Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖۤ اَزْوَا جًا مِّنْهُمْ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَا خْفِضْ جَنَا حَكَ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
“Jangan sekali-kali engkau (Muhammad) tujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir), dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka dan berendah hatilah engkau terhadap orang yang beriman.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 88)
Hidayah Milik Allah, Tugas Nabi Menyampaikan
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa pada ayat di atas diterangkan bahwa Allah swt telah menganugerahkan sesuatu yang besar nilainya kepada orang-orang yang beriman, yaitu Surah al-Fatihah. Pemberian itu berupa petunjuk ke jalan yang benar dan tidak dapat dinilai dengan harta berapa pun banyaknya.
Oleh karena itu, Allah SWT memperingatkan orang-orang yang beriman agar jangan merasa berkecil hati dan bersedih atas kesenangan duniawi yang telah diberikan Allah kepada orang-orang kafir. Tidak pantas seseorang memalingkan perhatiannya dari sesuatu yang mulia dan tinggi nilainya kepada sesuatu yang kurang bernilai, apalagi jika kesenangan dunia itu diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan Allah. Semua itu adalah kesenangan yang bersifat sementara, kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala.
Ayat ini senada dengan firman Allah SWT yang melarang Rasul melihat kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang kafir: Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. (thaha/20: 131)
Allah SWT melarang Nabi Muhammad SAW bersedih hati terhadap orang kafir yang tidak mengindahkan seruannya. Larangan Allah ini disebabkan karena Nabi saw sangat mengharapkan agar seluruh manusia beriman dan mengharapkan agar orang-orang kafir tidak ditimpa siksa Allah di akhirat nanti karena keluasan rahmat-Nya. Larangan Allah juga mengingatkan Nabi SAW bahwa tugasnya hanya menyampaikan agama Allah, bukan memaksa manusia untuk beriman.
Kemudian Allah memutuskan agar Nabi SAW berlaku lemah lembut dan mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan ditimpa azab Allah jika mereka terus-menerus dalam kekafiran dan kesesatan, sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat sebelum mereka.
Nabi Muhammad SAW sangat menginginkan seluruh manusia beriman dan selamat dari azab Allah. Itu adalah wujud kasih sayang beliau kepada umat manusia. Namun, Allah telah menetapkan bahwa tidak semua manusia akan beriman, karena Allah memberikan manusia pilihan (ikhtiar) dan menguji mereka.
Beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan hal ini:
1. QS. Yunus: 99
“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, niscaya berimanlah semua orang di bumi seluruhnya. Maka apakah engkau (Muhammad) hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mampu menjadikan semua manusia beriman, tetapi itulah bukan sunnatullah yang Allah kehendaki. Allah menghendaki adanya ujian sehingga manusia diberi kebebasan memilih.
2. QS. Al-Kahfi: 6
“Maka boleh jadi engkau (Muhammad) akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada keterangan ini.”
Allah menegur Nabi SAW karena beliau sangat bersedih melihat penolakan kaumnya.
3. QS. Asy-Syu’ara: 3
“Boleh jadi engkau akan mencelakakan dirimu karena mereka tidak menjadi orang-orang yang beriman.”
Ini menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Rasulullah SAW kepada manusia.
4. QS. Al-Hijr: 88
Allah melarang Nabi memandang kenikmatan orang-orang kafir dan tidak bersedih karena penolakan mereka. Tugas beliau adalah menyampaikan risalah dengan jelas.
Mengapa keinginan Nabi tidak terwujud seluruhnya?
Bukan karena keinginan Nabi SAW tidak mulia, tetapi karena hikmah Allah lebih luas. Seandainya semua manusia dipaksa beriman:
Karena itu, Allah berfirman bahwa Rasul hanya bertugas menyampaikan, sedangkan hidayah taufik berada di tangan Allah.
Hikmah bagi kita
Ada pelajaran yang sangat penting bagi para dai, guru, orang tua, dan pemimpin.
Keinginan Rasulullah SAW agar seluruh manusia beriman adalah keinginan yang sangat mulia dan penuh kasih sayang. Namun, Allah telah menetapkan sunnatullah bahwa manusia diberi kebebasan memilih. Karena itu, secara ketetapan Allah di dunia ini memang tidak mungkin seluruh manusia akan beriman. Yang menjadi kewajiban Rasul dan para penerus dakwah hanyalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, sedangkan hidayah dan keputusan akhir berada di tangan Allah SWT.
Doa hati yang rida, dada yang lapang, dan dijadikan hamba-hamba yang ikhlas
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلْ هِمَّتَنَا فِي رِضَاكَ وَهِدَايَةِ عِبَادِكَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا رَاضِيًا، وَصَدْرًا مُنْشَرِحًا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الْمُخْلِصِينَ.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak pengetahuan kami. Jadikanlah keridaan-Mu dan hidayah bagi hamba-hamba-Mu sebagai tujuan hidup kami. Anugerahkanlah kepada kami hati yang rida, dada yang lapang, dan jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang ikhlas.”