Iman dan Amal Saleh Menjadi Sebab Pertolongan Allah, Baik di Dunia maupun Akhirat.

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَكَذٰلِكَ  مَكَّنَّا  لِيُوْسُفَ  فِى  الْاَ رْضِ  ۚ يَتَبَوَّاُ  مِنْهَا  حَيْثُ  يَشَآءُ  ۗ نُصِيْبُ  بِرَحْمَتِنَا  مَنْ  نَّشَآءُ  ۚ وَلَا  نُضِيْعُ  اَجْرَ  الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf 12: Ayat 56)

Allah SWT memberi kekuasaan dan nikmat kepada siapa yang Dia kehendaki serta tidak menyia-nyiakan balasan bagi orang-orang yang beriman dan berbuat baik

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Demikianlah Allah mengatur langkah demi langkah dan tahap demi tahap untuk menempatkan Yusuf pada kedudukan yang tinggi dan terhormat di Mesir dan berkuasa penuh di setiap pelosok negeri itu. Semua ini sesuai dengan sunah Allah yang dimulai dengan mimpi Nabi Yusuf melihat 11 buah bintang, matahari, dan bulan sujud kepadanya yang menyebabkan ayahnya Yakub bertambah sayang kepadanya sehingga saudara-saudaranya bertambah dengki terhadapnya. Kemudian Yusuf dimasukkan ke dalam sumur oleh mereka, lalu diambil oleh kafilah yang hendak pergi ke Mesir, dan dijual kepada penguasa di sana (al-Aziz) dengan harga yang amat murah. Akhirnya Yusuf menetap di istana sebagai salah seorang keluarga yang dipercaya. Kemudian ia digoda oleh istri al-Aziz dan difitnah sehingga dijebloskan ke dalam penjara. Dalam penjara, Yusuf dikaruniai Allah ilmu menakbirkan mimpi salah seorang penghuni penjara dan akhirnya ia menakbirkan mimpi raja. Setelah terbukti bahwa Yusuf tidak bersalah, timbullah kepercayaan raja terhadap dirinya bahwa ia orang yang jujur, setia, tabah dan sabar menghadapi cobaan, berakhlak mulia, berilmu, dan bijaksana, sehingga dia diangkat sebagai penguasa.

Semua kejadian itu merupakan suatu rentetan yang saling terkait dan erat hubungan satu dengan lainnya. Terkesan pada mulanya seakan-akan Yusuf sudah ditakdirkan untuk selalu dirundung malang, tetapi pada akhirnya dia mendapat keberuntungan dan kebahagiaan. Dia sampai di Mesir sebagai seorang budak belian, tetapi kemudian menjadi orang yang paling dihormati dan disegani di sana. Kalau dia bukan seorang manusia yang jujur, ikhlas, dan suka berbuat baik dalam segala tindakannya, tentulah Allah tidak akan mengaruniakan kepadanya nikmat yang sebesar itu. Demikianlah Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sesungguhnya Allah memberi balasan yang berlipat ganda bagi setiap orang yang berbuat baik.

Beberapa tadabur (pelajaran) dari QS. Yusuf ayat 56 adalah:
1. Kekuasaan dan kedudukan adalah ketetapan Allah, bukan semata hasil kecerdasan atau usaha manusia.

قُلِ  اللّٰهُمَّ  مٰلِكَ  الْمُلْكِ  تُؤْتِى  الْمُلْكَ  مَنْ  تَشَآءُ  وَتَنْزِعُ  الْمُلْكَ  مِمَّنْ  تَشَآءُ  ۖ وَتُعِزُّ  مَنْ  تَشَآءُ  وَتُذِلُّ  مَنْ  تَشَآءُ  ۗ بِيَدِكَ  الْخَيْرُ  ۗ اِنَّكَ  عَلٰى  كُلِّ  شَيْءٍ  قَدِيْرٌ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 26)

2. Kesabaran dan kebaikan tidak pernah sia-sia, meskipun balasannya datang setelah ujian panjang.

QS. Hud: 115;  “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

QS. Az-Zumar: 10; “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

3. Iman dan amal saleh menjadi sebab pertolongan Allah, baik di dunia maupun akhirat.

QS. Muhammad: 7; “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

QS. Ar-Rum: 47; “…Dan menjadi kewajiban Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.”

4. Nikmat dunia boleh dimiliki orang beriman, selama digunakan untuk kebaikan dan amanah.

QS. Al-A‘raf: 32; “Katakanlah (Muhammad), siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik? Katakanlah, semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia…”

QS. Al-Qashash: 77; “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia…”

5. Allah Maha Mengetahui waktu terbaik untuk mengangkat hamba-Nya, sebagaimana Yusuf diangkat setelah masa sulit.

QS. Yusuf: 22 ; “Dan ketika dia (Yusuf) telah dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.”

QS. Yusuf: 54–55; “Raja berkata: ‘Bawalah dia kepadaku, aku akan menjadikannya orang yang dekat kepadaku.’ Maka ketika raja telah berbicara dengannya, dia berkata: ‘Sesungguhnya engkau hari ini berkedudukan tinggi lagi dipercaya.’”

Quran Surat Yusuf ayat 55 menenangkan hati bahwa ujian bukan tanda ditinggalkan Allah, melainkan jalan menuju kemuliaan.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikanku orang yang amanah dan mampu menjaga, Engkau karuniakan kepadaku ilmu yang bermanfaat, Engkau amanahkan kepadaku tanggung jawab yang baik bagi agamaku dan duniaku, serta Engkau tolong aku untuk menunaikan amanah dengan kebenaran dan keadilan.”