Kuasa Allah SWT; Kapal Nabi Nuh Berlabuh Dengan Selamat, dan Umat Zalim Dibinasakan

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقِيْلَ  يٰۤاَ رْضُ  ابْلَعِيْ  مَآءَكِ  وَيٰسَمَآءُ  اَقْلِعِيْ  وَغِيْضَ  الْمَآءُ  وَقُضِيَ  الْاَ مْرُ  وَا سْتَوَتْ  عَلَى  الْجُوْدِيِّ  وَقِيْلَ  بُعْدًا  لِّـلْقَوْمِ  الظّٰلِمِيْنَ
“Dan difirmankan, Wahai Bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah. Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, Binasalah orang-orang zalim.” (QS. Hud 11: Ayat 44).
Allah SWT memerintahkan kepada langit dan bumi untuk menghentikan hujan dan menahan air sehingga banjir berakhir, kapal Nuh berlabuh, dan umat zalim dibinasakan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini diterangkan bahwa air bah (topan) melanda permukaan bumi yang memancarkan mata air yang meluap-luap, ditambah dengan curahan air hujan yang berlimpah-limpah, dan kapal Nuh a.s. itu berlayar mengarungi lautan yang bergejolak dengan dahsyatnya dan belum diketahui kapan hal itu akan berakhir. Kemudian tibalah saatnya, Allah memerintahkan bumi supaya menyerap air yang dipancarkannya dan memerintahkan langit supaya menghentikan curahan hujannya, sehingga air pun surut dan perintah Allah diselesaikan dengan sempurna, dan orang-orang kafir dari kaum Nuh a.s. itu tenggelam semuanya. Kemudian kapal itupun berlabuh di atas bukit Judiy.
Kemudian pada akhir ayat ini, Allah mengutuk orang-orang kafir dengan firman-Nya, “Binasalah orang-orang yang zalim.” Maksudnya: Peristiwa topan itu adalah untuk membinasakan orang-orang zalim (kafir) yang jauh dari rahmat Allah, karena kezaliman mereka dan tidak mau bertobat serta kembali ke jalan yang benar. Peristiwa banjir besar zaman Nabi Nuh ini tentu tidak menenggelamkan seluruh permukaan bumi, tetapi terjadi di suatu daerah yang sangat luas di Laut Mati dan sekitarnya yang memang lebih rendah dari permukaan air laut.
Dari Hud ayat 44, kita bisa menadaburi beberapa hal penting:
  1. Kekuasaan mutlak Allah atas alam semesta – langit dan bumi tunduk pada perintah-Nya, menunjukkan bahwa segala fenomena alam berada di bawah kendali penuh Allah.
  2. Batas waktu ujian dan azab – banjir besar tidak berlangsung tanpa akhir; ketika kehendak Allah menetapkan, ia berhenti seketika.
  3. Kepastian janji Allah – keselamatan Nuh dan orang-orang beriman, serta kebinasaan kaum zalim, adalah bukti janji Allah pasti terjadi.
  4. Pelajaran dari ketaatan – alam pun taat total, maka manusia seharusnya lebih tunduk lagi.
  5. Azab adalah peringatan – kehancuran kaum yang menolak kebenaran menjadi pengingat agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka.
فَذَكِّرْ  اِنْ  نَّفَعَتِ  الذِّكْرٰ ى
“oleh sebab itu berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat,” (QS. Al-A’la 87: Ayat 9)
Doa permohonan agar kita diselamatkan dari azab dan dijadikan hamba yang taat seperti Nabi Nuh dan pengikutnya. Misalnya:
اللَّهُمَّ نَجِّنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالْبَلَاءِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ عِبَادِكَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ لِقَوْلِكَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ، وَثَبِّتْنَا عَلَى طَاعَتِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا
Allāhumma najjinā minal-fitani wal-balā’i, waj‘alnā min ‘ibādika alladzīna yastami‘ūna liqawlika fayattabi‘ūna aḥsanah, wa ṯabbitnā ‘alā ṭā‘atika ḥattā nalqāka wa anta rāḍin ‘annā.
Ya Allah, selamatkanlah kami dari fitnah dan bencana, jadikanlah kami hamba-Mu yang mendengar firman-Mu lalu mengikuti yang terbaik darinya, dan teguhkanlah kami di atas ketaatan kepada-Mu hingga kami berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.