أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَنَا دٰى نُوْحٌ رَّبَّهٗ فَقَا لَ رَبِّ اِنَّ ابْنِيْ مِنْ اَهْلِيْ ۚ وَاِ نَّ وَعْدَكَ الْحَـقُّ وَاَ نْتَ اَحْكَمُ الْحٰكِمِيْنَ
“Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.” (QS. Hud 11: Ayat 45)
Kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya, tetap menginginkan yang terbaik untuk anaknya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini diterangkan bahwa Nabi Nuh a.s. memohon kepada Tuhan agar anaknya yang bernama Kanan atau Yam diselamatkan dari topan itu, karena anaknya itu adalah termasuk keluarganya dan Allah telah menjanjikan bahwa keluarganya akan diselamatkan dari topan, dan janji Allah adalah benar, tidak berubah, dan Ia adalah Hakim Yang Paling Bijaksana dari segala hakim. Doa Nabi Nuh a.s. ini terjadi sebelum anaknya tenggelam, sesudah ia memanggil dan mengajaknya supaya turut masuk ke dalam kapal itu.
Meskipun Nabi Nuh a.s. tidak mengetahui bahwa ia, setelah diperintahkan Allah membuat kapal, masih diperkenankan memohon doa bagi orang-orang kafir, sedang anaknya sudah nyata-nyata membangkang tidak mau diajak masuk ke dalam kapal, tetapi ia belum yakin bahwa anaknya itu termasuk orang-orang kafir yang harus turut ditenggelamkan, apalagi ia didorong oleh perasaan kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya.
Dari ayat ini, ada beberapa poin tadabbur yang bisa kita ambil:
- Doa yang berlandaskan prasangka baik kepada Allah; Nabi Nuh menyebut “janji-Mu itu benar” — ini menunjukkan keyakinan penuh terhadap janji Allah, bahkan di tengah situasi yang penuh kesedihan.
- Pemahaman manusia bisa keliru, sedangkan ilmu Allah sempurna; Nabi Nuh mengira bahwa anaknya termasuk “keluarga” yang akan diselamatkan sesuai janji Allah. Tapi Allah punya definisi “keluarga” yang berbeda, yakni orang-orang yang beriman. Ini mengajarkan bahwa standar kita harus menyesuaikan dengan standar Allah.
- Kepedulian seorang nabi terhadap keluarganya; Meski anaknya kafir, Nabi Nuh tetap berusaha memohonkan keselamatan. Ini menunjukkan fitrah kasih sayang orang tua, tapi juga menjadi pengingat bahwa iman adalah urusan pribadi masing-masing.
- Adab berdoa; Nabi Nuh memulai doanya dengan memuji Allah dan mengakui sifat-Nya (“Engkau adalah hakim yang paling adil”) sebelum menyampaikan permintaan. Ini adab yang sangat indah dalam munajat.
Doa memohon keturunan yang saleh dan mencintai sholat (QS Ibrahim: 40)
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Rabbi-j‘alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min dhurriyyatī, rabbanā wa taqabbal du‘ā’.”
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, demikian pula anak cucuku. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.”