Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ جَعَلُوا الْـقُرْاٰ نَ عِضِيْنَ
“(yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 91).
Al-Qur’an Bukan Sihir, Syair, atau Tenung: Wahyu Allah yang Hak
Di dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Memperingatkan kaum kafir Mekah tentang datangnya azab akibat penolakan mereka terhadap dakwah Nabi Muhammad, Allah berfirman, “Sebagaimana Kami telah memberi kamu peringatan, sesungguhnya Kami telah menurunkan azab kepada orang yang memilah-milah Kitab Allah dan menyifatinya dengan berbagai macam sifat yang batil, yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi ke dalam berbagai macam penamaan, seperti sihir, syair, tenung, atau lainnya, dan dengan berbagai sikap; sebagiannya mereka benarkan dan sebagian yang lain mereka ingkari.
Para ulama tafsir menjelaskan makna ’iḍīn (عِضِينَ) dengan beberapa penafsiran yang saling melengkapi:
1. Mereka memberi label yang berbeda-beda terhadap Al-Qur’an.
Orang-orang musyrik Makkah tidak sepakat dalam menilai Al-Qur’an. Ada yang mengatakan:
Ini karangan Muhammad.
Dengan berbagai tuduhan yang saling bertentangan itu, mereka berusaha membingungkan manusia agar tidak menerima Al-Qur’an. Inilah yang dimaksud “menjadikan Al-Qur’an terbagi-bagi” menurut banyak mufasir seperti Ibnu Katsir, Al-Baghawi, dan At-Tabari.
2. Mereka hanya menerima sebagian dan menolak sebagian.
Ada pula yang menafsirkan bahwa mereka mengambil bagian Al-Qur’an yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, lalu menolak bagian yang tidak mereka sukai.
3. Mereka memecah-belah pandangan manusia tentang Al-Qur’an.
Sebelum musim haji, para pemuka Quraisy membagi tugas di berbagai jalan masuk Makkah. Mereka menyebarkan berbagai tuduhan yang berbeda kepada para pendatang agar mereka tidak mendengarkan Al-Qur’an.
Pelajaran bagi kita
Ayat ini bukan hanya menceritakan perilaku kaum musyrik dahulu, tetapi juga menjadi peringatan agar kaum muslimin tidak:
Di zaman sekarang, mungkin tidak banyak orang yang menyebut Al-Qur’an sebagai sihir, syair, atau tenung sebagaimana dilakukan kaum musyrik Makkah. Namun, bentuk penolakan terhadap Al-Qur’an bisa muncul dengan cara yang lebih halus. Ada yang menganggap Al-Qur’an sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman, ada yang hanya mengambil ayat yang sesuai dengan kepentingannya, bahkan ada yang menjadikan Al-Qur’an sekadar bacaan indah tanpa berusaha memahami dan mengamalkannya.
QS. Al-Hijr ayat 91 mengingatkan kita agar tidak memperlakukan Al-Qur’an sesuai selera manusia. Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang sempurna, utuh, dan menjadi petunjuk yang berlaku untuk setiap zaman. Tugas seorang mukmin bukan memilih-milih ajarannya, melainkan mengimani seluruh kandungannya, membacanya, memahaminya, mengamalkannya, serta menyampaikannya dengan hikmah.
Di tengah derasnya arus informasi, kemajuan teknologi, dan beragam ideologi, marilah kita menjadikan Al-Qur’an sebagai standar kebenaran, bukan sekadar mencari pembenaran dari Al-Qur’an untuk mendukung keinginan kita. Sebab, Al-Qur’an bukanlah kitab yang harus menyesuaikan diri dengan hawa nafsu manusia, tetapi manusialah yang harus menyesuaikan hidupnya dengan petunjuk Al-Qur’an. Itulah jalan menuju keselamatan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
Doa agar Allah menjaga hati kita dari sikap meremehkan, memilah-milah, atau menafsirkan Al-Qur’an menurut hawa nafsu, serta menjadikan kita termasuk orang yang memuliakan wahyu-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَهَادِيَنَا إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ. اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الْإِيمَانَ بِكِتَابِكَ كُلِّهِ، وَفَهْمَهُ، وَالْعَمَلَ بِهِ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يُحَرِّفُونَ مَعَانِيَهُ أَوْ يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ فِي فَهْمِهِ.
Allahumma ij‘alil-Qur’āna rabī‘a qulūbinā, wa nūra ṣudūrinā, wa hādiyanā ilaṣ-ṣirāṭil-mustaqīm. Allāhumma urzuqnā al-īmāna bikitābika kullihī, wa fahmahu, wal-‘amala bihī, wa lā taj‘alnā mimman yuḥarrifūna ma‘āniyahu aw yattabi‘ūna ahwā’ahum fī fahmih.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, dan penuntun kami menuju jalan yang lurus. Ya Allah, anugerahkan kepada kami keimanan terhadap seluruh isi Kitab-Mu, kemampuan untuk memahaminya, serta kekuatan untuk mengamalkannya. Janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang menyimpangkan maknanya atau mengikuti hawa nafsu dalam memahaminya. Jadikanlah kami hamba-hamba yang memuliakan Al-Qur’an sebagai wahyu-Mu yang hak hingga akhir hayat kami.”