أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَـقَدْ هَمَّتْ بِهٖ ۙ وَهَمَّ بِهَا ۚ لَوْلَاۤ اَنْ رَّاٰ بُرْهَا نَ رَبِّهٖ ۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّۤوْءَ وَا لْـفَحْشَآءَ ۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَا دِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf 12: Ayat 24)
Nabi Yusup dikuatkan keimanannya sehingga dipalingkan juga dari keburukan dan kekejian
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya, yakni Nabi Yusuf untuk melayani nafsu birahinya. Dan Nabi Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya, niscaya dia akan terjatuh dalam perbuatan maksiat. Demikianlah, Kami kuatkan keimanannya sehingga Kami palingkan darinya perilaku keburukan dan kekejian. Sungguh, dia-Nabi Yusuf-termasuk hamba Kami yang terpilih untuk mengemban risalah Allah dan selalu taat kepada perintah-Nya.
Allah menguatkan iman Nabi Yusuf sehingga beliau dipalingkan dari keburukan dan kekejian.
Inti ayat:
1. Ada godaan yang besar (fitnah istri Al-‘Aziz).
2. Yusuf berpotensi condong secara naluriah—sebagian mufassir menjelaskan condong di sini bukan dosa, tapi fitrah manusia yang diuji.
3. Namun Allah menjaga Yusuf dengan cara:
– menanamkan rasa takut kepada Allah,
– memberikan “burhan” (tanda, cahaya kebenaran, keteguhan batin),
– memalingkan beliau dari niat buruk dan perbuatan keji.
4. Karena Yusuf adalah hamba yang mukhlas, dipilih dan disucikan oleh Allah.
5. Para nabi dijaga oleh Allah dari perbuatan maksiat.
6. Godaan bisa terjadi, tetapi Allah memberi perlindungan khusus (ʿiṣmah).
7. Allah-lah yang memberi kekuatan iman sehingga keburukan tidak menguasai mereka.
Inilah mengapa ayat itu menjadi salah satu dalil bahwa Allah melindungi para nabi dari perbuatan tercela, meskipun mereka tetap diuji.
frasa “لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ” (“sekiranya Yusuf tidak melihat burhān Tuhannya…”) menjadi pembahasan besar dalam tafsir.
Apa itu burhān?
Burhān secara bahasa artinya bukti yang sangat jelas, cahaya kebenaran, atau dalil yang meyakinkan.
Namun apa yang Yusuf lihat dipahami berbeda oleh para mufasir. Ada tiga kelompok utama penafsiran:
1. Burhan = Ilham / Pencerahan Batin / Cahaya dari Allah
Ini adalah penafsiran yang dianggap paling kuat oleh banyak ulama modern.
Maknanya:
– Allah memberikan keteguhan iman tiba-tiba,
– rasa takut kepada Allah yang jelas dalam hati,
– semacam “cahaya kesadaran” yang membuat Yusuf langsung menolak.
Menurut penafsiran ini,
Yusuf melihat kebenaran batin (hidayah) yang membuatnya sadar dan kuat menolak godaan.
Ini sejalan dengan sifat nabi yang dijaga (ma‘ṣūm).
2. Burhan = Gambaran atau Peringatan dari Allah
Sebagian mufasir klasik menyebutkan bahwa Yusuf melihat:
a) Lambang peringatan, seperti ayat hukuman atau ancaman maksiat
Misalnya: gambaran tentang akibat buruk zina.
b) Bayangan Nabi Ya‘qub
Ada riwayat Israiliyat (tidak semua ulama menerimanya) bahwa:
– Yusuf melihat Nabi Ya‘qub, ayahnya,
– menggigit jarinya atau menepuk dada,
– memberi isyarat larangan.
Riwayat-riwayat ini bersifat kisah tambahan, bukan bagian dari akidah wajib, dan banyak ulama mengatakan tidak jelas kekuatannya.
3. Burhan = Kedudukan Yusuf sebagai Nabi yang dijaga (‘Ismah)
Sebagian ulama seperti Al-Razi menekankan bahwa burhān adalah:
Pengetahuan kenabian yang sudah tertanam pada Yusuf, kesadaran bahwa ia adalah hamba pilihan yang tidak pantas untuk maksiat.
Jadi yang “terlihat” adalah kesucian dan kedudukan kenabian yang Allah tetapkan, bukan objek visual tertentu.
Makna paling kuat dan paling aman secara teologis:
Burhān adalah cahaya petunjuk dari Allah yang meneguhkan hati Yusuf sehingga dia terhindar dari maksiat.
Apa pun bentuknya, intinya:
– Allah memberikan bukti/ilham yang sangat jelas, yang langsung membalikkan suasana batin Yusuf, sehingga ia berpaling dari keburukan.
Doa khusus agar dijauhkan dari maksiat dan fitnah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Allohuma innī as’aluka al-hudā, wat-tuqa, wal-‘afāfa, wal-ghinā.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan penjagaan dari maksiat.”