أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖۤ اِنِّيْ لَـكُمْ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu,” (QS. Hud 11: Ayat 25)
Tugas rassul, pemberi peringatan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa Dia telah mengutus Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya yang ingkar dan durhaka kepada Tuhan dengan menyembah berhala. Nabi Nuh berkata kepada mereka, “Sesungguhnya aku memberi peringatan dari Allah, supaya kamu meninggalkan syirik dan beriman serta taat kepada-Nya.”
Nama Nabi Nuh a.s. sebenarnya adalah Abdul Gaffar bin Lamak bin Mutausyilkh bin Idris a.s. dan diutus sebagai nabi setelah Nabi Idris a.s. Namanya yang terkenal adalah Nuh karena banyak merintih, yang menggambarkan banyaknya kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan dakwah pada kaumnya yang musyrik.
Menurut Ibnu Abbas r.a., Nabi Nuh diutus pada awal umur beliau 40 tahun dan terus-menerus melaksanakan dakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Nabi Nuh a.s. antara lain berkata kepada kaumnya, “InnÄ« nadzÄ«run mubÄ«n” (Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu). Maksudnya, Nabi Nuh memperingatkan kaumnya akan beratnya siksaan Allah yang akan menimpa mereka karena kekafiran mereka. Maka Nabi Nuh menyuruh kaumnya agar beriman dan taat kepada-Nya.
Makna “Pemberi Peringatan” (نَذِيرٌ مُّبِينٌ)
Makna Bahasa:
•نَذِيرٌ (nadzîr): orang yang memperingatkan terhadap bahaya, azab, atau akibat buruk dari suatu perbuatan.
•مُّبِينٌ (mubîn): jelas, terang, tidak samar.
Jadi, nadzîr mubîn artinya seorang pemberi peringatan yang jelas dan gamblang, tidak ada yang ditutup-tutupi.
Tugas Rasul sebagai “Pemberi Peringatan”
Dalam konteks ayat ini (dan juga dakwah Nabi Nuh ’alaihissalâm), peringatan itu mencakup:
- Peringatan terhadap kesyirikan; Nabi Nuh memperingatkan kaumnya agar tidak menyekutukan Allah dengan menyembah berhala.
- Peringatan akan datangnya azab Allah; Jika mereka terus membangkang dan tidak mau kembali ke jalan yang benar, maka azab akan menimpa mereka.
- Peringatan dengan penjelasan yang logis dan jujur; Nabi menyampaikan dakwah dengan cara yang jelas, penuh hujjah (argumen), dan terus-menerus.
Hubungan dengan Tugas Rasul secara umum
Ayat ini mengandung salah satu dari misi utama para rasul, yaitu: Memberi peringatan (inzâr) kepada umat manusia agar kembali kepada tauhid, meninggalkan dosa, dan takut terhadap hari pembalasan.
“Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.”(QS Al-An‘âm: 48)
Tugas Rasul sebagai “pemberi peringatan” dalam QS Hûd ayat 25 berarti: Menyampaikan dengan jelas dan terbuka tentang akibat buruk dari kemusyrikan, kedurhakaan, dan penolakan terhadap ajaran Allah — agar umat sadar dan kembali ke jalan yang benar.
Doa kalau ingin menyampaikan sesuatu dengan jelas, tenang, dan lapang dada, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam saat diperintahkan untuk menyampaikan dakwah kepada Fir’aun:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي ﴿٢٥﴾ وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي ﴿٢٦﴾ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي ﴿٢٧﴾ يَفْقَهُوا قَوْلِي ﴿٢٨﴾
Rabbi ishrah lii shadrii. Wayassir lii amrii. Wahlul ‘uqdatan min lisaanii. Yafqahuu qawlii.
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku. Mudahkanlah urusanku. Lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Agar mereka memahami perkataanku.”
(QS. Thaha: 25–28)