Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قَا لُوْا يٰۤاَ بَا نَا مَا لَـكَ لَا تَأْمَنَّـا عَلٰى يُوْسُفَ وَاِ نَّا لَهٗ لَنٰصِحُوْنَ
“Mereka berkata, Wahai Ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.” (QS. Yusuf 12: Ayat 11)
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini, terbayang dengan jelas betapa besar kecurigaan Nabi Yakub terhadap para saudara Yusuf dan kekhawatirannya apabila ia membiarkan Yusuf bergaul dengan mereka, apalagi setelah mendengar cerita Yusuf tentang mimpinya. Sikap ayah mereka itu sangat menjengkelkan hati dan menyinggung perasaan mereka. Dengan terus terang mereka berkata, “Wahai ayah kami, mengapa engkau selalu mencurigai kami terhadap Yusuf, padahal kami tetap mencintai dan menyayanginya, selalu berusaha agar dia senang dan gembira, dan tidak pernah terlintas dalam pikiran kami akan menyakiti hatinya apalagi menganiayanya. Mengapa engkau tidak membiarkan dia bergaul, bercengkerama dengan sewajarnya seakan-akan engkau menaruh curiga terhadap kami.”
Yusup ayat 11, contoh ayat menipu orang tua untuk meloloskan niat jahatnya.
Ungkapan “menipu orang tua” memang terdengar kasar, tetapi dalam konteks QS Yusuf ayat 11, istilah itu tepat secara makna moral, karena saudara-saudara Nabi Yusuf benar-benar menyembunyikan niat jahat di balik alasan yang tampak baik, yaitu agar ayahnya (Nabi Ya’kub) mengizinkan Yusuf pergi bersama mereka.
Peristiwa ini bisa disebut sebagai contoh tertua dalam Al-Qur’an tentang anak-anak yang menipu orang tua mereka, bukan karena benci, tetapi karena hati mereka dikuasai oleh iri dan dengki.
Yang bisa ditadaburi dari QS Yusuf ayat 11: Ayat ini mengajarkan bahwa ucapan yang tampak baik belum tentu mencerminkan niat yang tulus. Kita harus berhati-hati terhadap tipu daya yang dibungkus dengan kebaikan, serta jangan mudah percaya sebelum menilai dengan hati dan akal yang jernih. Selain itu, ayat ini juga mengingatkan pentingnya kejujuran dan niat yang bersih dalam setiap perkataan dan perbuatan.
Pelajaran bagi masa kini: Fenomena serupa masih banyak terjadi, ada anak yang bukan membahagiakan atau berbakti kepada orang tuanya, tetapi justru memanipulasi, berbohong, bahkan menyakiti hati orang tua demi kepentingan pribadi.
Tadabbur pentingnya:
– Jangan sampai cinta dunia atau iri hati membuat seseorang tega membohongi orang tuanya.
– Orang tua perlu bijak dan berhati-hati dalam menilai niat anak, tanpa kehilangan kasih sayang.
– Allah memperlihatkan kisah ini agar manusia tidak mengulangi kesalahan moral yang sama.
Doa ingin membahagiakan dan mengasihi orang tua terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 24;
رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Rabbir ḥamhumā kamā rabbayāni ṣaghīrā.”
“Ya Tuhanku, kasihilah keduanya (orang tuaku) sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS Al-Isra: 24)