أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
مَثَلُ الْفَرِ يْقَيْنِ كَا لْاَ عْمٰى وَا لْاَ صَمِّ وَا لْبَـصِيْرِ وَا لسَّمِيْعِ ۗ هَلْ يَسْتَوِيٰنِ مَثَلًا ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
“Perumpamaan kedua golongan (orang kafir dan mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Samakah kedua golongan itu? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (QS. Hud 11: Ayat 24)
Perbedaan orang kafir dan mukmin, seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar.
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Allah membuat perumpamaan sifat dan keadaan kedua golongan, yaitu golongan orang-orang kafir dan golongan orang-orang mukmin. Golongan orang kafir ibarat seperti orang buta mata kepala dan mata hatinya, sehingga tidak melihat tanda-tanda yang dapat menghantarkan ke jalan yang benar. Dan tuli telinganya, tidak mendengar sedikit pun tuntunan dan petuah-petuah agama. Adapun orang mukmin diibaratkan dengan orang yang dapat melihat dengan mata kepala dan mata hatinya dan dapat mendengar dalam keadaan sempurna, karena mereka menggunakan penglihatan dan pendengarannya untuk memperhatikan, memahami, serta mengamalkan isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.
Samakah kedua golongan itu? Tentu keduanya tidak sama. Maka dengan itu tidakkah kamu mengambil pelajaran? Karena di balik perumpamaan terdapat pelajaran yang paling berharga.
Ilmu balaghah (retorika) dan tatabahasa Arab.
“Samakah?”
Secara literal, “samakah?” berarti “apakah sama?” dalam bahasa Indonesia. Dalam Al-Qur’an, bentuk pertanyaan seperti ini memang muncul, misalnya:
•“هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ؟”
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
•“أَفَمَن يَمْشِي مُكِبًّا عَلَىٰ وَجْهِهِ أَهْدَىٰ أَمَّن يَمْشِي سَوِيًّا عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ؟”
“Apakah orang yang berjalan dengan wajah tertelungkup lebih mendapat petunjuk daripada orang yang berjalan tegak di jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk: 22)
Bentuk ini memang sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan pertanyaan retoris (pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena jawabannya sudah jelas).
Dalam ’ilmu balaghah dan nahwu, pertanyaan yang tidak dimaksudkan untuk dijawab (melainkan untuk menyampaikan makna tertentu) disebut sebagai: “Istifhām Ghair Maqṣūd bih at-Tajawwub” (الاستفهام غير المقصود به الجواب)
Artinya: Pertanyaan yang tidak dimaksudkan untuk dijawab. Bentuk ini sering dipakai untuk tujuan:
- Menunjukkan keheranan
- Penegasan
- Penolakan
- Peringatan
- Celaan
- Pengingkaran
- Dll.
Contohnya dalam bahasa Arab:
“أَإِلٰهٌ مَعَ اللَّهِ؟”
“Apakah ada tuhan selain Allah?”
(Jelas bahwa tidak ada, maka pertanyaan ini berfungsi sebagai pengingkaran).
- Kata “samakah?” mencerminkan bentuk pertanyaan retoris yang banyak muncul dalam Al-Qur’an.
- Dalam ilmu bahasa Arab, bentuk pertanyaan seperti itu disebut الاستفهام غير المقصود به الجواب (istifhām yang tidak bertujuan mendapat jawaban).
- Fungsinya adalah balaghī: memperkuat makna, menggugah hati, atau menunjukkan kebenaran secara tegas.
Diperlukan penguasaan berbagai disiplin ilmu agar pemahaman terhadap Al-Qur’an menjadi menyeluruh, benar, dan bertanggung jawab. Berikut adalah ilmu-ilmu utama yang perlu dikuasai:
1. Ilmu Tajwid
•Tujuan: Membaca Al-Qur’an dengan benar sebagaimana yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
•Mencakup: Makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), sifat huruf, hukum mad, ghunnah, dll.
•Mengapa penting: Agar bacaan sesuai dengan kaidah dan tidak mengubah makna.
2. Ilmu Qira’at
•Tujuan: Mengetahui berbagai versi bacaan Al-Qur’an yang sahih.
•Mencakup: Bacaan Imam Hafsh, Warsh, Qalun, dan lainnya.
•Manfaat: Memahami perbedaan bacaan yang berdampak pada tafsir dan hukum.
3. Ilmu Nahwu dan Sharaf (Tata Bahasa Arab)
•Tujuan: Memahami struktur kalimat dan perubahan bentuk kata.
•Manfaat: Menentukan makna dan hubungan antar-kata dalam ayat.
4. Ilmu Balaghah
•Tujuan: Menyelami keindahan bahasa, gaya bahasa, dan kekuatan retoris Al-Qur’an.
•Cabang: Ma’ani (makna kalimat), Bayan (gaya bahasa), Badi’ (keindahan bahasa).
5. Ilmu Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)
•Tujuan: Mengetahui konteks historis dan situasi saat ayat diturunkan.
•Manfaat: Membantu memahami maksud dan penerapan ayat.
6. Ilmu Tafsir
•Tujuan: Menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an secara menyeluruh.
•Macam-macam tafsir: Tafsir bi al-Ma’tsur (berdasarkan riwayat) dan Tafsir bi al-Ra’yi (berdasarkan ijtihad ilmiah).
7. Ilmu Ulumul Qur’an
•Tujuan: Menyeluruh tentang topik-topik teknis Al-Qur’an.
•Mencakup:
•Makkiyah vs Madaniyah
•Nasikh dan Mansukh (ayat yang menghapus dan dihapus)
•Muhkam dan Mutasyabih (yang jelas dan yang samar)
•Jumlah ayat, surat, susunan
•Pembukuan mushaf
8. Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih
•Tujuan: Mengetahui hukum-hukum yang diambil dari ayat-ayat hukum.
•Manfaat: Untuk menerapkan syariat berdasarkan ayat Al-Qur’an secara benar.
9. Ilmu Hadits
•Tujuan: Memahami penjelasan Rasulullah ﷺ terhadap ayat-ayat tertentu.
•Manfaat: Banyak ayat hanya bisa dipahami dengan bantuan hadits.
10. Ilmu Tarikh (Sejarah Islam)
•Tujuan: Memahami latar belakang sosial, politik, dan budaya saat ayat turun.
•Manfaat: Memperjelas konteks dan makna ayat.
11. Ilmu Mantik (Logika) dan Mantiq Tafsir
•Tujuan: Membantu berpikir runtut dalam menafsirkan ayat, khususnya untuk tafsir bi al-ra’yi.
•Catatan: Ini membantu dalam penyusunan argumen dan penarikan kesimpulan.
Doa agar dimudahkan dalam memahami Al-Qur’an:
اللَّهُمَّ فَقِّهْنِي فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْنِي التَّأْوِيلَ، وَافْتَحْ لِي فُهُومَ الْقُرْآنِ
Allāhumma faqqihnī fī ad-dīn, wa ‘allimnī at-ta’wīl, waftah lī fuhūmal-Qur’ān
“Ya Allah, berilah aku pemahaman dalam agama, ajarkan aku tafsir (penafsiran) yang benar, dan bukakanlah bagiku pemahaman terhadap Al-Qur’an