Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ فَاِ نَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِ يْنَ ۙ
“Allah berfirman, (Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 37)
Kemuliaan Bukan Ditentukan oleh Panjang Umur atau Terkabulnya Keinginan, Melainkan oleh Ketaatan kepada Allah dan Husnul Khatimah
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Permintaan Iblis untuk dipanjangkan umurnya dikabulkan oleh Allah. Allah berfirman, “Baiklah, maka sesungguhnya kamu, wahai Iblis, termasuk yang diberi penangguhan, yakni dipanjangkan umurnya, sampai hari yang telah ditentukan, yakni tiupan pertama sangkakala sebagai tanda permulaan kiamat, dan pada saat itulah engkau harus mati dan mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”
Yang dimaksud “penangguhan” (الْمُنظَرِينَ).
Kata al-munzharīn berasal dari kata anzhara yang berarti memberi tenggang waktu, menunda pelaksanaan suatu hukuman, atau membiarkan hidup sampai batas waktu tertentu.
Dalam konteks ayat ini, setelah Iblis dikutuk dan diusir dari kemuliaan, ia meminta: “Ya Tuhanku, beri aku penangguhan sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Hijr: 36)
Lalu Allah menjawab: “Maka sesungguhnya engkau termasuk orang yang diberi penangguhan.” (QS. Al-Hijr: 37)
Artinya, Iblis tidak langsung dibinasakan setelah membangkang, tetapi diberi kesempatan hidup hingga waktu yang Allah tentukan.
Apakah yang diberi penangguhan hanya Iblis atau semua iblis?
Secara langsung, ayat ini ditujukan kepada Iblis yang sedang berdialog dengan Allah.
Namun karena Iblis menjadi pemimpin setan-setan dari kalangan jin, para pengikutnya juga tetap ada dan menjalankan peran mereka dalam menggoda manusia hingga akhir zaman.
Perbedaan dengan manusia dan malaikat.
Manusia
Malaikat
Iblis
Ini pelajaran penting: umur panjang tidak selalu berarti kemuliaan. Iblis diberi umur yang sangat panjang, tetapi tetap berada dalam laknat Allah.
Apa yang bisa ditadaburi dari Al-Hijr ayat 37?
1. Allah Maha Kuasa mengabulkan permintaan, tetapi tidak selalu sebagai tanda ridha
Permintaan Iblis dikabulkan, namun bukan karena Allah meridhainya.
Banyak orang mengira bahwa jika keinginannya tercapai berarti Allah pasti mencintainya. Ayat ini menunjukkan bahwa terkabulnya suatu permintaan tidak selalu berarti kemuliaan di sisi Allah.
2. Kesempatan hidup adalah ujian
Iblis diberi waktu untuk menjalankan misinya menggoda manusia.
Demikian pula manusia diberi umur, bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk membuktikan ketaatan kepada Allah.
3. Hukuman Allah bisa ditunda, tetapi tidak dibatalkan
Iblis tidak langsung dihukum saat itu juga, tetapi hukuman akhirnya tetap menantinya.
Ini mengingatkan bahwa ketika seseorang masih diberi kesempatan setelah berbuat dosa, bukan berarti ia bebas dari pertanggungjawaban.
4. Allah mengatur seluruh pertarungan antara kebenaran dan kebatilan
Iblis tidak bergerak bebas di luar kendali Allah. Bahkan umur dan keberadaannya pun berada dalam izin dan ketetapan Allah.
Karena itu orang beriman tidak perlu takut kepada Iblis secara berlebihan; yang perlu dilakukan adalah berlindung kepada Allah dan menaati-Nya.
Al-Hijr ayat 37 mengajarkan bahwa penangguhan bukanlah tanda kemuliaan. Iblis diberi waktu panjang, tetapi tetap berada dalam laknat Allah. Yang menentukan kemuliaan bukan panjangnya umur atau tercapainya keinginan, melainkan ketaatan kepada Allah dan akhir yang baik (husnul khatimah).
“Allahumma inni as’aluka husnal khatimah, wa a’udzu bika min fitnatisy-syaithan. Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami akhir kehidupan yang baik, lindungilah kami dari tipu daya setan, dan tetapkan hati kami di atas ketaatan kepada-Mu hingga akhir hayat. Aamiin.