Ibrah dari Kisah Nabi Yusuf; Kebijaksanaan dalam Menolak Godaan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَرَاوَدَتْهُ  الَّتِيْ  هُوَ  فِيْ  بَيْتِهَا  عَنْ  نَّـفْسِهٖ  وَغَلَّقَتِ  الْاَ بْوَا بَ  وَقَا لَتْ  هَيْتَ  لَـكَ  ۗ قَا لَ  مَعَا ذَ  اللّٰهِ  اِنَّهٗ  رَبِّيْۤ  اَحْسَنَ  مَثْوَايَ  ۗ اِنَّهٗ  لَا  يُفْلِحُ  الظّٰلِمُوْنَ

“Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan dia menutup pintu-pintu, lalu berkata, Marilah mendekat kepadaku. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang yang zalim itu tidak akan beruntung.” (QS. Yusuf 12: Ayat 23)

Nabi Yusuf menghadapi godaan kuat dari istri Al-Aziz, namun ia menolaknya karena takut kepada Allah dan mengetahui bahwa orang zalim tidak akan beruntung

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Istri al-Aziz adalah seorang perempuan cantik, sangat dimuliakan oleh seluruh penghuni istana, karena di samping dia istri al-Aziz, dia juga berbudi tinggi, berakhlak mulia, bersih dari sifat-sifat congkak dan sombong, menjauhi segala hal yang akan menjatuhkan derajatnya. Tetapi setelah Yusuf tinggal di istana sebagai salah seorang keluarganya, istri al-Aziz mulai tertarik kepadanya karena akhlak dan ketampanannya. Suatu ketika, setelah mengunci semua pintu rumah, istri al-Aziz merayu Yusuf untuk berselingkuh.

Yusuf sebagai seorang yang jujur dan berakhlak mulia sangat terkejut mendengar rayuan dan ajakan itu, apalagi yang mengajaknya itu adalah istri majikannya sendiri yang telah memberinya tempat berteduh dan memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Selain dari itu, bila ia mematuhi ajakan demikian, berarti ia telah melakukan maksiat yang sangat dimurkai Allah. Karena itu dengan spontan ia menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar aku jangan terjerumus ke dalam perbuatan keji dan mungkar. Suamimu itu adalah tuanku, majikanku yang telah berbuat baik kepadaku, apakah kebaikannya aku balas dengan kekejian? Ini adalah suatu kezaliman dan aku tidak akan melakukannya karena tidak ada orang yang zalim yang sukses dan bahagia hidupnya.”

Pesan & Hikmah dari Ayat Ini:

  1. Kebijaksanaan dalam menolak godaan; Yusuf menolak bukan hanya dengan kekuatan fisik, tetapi dengan akal, iman, dan kesadaran akan tanggung jawab.
  2. Ujian moral sebagai bagian dari kehidupan kenabian; Ujian terbesar kadang bukan dari luar, tetapi dari lingkungan dekat (dalam rumah sendiri).
  3. Rasa syukur dan iman kepada Tuhan; Yusuf tidak lupa dari mana asal karunia dan kedudukannya, dia menyadari bahwa Tuhan yang memberi.
  4. Keadilan dan balasan amal; Mengkhianati kebaikan dengan kejahatan adalah kezaliman, dan zalim tidak akan sukses pada akhirnya.

Larangan berzina sudah ada sejak syariat para nabi sebelum Nabi Muhammad, bahkan sejak masa Nabi Nuh, Ibrahim, dan para nabi setelahnya. Semua syariat para nabi membawa ajaran menjaga kehormatan, kesucian, dan melarang zina sebagai salah satu dosa besar.

Doa Nabi Yusuf untuk menolak godaan

رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Rabbi as-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad‘ūnanī ilayh.”

“Ya Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka (untuk berbuat maksiat).”
(QS. Yusuf: 33)