Rangkaian Sejarah yang Tidak Hilang: Rumah-Rumah Kaum Tsamud yang Menjadi Saksi Kebenaran Al-Qur’an

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَا نُوْا  يَنْحِتُوْنَ  مِنَ  الْجِبَا لِ  بُيُوْتًا  اٰمِنِيْنَ

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung batu, (yang didiami) dengan rasa aman.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 82)

Rangkaian Sejarah yang Tidak Hilang: Rumah-Rumah Kaum Tsamud yang Menjadi Saksi Kebenaran Al-Qur’an

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Dan mereka, yakni kaum Tsamud, memahat gunung-gunung batu untuk dijadikan rumah-rumah yang kokoh sebagai tempat tinggal. Rumah rumah itu mereka diami dengan rasa aman dari segala gangguan.

Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh a.s. Mereka tinggal di kawasan yang kini dikenal sebagai Hegra, dahulu disebut Al-Hijr, yang terletak di sebelah utara Madinah menuju wilayah Syam (Suriah). Kawasan ini sekarang berada di wilayah AlUla, Arab Saudi.

Yang masih tersisa hingga sekarang adalah:

  • Gunung-gunung batu yang dipahat menjadi bangunan.
  • Pintu-pintu dan fasad bangunan yang diukir langsung pada batu pasir.
  • Ruang-ruang di dalam batu yang menunjukkan kemampuan teknik pahatan yang luar biasa.

Namun, perlu dibedakan antara bangunan kaum Tsamud dan bangunan kaum Nabath (Nabataean) yang ada di lokasi tersebut saat ini. Banyak bangunan megah yang masih berdiri di Hegra berasal dari peradaban Nabath sekitar abad pertama sebelum hingga sesudah Masehi. Adapun peninggalan asli kaum Tsamud diperkirakan jauh lebih tua dan sebagian besar telah hilang karena perjalanan waktu. Meski demikian, kawasan itu tetap diyakini sebagai wilayah yang pernah dihuni kaum Tsamud dan menjadi saksi sejarah yang disebut dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an sendiri menunjukkan bahwa bekas-bekas tempat tinggal mereka tetap dapat dilihat oleh generasi sesudahnya sebagai pelajaran. Yang tersisa terutama adalah:

  • Tebing-tebing batu yang dipahat.
  • Bekas permukiman.
  • Formasi batu yang menunjukkan adanya aktivitas manusia pada masa lampau.

Azab yang menimpa kaum Tsamud bukan berupa gempa yang meratakan seluruh bangunan, melainkan suara yang sangat keras (ash-shaihah) disertai guncangan yang mematikan penduduknya. Karena rumah-rumah mereka dipahat langsung pada gunung batu, sebagian struktur batu tetap bertahan meskipun penghuninya binasa. Hal ini menjadi salah satu hikmah mengapa jejaknya masih dapat disaksikan hingga kini sebagai tanda kebesaran Allah.

Karena itu, QS. Al-Hijr ayat 82 mengajarkan bahwa kemajuan teknologi, arsitektur yang kokoh, dan rasa aman yang dibangun manusia tidak dapat melindungi siapa pun dari azab Allah apabila mereka tetap sombong dan mendustakan para rasul-Nya. Jejak tempat tinggal mereka yang masih ada hingga sekarang menjadi pengingat bahwa kekuatan peradaban tidak menjamin keselamatan tanpa iman dan ketaatan.

Rasulullah SAW pernah melarang para sahabat memasuki negeri kaum Tsamud(Al-Hijr) dengan sikap yang biasa-biasa saja. Namun, larangan itu bukan larangan mutlak untuk mengunjungi wilayah tersebut, melainkan peringatan agar memasukinya dengan rasa takut kepada Allah dan mengambil pelajaran.

Ketika Rasulullah SAW melewati wilayah Al-Hijr dalam perjalanan menuju Perang Tabuk, beliau bersabda:

“Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah menzalimi diri mereka sendiri, kecuali dalam keadaan menangis. Jika kalian tidak dapat menangis, maka janganlah memasukinya, agar kalian tidak ditimpa seperti apa yang menimpa mereka.”

Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW

  • Mempercepat perjalanan ketika melewati Al-Hijr.
  • Menutup kepala beliau dengan kain.
  • Melarang para sahabat menggunakan air dari sumur kaum Tsamud untuk diminum atau membuat adonan. Adonan yang sudah dibuat diperintahkan diberikan kepada unta, sedangkan air minum diambil dari sumur yang dahulu digunakan oleh unta mukjizat Nabi Saleh a.s.

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa:

  • Larangan tersebut bersifat adab dan peringatan, bukan berarti haram mutlak mengunjungi Al-Hijr.
  • Tujuan utamanya adalah bertadabbur, mengambil ibrah (pelajaran), mengingat azab Allah, dan memperkuat keimanan.
  • Yang tidak dibenarkan adalah menjadikannya sekadar tempat hiburan, bersenang-senang, atau objek wisata tanpa mengingat peristiwa yang terjadi di sana.

Karena itu, banyak ulama membolehkan mengunjungi kawasan Al-Hijr (Hegra/Madain Saleh) apabila niatnya untuk mempelajari sejarah, mentadabburi ayat-ayat Allah, dan mengambil pelajaran, sambil menjaga adab sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW

Tempat-tempat yang menjadi saksi azab Allah bukan untuk dibanggakan sebagai kehebatan peradaban semata, tetapi untuk mengingat bahwa sebesar apa pun kemajuan manusia, kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk Allah akan berakhir dengan kehancuran.

Doa permohonan agar tidak tertipu oleh kekuatan, harta, kemajuan, atau rasa aman duniawi, serta diberi hati yang selalu tunduk kepada Allah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا نَغْتَرُّ بِقُوَّتِنَا وَلَا بِمَالِنَا وَلَا بِمَا آتَيْتَنَا مِنْ نِعَمِكَ، وَاجْعَلْ قُلُوبَنَا خَاشِعَةً لَكَ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّعِظُ بِآيَاتِكَ وَلَا يَكُونُ مِنَ الْغَافِلِينَ.

Allahumma lā taj‘alnā naghtarru bi quwwatinā wa lā bi mālinā wa lā bimā ātaitanā min ni‘amika, waj‘al qulūbanā khāsyi‘atan laka, wa tsabbitnā ‘alal īmāni waṭ-ṭā‘ah, waj‘alnā mimman yatta‘iẓu bi āyātika wa lā yakūnu minal ghāfilīn.

“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami tertipu oleh kekuatan kami, harta kami, ataupun nikmat yang Engkau karuniakan kepada kami. Jadikanlah hati kami tunduk kepada-Mu, teguhkan kami di atas iman dan ketaatan, serta jadikan kami termasuk orang-orang yang mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Mu dan bukan termasuk orang-orang yang lalai.”