أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
يٰقَوْمِ لَاۤ اَسْــئَلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا ۗ اِنْ اَجْرِ يَ اِلَّا عَلَى الَّذِيْ فَطَرَنِيْ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
“Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Hud 11: Ayat 51)
Imbalannya hanya dari Allah SWT
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa Hud a.s. dalam menyampaikan dakwah kepada kaumnya, sama sekali tidak meminta upah dan bayaran, sehingga mereka tidak dapat menuduhnya untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Ia hanya mengharap pahala dari Allah Yang telah menciptakannya sebagai manusia yang berpikiran sehat dan yang dapat membebaskan dirinya dari menyembah patung-patung yang dibikin oleh kaum Nuh a.s. Patung-patung itu mereka buat untuk mengabadikan jasa-jasa nenek moyang mereka yang saleh. Sebenarnya mereka terjerumus ke jurang syirik itu karena dipermainkan oleh tipu daya setan yang pada mulanya dimaksudkan untuk menghormati dan mengagungkan, tetapi pada akhirnya menjadi sesembahan.
Kemudian Nabi Hud a.s. mendorong kaumnya supaya mau mempergunakan akal pikiran yang sehat, agar mereka bisa membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang membikin mudarat bagi mereka. Ia juga mengatakan bahwa ia menasihati mereka dan menunjukkan kepada jalan yang benar hanyalah untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat. Tetapi mereka tidak mau mengikutinya.
Tadabbur yang bisa diambil:
1. Ikhlas dalam beramal
- Nabi Hud menegaskan bahwa dakwahnya bukan untuk keuntungan pribadi.
- Pelajaran untuk kita: dalam beribadah, berdakwah, bekerja, bahkan membantu orang lain, jangan berharap balasan manusia, tapi niatkan hanya untuk Allah.
2. Menghindari pamrih duniawi
- Orang yang ikhlas tidak akan kecewa bila tidak dihargai manusia, karena ia sadar bahwa balasan terbaik hanya dari Allah.
- Ini juga melatih hati agar tidak terikat oleh pujian atau materi.
3. Sumber rezeki dan balasan hanya dari Allah
- Nabi Hud menyebut: “Yang menciptakanku”.
- Artinya, Allah-lah yang memberi kehidupan, rezeki, dan balasan. Maka tidak logis bila manusia mencari penghargaan dari sesama makhluk yang sama-sama lemah.
4. Dakwah dan kebaikan harus bebas dari kepentingan pribadi
- Jika kebaikan disertai kepentingan dunia, maka akan rusak nilainya di sisi Allah.
- Orang akan sulit menerima kebenaran jika merasa ada kepentingan tersembunyi dari yang menyampaikannya.
5. Ajakan untuk berpikir (‘afala ta‘qilun)
- Allah menutup ayat ini dengan pertanyaan: “Tidakkah kamu memikirkan(nya)?”
- Mengajak kita merenung: mana yang lebih layak menjadi tujuan? Balasan fana dari manusia, atau balasan kekal dari Allah?
Ayat ini mengajarkan keikhlasan total dalam beramal dan berdakwah. Segala kebaikan yang kita lakukan hendaknya semata-mata karena Allah, tanpa pamrih duniawi. Dengan begitu, hati menjadi tenang, tidak bergantung pada makhluk, dan seluruh amal kita akan bernilai tinggi di sisi Allah.
Doa supaya diberi keikhlasan dalam beramal ;
“Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari riya’ dan pamrih. Jadikan setiap amal dan kebaikan yang kulakukan semata-mata karena-Mu, demi mencari ridha-Mu, bukan untuk dunia dan manusia.”