Mukjizat Sebesar Apa Pun Tidak Akan Mengubah Hati yang Berpaling

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاٰ تَيْنٰهُمْ  اٰيٰتِنَا  فَكَا نُوْا  عَنْهَا  مُعْرِضِيْنَ ۙ

“dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 81)

Mukjizat Sebesar Apa Pun Tidak Akan Mengubah Hati yang Berpaling

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami, yakni mukjizat kepada Nabi Saleh berupa unta betina yang membuktikan kerasulannya. Nabi Saleh mengingatkan kaumnya untuk tidak mengganggu apalagi menyakiti unta tersebut. Namun, mereka melanggar pesan Nabi Saleh dan menyembelih unta itu. Mukjizat itu telah mereka saksikan, tetapi mereka selalu berpaling darinya dengan selalu abai.

Mukjizat unta betina Nabi Saleh

Mukjizat tersebut memiliki beberapa keistimewaan:

1. Keluar dari batu besar
Kaum Tsamud menantang Nabi Saleh agar mengeluarkan seekor unta betina hidup dari sebuah batu. Atas izin Allah, batu itu terbelah dan keluarlah seekor unta betina yang besar dan sehat. Ini merupakan mukjizat yang tidak mungkin dilakukan manusia.

2. Disebut “Unta Allah” (Nāqatullāh)
Allah memuliakan unta itu sebagai tanda kekuasaan-Nya, bukan karena unta itu memiliki sifat ketuhanan, tetapi sebagai mukjizat yang harus dihormati.

3. Memiliki giliran minum
Allah menetapkan pembagian air. Pada hari giliran unta, seluruh sumber air menjadi haknya. Pada hari berikutnya, kaum Tsamud mengambil air untuk kebutuhan mereka. (Lihat QS. Asy-Syu’ara: 155 dan QS. Al-Qamar: 28).

4. Memberi manfaat besar
Dalam riwayat-riwayat tafsir disebutkan bahwa susu unta itu sangat melimpah sehingga mencukupi kebutuhan banyak orang. Mukjizat itu bukan sekadar tontonan, tetapi juga membawa manfaat.

5. Menjadi ujian keimanan
Allah memerintahkan agar mereka tidak mengganggu apalagi menyembelih unta tersebut. Namun karena kesombongan dan kedurhakaan, mereka justru membunuhnya, sehingga turunlah azab yang membinasakan mereka (QS. Al-A’raf: 73–79; QS. Hud: 61–68).

Hubungannya dengan QS. Al-Hijr: 81

Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah memberikan bukti yang sangat nyata, tetapi mereka tetap berpaling. Persoalan mereka bukan kurangnya bukti, melainkan kerasnya hati.

Pelajaran (Tadabbur)

  • Mukjizat tidak akan bermanfaat bagi orang yang menolak kebenaran karena kesombongan.
  • Bukti yang jelas tidak selalu menghasilkan keimanan jika hati telah tertutup.
  • Keimanan lahir dari hati yang mau menerima petunjuk, bukan semata-mata dari banyaknya keajaiban yang disaksikan.

QS. Al-Hijr ayat 81 adalah mukjizat kepada nabi Shaleh berupa unta betina yang keluar dari batu besar. Ayat ini menjadi peringatan bahwa sehebat apa pun tanda-tanda Allah, orang yang sengaja berpaling tetap tidak akan mengambil pelajaran.

Doa memohon hati yang terbuka untuk menerima petunjuk Allah, tidak keras hati, dan mampu mengambil pelajaran dari setiap tanda kekuasaan-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ قَلْبِي مُؤْمِنًا بِآيَاتِكَ، مُتَدَبِّرًا لِعِبَرِهَا، وَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْمُعْرِضِينَ عَنْ هُدَاكَ.

Allāhummaj‘al qalbī mu’minan bi’āyātika, mutadabbiran li‘ibarihā, wa lā taj‘alnī minal-mu‘riḍīna ‘an hudāk.

“Ya Allah, jadikanlah hatiku beriman kepada ayat-ayat-Mu, mampu mentadabburi pelajaran yang terkandung di dalamnya, dan janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Mu.”