, atau kebencian terhadap Islam.
2. Hati mereka semakin kotor
Ayat ini menggambarkan bagaimana penyakit hati mereka semakin bertambah parah. Mereka tidak berusaha mencari hidayah, malah terus mempertahankan kebatilan.
3. Akhir yang buruk
Karena mereka menolak kebenaran secara terus-menerus, mereka akhirnya mati dalam keadaan kafir. Ini menjadi peringatan bahwa kemunafikan adalah jalan menuju kesesatan total.
QS. Yunus: 39 “Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim
(QS At Taubah 125) menggambarkan dengan jelas bahwa orang-orang munafik akan semakin ragu dan berpaling setiap kali mereka mendengar ayat-ayat Allah, bukan semakin yakin atau bertambah imannya, berbeda dengan orang beriman yang bertambah keyakinannya setiap kali mendengar wahyu ( QS At Taubah 124), mendengarkan ayat baru semakin beriman.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Doa agar kita seperti orang beriman yang ketika mendengar wahyu semakin bertambah keimanan:
اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفَهْمًا وَعِلْمًا وَعَمَلًا صَالِحًا، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا خَاشِعَةً لِذِكْرِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى طَاعَتِكَ وَحُسْنِ اسْتِمَاعِ وَحْيِكَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Allahumma zidnā īmānan wa yaqīnan wa fahman wa ’ilman wa ’amalan ṣāliḥan, waj‘al qulūbanā khāshi‘atan li dhikrika, wa a‘innā ‘alā ṭā‘atika wa ḥusni istimā‘i waḥyika, yā Rabbal-‘ālamīn.
“Ya Allah, tambahkanlah kepada kami keimanan, keyakinan, pemahaman, ilmu, dan amal yang saleh. Jadikanlah hati kami khusyuk dalam mengingat-Mu. Bantulah kami untuk taat kepada-Mu dan mendengarkan wahyu-Mu dengan baik. Wahai Tuhan semesta alam.”