Jangan Tertipu oleh Kokohnya Bangunan: Allah Dapat Meruntuhkannya dari Fondasi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ  مَكَرَ  الَّذِيْنَ  مِنْ  قَبْلِهِمْ  فَاَ تَى  اللّٰهُ  بُنْيَا نَهُمْ  مِّنَ  الْقَوَا عِدِ  فَخَرَّ  عَلَيْهِمُ  السَّقْفُ  مِنْ  فَوْقِهِمْ  وَاَ تٰٮهُمُ  الْعَذَا بُ  مِنْ  حَيْثُ  لَا  يَشْعُرُوْنَ

“Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan tipu daya, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan siksa itu datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 26)

Jangan Tertipu oleh Kokohnya Bangunan: Allah Dapat Meruntuhkannya dari Fondasi

Menurut tafsir ringkas Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa setelah membincang kesesatan kaum musyrik dan upaya mereka menyesatkan orang lain, Allah lalu mengancam mereka dengan hukuman dan azab yang pedih. Allah menegaskan bahwa sungguh, orang-orang yang kafir dan ingkar sebelum mereka telah mengadakan tipu daya untuk mengingkari dan menentang ajaran Allah.

Maka sebab perbuatan mereka itu Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari pondasinya, lalu atap rumah-rumah itu jatuh menimpa mereka dari atas dan membuat mereka tertimbun, dan siksa itu datang kepada mereka secara tiba-tiba dari arah yang tidak mereka sadari, padahal mereka yakin rumah-rumah mereka begitu kuat dan dapat melindungi mereka dari ancaman apa pun.

Tafsir biasanya mengaitkannya dengan umat-umat terdahulu yang mendustakan rasul dan melakukan tipu daya/makar terhadap dakwah. Salah satu contoh yang sangat jelas adalah kaum Nabi Ibrahim, ketika mereka merencanakan untuk membakar Ibrahim. Namun ayat 26 menggunakan ungkapan yang lebih umum, sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa ayat ini hanya khusus untuk kaum tertentu.

Ada pelajaran yang sangat menarik dari perumpamaan Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya.

Mereka membangun kekuatan seolah-olah kokoh, tetapi ketika fondasinya salah, Allah dapat menghancurkannya dari dasar.

Ini juga sangat cocok dengan alur An-Nahl 23–26: kesombongan → menolak kebenaran → menyebut wahyu sebagai dongeng → menyesatkan orang lain → melakukan makar → akhirnya bangunan kesombongan itu runtuh.

Tadabur An-Nahl ayat 26 “Ketika Kesombongan Membangun “Rumah”. Allah Meruntuhkannya dari Pondasi.”

Ada orang yang membangun rumah dengan batu dan semen. Ada pula yang membangun “rumah” dalam kehidupan dengan kekuasaan, harta, jabatan, pengaruh, ilmu, bahkan popularitas.

Dari luar semuanya tampak kokoh. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering kita lupakan: Di atas fondasi apa semua itu dibangun?

Jika fondasinya adalah iman, kejujuran, ketakwaan, dan kebenaran, maka bangunan kehidupan memiliki dasar yang kuat.

Tetapi jika fondasinya adalah kesombongan, penolakan terhadap kebenaran, kezaliman, dan tipu daya, maka sehebat apa pun bangunannya, sesungguhnya ia sedang menunggu saat untuk runtuh. Kesombongan sering membuat manusia merasa bangunannya kokoh

Kesombongan mempunyai satu karakteristik: Ia membuat manusia terlalu percaya kepada bangunan yang sedang ia miliki.

  • Seseorang memiliki jabatan, lalu merasa tidak membutuhkan nasihat.
  • Seseorang memiliki ilmu, lalu merasa pendapatnya tidak mungkin salah.
  • Seseorang memiliki harta, lalu merasa semua persoalan dapat diselesaikan dengan uang.
  • Seseorang memiliki kekuasaan, lalu merasa dapat memperlakukan orang lain sesuka hati.
  • Seseorang memiliki banyak pengikut, lalu menganggap dirinya selalu benar.

Padahal semua itu hanyalah “bangunan.”

  • Jabatan adalah bangunan.
  • Harta adalah bangunan.
  • Popularitas adalah bangunan.
  • Kekuasaan adalah bangunan.
  • Bahkan ilmu pun dapat menjadi bangunan apabila ilmu tersebut tidak melahirkan kerendahan hati kepada Allah.

Yang jauh lebih penting adalah: Apa yang menjadi fondasinya?

Allah tidak selalu meruntuhkan bangunan dari atas. Perhatikan keindahan perumpamaan dalam ayat ini. Allah tidak mengatakan sekadar bahwa bangunan mereka roboh.

Allah menggambarkan: “Allah menghancurkan bangunan mereka dari fondasinya.”

Mengapa dari fondasi?

Karena kalau fondasi sudah dihancurkan, bangunan sebesar apa pun tidak akan mampu bertahan. Ini memberikan pelajaran yang sangat dalam:

Kehancuran sebuah kehidupan sering kali bermula bukan ketika bangunannya terlihat runtuh, tetapi ketika fondasinya mulai rusak.

