Nabi Ibrahim Adalah Sosok Penyantun, Sabar, Penuh Empati, dan Selalu Bertobat kepada Allah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنَّ  اِبْرٰهِيْمَ  لَحَـلِيْمٌ  اَوَّاهٌ  مُّنِيْبٌ
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun (ḥalīm), lagi lembut hatinya (awwāh), dan selalu kembali (kepada Allah).” QS. Hud 11: Ayat 75)
Nabi Ibrahim digambarkan sebagai sosok penyantun, sabar, penuh empati, dan selalu bertobat kepada Allah
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Diskusi Nabi Ibrahim dengan Malaikat itu didorong oleh rasa santun dan ibanya kepada manusia. Dan sesungguhnya Nabi Ibrahim adalah sosok orang yang benar-benar penyantun, yakni penyabar dan tidak tergesa-gesa dalam bertindak. Karenanya ia berharap agar azab itu tidak segera diturunkan kepada kaum Nabi Luth, agar ada kesempatan untuk mereka bertobat. Nabi Ibrahim pun pengiba lantaran rasa takutnya ketika menghadap Allah dan munculnya rasa khawatir akan murka Allah dengan menurunkan azab terhadap orang yang berbuat salah, dan dia suka kembali kepada Allah dengan menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya.
Dalam ilmu akidah, sifat wajib para Rasul ada empat:
1. Ṣidq (jujur)
2. Amānah (terpercaya)
3. Tablīgh (menyampaikan wahyu)
4. Faṭānah (cerdas)
Sifat ḥalīm (penyantun, sabar, tidak tergesa-gesa) bukan termasuk empat sifat wajib pokok, tetapi merupakan sifat mulia yang menyempurnakan kepribadian para Rasul. Allah menganugerahkan sifat ini kepada Nabi Ibrahim, dan Rasulullah ﷺ juga dikenal penuh kasih, sabar, serta tidak tergesa-gesa.
Umat Islam juga harus memiliki sifat ini, Karena:
  1. Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang penyantun dan sabar tidak akan menyesal.”
  2. Sifat ini merupakan akhlak mulia yang harus diteladani dari para Nabi.
  3. Dalam kehidupan sehari-hari, sifat penyantun membuat seseorang:
  4. Bijak dalam mengambil keputusan.
  5. Tidak mudah marah.
  6. Tidak ceroboh dalam bertindak.
  7. Lebih dicintai Allah dan disukai manusia.
QS Hûd 75 menegaskan sifat penyantun Nabi Ibrahim.
  • Sifat itu bukan termasuk empat sifat wajib Rasul, tapi merupakan akhlak utama para Nabi.
  • Umat Islam dianjurkan meneladani sifat ini agar memiliki kesabaran, ketenangan, dan kebijaksanaan dalam hidup.
Doa agar kita diberi sifat penyantun, lembut hati, dan selalu kembali kepada Allah seperti Nabi Ibrahim ʿalaihissalām:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الحَلِيمِينَ الأَوَّاهِينَ المُنِيبِينَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا رَقِيقًا صَابِرًا لا يَسْتَعْجِلُ فِي الأُمُورِ، وَثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Allahumma aj‘alnā minal-ḥalīmīna al-awwāhīna al-munībīn, warzuqnā qalban raqīqan ṣābiran lā yasta‘jilu fil-umūr, wa thabbitnā ‘alā ṭā‘atika yā Arḥamar-Rāḥimīn.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang penyantun, lembut hatinya, dan selalu kembali kepada-Mu. Karuniakanlah kepada kami hati yang lembut, sabar, tidak tergesa-gesa dalam urusan, dan tetapkanlah kami di atas ketaatan kepada-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih.”