Istighfar dan Taubat kepada Allah Menjadi Sebab Turunnya Rahmat

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَيٰقَوْمِ  اسْتَغْفِرُوْا  رَبَّكُمْ  ثُمَّ  تُوْبُوْۤا  اِلَيْهِ  يُرْسِلِ  السَّمَآءَ  عَلَيْكُمْ  مِّدْرَا رًا  وَّيَزِدْكُمْ  قُوَّةً  اِلٰى  قُوَّتِكُمْ  وَلَا  تَتَوَلَّوْا  مُجْرِمِيْنَ
“Dan (Hud berkata), Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras, Dia akan menambahkan kekuatan di atas kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang yang berdosa.” (QS. Hud 11: Ayat 52)
Istighfar dan taubat kepada Allah menjadi sebab turunnya rahmat, hujan, tambahan kekuatan, serta keselamatan dari dosa
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa Hud a.s., setelah mengajak kaumnya menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan melarang mereka menyekutukan-Nya dengan beribadah kepada berhala-berhala, menyuruh mereka meminta ampun kepada Allah yang kemudian bertobat dengan penuh keikhlasan. Selanjutnya Hud a.s. menjelaskan, apabila mereka berbuat seperti yang telah dinasihatkan itu, niscaya Allah akan menurunkan hujan lebat, yang sangat besar manfaatnya bagi mereka sebagai bangsa yang banyak mempunyai tanam-tanaman dan kebun-kebun. Allah juga akan menambah kekuatan dan kemuliaan yang mereka impikan, di samping yang sudah mereka miliki.
Oleh karena itu, Nabi Hud a.s. memperingatkan kaumnya, supaya tidak berpaling dari kebenaran yang telah dinasihatkan kepada mereka dan tidak meneruskan kesalahan-kesalahan besar yang sudah biasa mereka lakukan yaitu menyembah berhala-berhala, patung-patung dan terjerumus pada perbuatan jahat lainnya. Kaum Hud a.s. itu, yang disebut bangsa Ad atau kabilah Ad atau kaum Ad, di samping terkenal sebagai bangsa yang kaya raya di bidang pertanian, mereka terkenal pula sebagai orang-orang kuat yang bertubuh kekar, yang menyebabkan mereka bertambah sombong dan takabur, sebagaimana yang diterangkan oleh Allah dalam firman-Nya:
Maka adapun kaum Ad , mereka menyombongkan diri di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami?” Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuatan-Nya dari mereka? Dan mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan. (Fushshilat/41: 15-16)
Hud 52 tersirat bahwa kekuatan bisa menjadi sebab kesombongan jika tidak diiringi dengan syukur dan taubat.
Selain itu, ada beberapa sebab kesombongan lain, di antaranya:
  1. Kekayaan harta → merasa lebih tinggi karena banyak harta.
  2. Kedudukan/jabatan → merasa berkuasa sehingga meremehkan orang lain.
  3. Ilmu pengetahuan → merasa paling tahu, merendahkan yang lain.
  4. Keturunan/nasab → merasa mulia karena asal-usul keluarga.
  5. Kecantikan/ketampanan & fisik → membanggakan diri atas rupa dan tubuh.
  6. Popularitas/terkenal → merasa hebat karena banyak pengikut atau pengaruh.
  7. Ibadah & amal → merasa lebih suci dari orang lain (ujub).
Kesombongan  lahir dari rasa lebih dalam hal duniawi maupun ukhrawi, yang tidak diiringi dengan kesadaran bahwa semua itu anugerah Allah.
Doa agar dijauhkan dari kesombongan dan dianugerahi hati yang bersih
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْكِبْرِ وَالنِّفَاقِ، وَعَمَلِي مِنَ الرِّيَاءِ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ
Allahumma ṭahhir qalbī minal-kibri wan-nifāq, wa ‘amalī minar-riyā’, wa lisānī minal-kadhib, wa ‘aynī minal-khiyānah.
“Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kesombongan dan kemunafikan, amal perbuatanku dari riya, lisanku dari dusta, dan mataku dari khianat.”