Bahaya Syirik dan Macam-macamnya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِنَّ  اللّٰهَ  لَا  يَغْفِرُ  اَنْ  يُّشْرَكَ  بِهٖ  وَيَغْفِرُ  مَا  دُوْنَ  ذٰلِكَ  لِمَنْ  يَّشَآءُ   ۚ وَمَنْ  يُّشْرِكْ  بِا للّٰهِ  فَقَدِ  افْتَـرٰۤى  اِثْمًا  عَظِيْمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 48)

Allah mengampuni dosa kecuali syirik

Salah satu dosa besar yang tidak diampuni adalah dosa syirik. Namun bagaimana jika orang yang telah melakukan syirik kemudian bertaubat.

Seseorang yang telah meninggalkan syirik dan menegaskan imannya hanya kepada Keesaan Allah dan memulai lembaran yang bersih, tidak masalah dia melakukan syirik di masa lalu. Kesaksian iman atau syahadat menghapus masa lalu, inilah sebabnya semua orang yang bersalah, dan banyak dosa termasuk syirik diantaranya menyembah dan berkorban berhala kemudian menjadi muslim dapat diampuni.

Demikian pula, jika seseorang setelah memeluk Islam kembali ke kufur dan syirik, dan kemudian masuk Islam lagi dengan tulus, dia juga diampuni kecuali mereka mati dalam keadaan kufur.

Mereka itu, balasannya ialah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak akan diringankan azabnya, dan mereka tidak diberi penangguhan, kecuali orang-orang yang bertobat setelah itu, dan melakukan perbaikan, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Secara istilah syirik adalah perbuatan, anggapan atau itikad menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain, seakan-akan ada yang maha kuasa di samping Allah Swt. Orang yang menyekutukan Allah disebut musyrik. Syirik merupakan dosa besar yang tidak terampuni, seperti difirmankan oleh Allah Swt.:
(QS An Nisa 48)

Macam-Macam Syirik

Syirik terbagi menjadi dua macam, yakni syirk akbar (syirik besar) atau disebut juga dengan syirk jali (syirik nyata) dan syirk asghar (syirik kecil) atau disebut juga dengan syirk khafi (syirik samar-samar).

Syirik Akbar
Disebut syirik akbar atau syirk jali jika melakukan perbuatan yang jelas-jelas menganggap ada tuhan- tuhan lain selain Allah Swt. dan tuhan-tuhan itu dijadikannya sebagai tandingan di samping Allah
menganggap ada sesembahan selain Allah
menganggap Tuhan mempunyai anak atau segala perbuatan yang mengingkari kemahakuasaan Allah
Oleh karena itu mereka disebut musyrik sehingga perlu dimurnikan ketauhidannya.

Syirik Asghar
Syirik asghar (syirk khafi) ialah perbuatan yang secara tersirat mengandung pengakuan ada yang kuasa di samping Allah Swt. Misalnya, pernyataan seseorang: “Jika seandainya saya tidak ditolong oleh dokter itu, saya pasti akan mati.” Pernyataan seperti ini menyiratkan seakan-akan ada pengakuan bahwa ada sesuatu yang berkuasa selain Allah Swt. Seorang mukmin yang baik dalam peristiwa seperti tersebut di atas akan berkata: “seandainya tidak ada pertolongan Allah melalui dokter itu, saya pasti akan mati.”

Riya juga termasuk syirik, syirik kecil Bahkan Bisa syirik besar. Umat islam harus menghindari dosa riya. Riya disebut bisa tergolong sebagai syirik kecil atau bahkan syirik besar.

“Riya’ adalah syirik kecil. Karena manusia membuat tandingan dengan seseorang selain Allah dalam ibadahnya. Kadang kadang bisa sampai kepada syirik yang besar. Ibnul Qayyim rahimahullah membuat contoh dalam syirik kecil dengan riya’ yang sedikit, ini menunjukkan bahwa banyak diantara riya’ kadang-kadang bisa sampai kepada syirik besar,”

Sebuah perbuatan baru bisa disebut amal yang soleh jika dilakukan dengan benar dan murni. Murni maksudnya apa yang ditujukan untuk Allah semata. Dan benar adalah apa yang dilakukan sesuai dengan syari’at Allah.

Sehingga apa yang ditujukan untuk selain Allah bukanlah amal soleh dan apa yang keluar dari syari’at Allah bukanlah amal soleh dan tertolak bagi yang mengerjakannya.

“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami (Rasulullah shallallahu “alaihi wa sallam) maka amalan tersebut adalah tertolak.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Muttafaq alaih)

Sebagian ulama berkata bahwa dua hadits di atas adalah timbangan amal. Hadits masalah niat adalah timbangan amal batin, sedangkan hadits yang lainnya adalah timbangan amal zhahir.

Semoga kita terhindar dari dosa dosa syrik (menyekutukan Allah, ada kekuatan selain Allah, riya…)