Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ كَذَّبَ اَصْحٰبُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِيْنَ ۙ
“Dan sesungguhnya penduduk negeri Hijr benar-benar telah mendustakan para rasul (mereka),” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 80)
Iman kepada Seluruh Rasul Mengantarkan kepada Islam
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Ayat ini menerangkan bahwa penduduk kota al-Hijr telah men-dustakan para rasul. Dalam ayat ini disebutkan rasul-rasul padahal mereka hanya mendustakan seorang rasul, yaitu Nabi Saleh a.s., karena mendustakan seorang rasul hukumnya sama dengan mendustakan seluruh rasul Allah.
Seluruh rasul yang diutus Allah membawa agama tauhid dan asas-asas agama yang sama. Walaupun mendustakan seorang rasul, tetapi mereka telah mendustakan ketauhidan dan asas-asas agama yang dibawa rasul itu, yang berarti mereka telah mendustakan seluruh rasul. Kota al-Hijr adalah tempat tinggal kaum Samud yang terletak antara Mekah dan Syam, di dekat Wadil-Qura. Kepada mereka diutus Nabi Saleh yang diberi mukjizat sebagai bukti kerasulannya.
Saleh menyatakan mukjizatnya berupa unta betina yang mereka kenal sebagai bukti kerasulan-nya. Unta itu tidak boleh diganggu dan disakiti. Jatah air minumnya ditentukan banyaknya secara bergantian, yaitu sehari untuk minum unta dan sehari untuk minum mereka semuanya. Tetapi mereka tidak mau mengikuti ketentuan Saleh itu, bahkan mereka menyembelih unta itu.
Ayat dan tafsir ini terasa menarik. Kaum Tsamud pada hakikatnya hanya didatangi oleh Nabi Saleh a.s., bukan oleh banyak rasul. Namun Allah menggunakan ungkapan “mendustakan para rasul”, bukan “mendustakan seorang rasul”.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa siapa saja yang mendustakan satu rasul, pada hakikatnya ia telah mendustakan seluruh rasul. Sebab semua rasul berasal dari Allah yang sama, membawa wahyu dari Tuhan yang sama, serta mengajarkan pokok agama yang sama, yaitu tauhid dan kepatuhan kepada Allah.
Hal ini mengajarkan satu prinsip penting dalam rukun iman. Rukun iman yang ketiga adalah beriman kepada para rasul Allah. Keimanan ini bukan berarti memilih rasul tertentu sesuai keinginan, melainkan meyakini seluruh rasul yang diutus Allah tanpa membeda-bedakan.
Allah berfirman: “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 285)
Karena itu, seorang Muslim wajib mengimani Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad ﷺ, dan seluruh nabi serta rasul yang disebut maupun yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an.
Agama Para Rasul pada Hakikatnya Satu
Al-Qur’an menjelaskan bahwa seluruh nabi membawa misi yang sama, yaitu mengajak manusia menyembah Allah semata.
Allah berfirman: “Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam.”(QS. Ali ‘Imran: 19)
Kata Islam di sini bermakna berserah diri kepada Allah. Dalam pengertian ini, Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seluruh nabi adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah (muslim), meskipun syariat yang mereka bawa berbeda sesuai dengan kebutuhan umat pada zamannya.
Dengan demikian, agama para nabi pada hakikatnya adalah satu, yaitu agama tauhid dan kepasrahan kepada Allah.
Nabi Muhammad ﷺ Penutup Seluruh Rasul
Keimanan kepada seluruh rasul juga mengharuskan seseorang menerima rasul terakhir yang diutus Allah, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.
Allah berfirman: “Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.”(QS. Al-Ahzab: 40)
Setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, risalah Allah telah disempurnakan.
Allah berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu…”(QS. Al-Ma’idah: 3)
Oleh karena itu, siapa pun yang benar-benar beriman kepada seluruh rasul semestinya juga menerima kerasulan Nabi Muhammad ﷺ sebagai rasul terakhir. Menolak beliau berarti menolak mata rantai terakhir dari rangkaian risalah yang telah dibawa seluruh nabi sebelumnya.
Pelajaran dari QS. Al-Hijr Ayat 80
Kaum Tsamud binasa bukan semata-mata karena menolak Nabi Saleh a.s., tetapi karena penolakan terhadap seorang rasul berarti penolakan terhadap seluruh sistem kenabian yang berasal dari Allah.
Ayat ini mengingatkan bahwa iman kepada para rasul harus utuh dan tidak boleh dipilih-pilih. Mengimani sebagian rasul tetapi menolak rasul yang lain bukanlah bentuk keimanan yang diajarkan Al-Qur’an.
Bagi umat Islam, keimanan yang sempurna kepada para rasul diwujudkan dengan menghormati seluruh nabi Allah, mengimani risalah mereka, dan mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan rasul.
Penutup: QS. Al-Hijr ayat 80 mengajarkan bahwa risalah para nabi adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Semua nabi berasal dari Allah, membawa ajaran tauhid, dan saling membenarkan satu sama lain. Karena itu, beriman kepada para rasul berarti menerima seluruh utusan Allah, termasuk Nabi Muhammad SAW sebagai rasul terakhir. Dari al Hijr 80, kalau agamanya Samawi seharusnya semuanya muslim/Islam/Berserah diri kepada Allah (al-istislām lillāh).
Semoga Allah meneguhkan hati kita untuk mengimani seluruh rasul-Nya, mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, serta mengumpulkan kita bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh di akhirat kelak. Aamiin.