  • Kebohongan mungkin hanya satu kalimat.
  • Kezaliman mungkin hanya satu keputusan.
  • Kesombongan mungkin hanya satu sikap.
  • Penolakan terhadap nasihat mungkin hanya satu kali.

Tetapi ketika hal-hal kecil tersebut terus dipelihara, ia dapat menjadi fondasi sebuah kehidupan yang rapuh.

Dari luar masih terlihat baik. Dari dalam, fondasinya sudah retak. Yang lebih berbahaya adalah ketika kita tidak menyadari keruntuhan itu

Bagian akhir ayat ini sangat menggetarkan:

وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

“Dan azab datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari.”

Inilah salah satu bahaya terbesar kesombongan.

Orang yang sombong sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang menuju kehancuran.

  • Ia mengira sedang membangun kejayaan. Padahal mungkin sedang membangun kehancuran.
  • Ia mengira sedang mempertahankan harga diri. Padahal mungkin sedang mempertahankan kesalahan.
  • Ia mengira sedang menunjukkan kekuatan. Padahal mungkin sedang menunjukkan kelemahan dirinya.
  • Ia mengira sedang mengalahkan orang lain. Padahal mungkin sedang menghancurkan dirinya sendiri.

Jangan hanya takut kehilangan bangunan, takutlah kehilangan fondasi

Kesombongan adalah fondasi yang berbahaya

Dalam rangkaian ayat sebelumnya, Allah menyebut bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong. Kesombongan membuat seseorang sulit menerima kebenaran.

An-Nahl ayat 26 mengajarkan:

Jangan tertipu oleh kokohnya bangunan. Lihatlah fondasinya. Kehancuran tidak selalu berbentuk bencana. Keruntuhan yang dimaksud dalam kehidupan tidak harus selalu berupa rumah yang benar-benar roboh.

  • Sebuah keluarga dapat runtuh karena hilangnya kejujuran.
  • Sebuah usaha dapat runtuh karena keserakahan.
  • Sebuah persahabatan dapat runtuh karena pengkhianatan.
  • Sebuah kepemimpinan dapat runtuh karena kesombongan.
  • Sebuah masyarakat dapat runtuh karena kezaliman.

Dan yang paling mengkhawatirkan: Seorang manusia dapat kehilangan arah hidupnya ketika fondasi imannya perlahan-lahan runtuh.

Karena itu, jangan menunggu bangunan kehidupan roboh untuk menyadari bahwa fondasinya bermasalah.

An-Nahl ayat 26 bukan hanya cerita tentang orang-orang terdahulu. Ayat ini juga merupakan cermin untuk kita.

Jangan buru-buru bertanya: “Siapa orang yang dimaksud dalam ayat ini?”

Tanyakan terlebih dahulu: “Apakah ada sedikit sifat mereka dalam diri saya?”

  • Apakah saya sulit menerima nasihat?
  • Apakah saya mudah meremehkan orang lain?
  • Apakah saya mempertahankan pendapat hanya karena gengsi?
  • Apakah saya pernah menolak kebenaran karena datang dari orang yang tidak saya sukai
  • Apakah saya menggunakan kekuasaan untuk membungkam orang lain?
  • Apakah saya membangun kehidupan dengan sesuatu yang tidak diridai Allah?

Jika jawabannya “ya”, maka mungkin inilah saatnya memperbaiki fondasi. Sebab memperbaiki fondasi jauh lebih mudah ketika bangunan belum runtuh.

Bangunlah di Atas Fondasi yang Allah Ridai

An-Nahl ayat 26 mengajarkan sebuah prinsip kehidupan yang sederhana tetapi sangat dalam: Jangan kagum hanya kepada bangunan. Perhatikan fondasinya.

  • Kesombongan dapat membuat manusia membangun bangunan yang tinggi, tetapi Allah mampu meruntuhkannya dari dasar.
  • Kekuasaan dapat membuat manusia merasa tidak terkalahkan, tetapi Allah dapat mengambilnya.
  • Harta dapat membuat manusia merasa aman, tetapi harta tidak dapat menyelamatkan seseorang dari kehendak Allah.
  • Popularitas dapat membuat seseorang dikenal manusia, tetapi yang paling penting adalah bagaimana ia dikenal di hadapan Allah.

Ya Allah, jangan biarkan kami membangun kehidupan di atas kesombongan, kezaliman, dan kemaksiatan. Teguhkanlah fondasi iman dalam hati kami. Jika kami salah, berikan kami kerendahan hati untuk menerima kebenaran. Jika kami memiliki kekuasaan, jadikan kami adil. Jika kami memiliki ilmu, jadikan kami tawadhu. Jika kami memiliki harta, jadikan kami bersyukur dan berbagi. Dan jangan Engkau biarkan bangunan kehidupan kami runtuh karena fondasi yang kami rusak sendiri.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

Allahumma tsabbit quluubanaa ‘alaa diinika.

“Ya Allah, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.”