Jejak Sejarah sebagai Ayat Allah bagi Orang-Orang yang Berakal

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا نْتَقَمْنَا مِنْهُمْ ۘ وَاِ نَّهُمَا  لَبِاِ مَا مٍ  مُّبِيْنٍ ۗ

“maka Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua (negeri) itu terletak di satu jalur jalan raya.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 79)

Jejak Sejarah sebagai Ayat Allah bagi Orang-Orang yang Berakal

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Karena tindakan mereka yang melanggar larangan Allah dan mengabaikan seruan rasul itu, mereka ditimpa azab berupa panas terik selama tujuh hari, tanpa sedikit pun awan yang menaungi. Allah kemudian mengirimkan awan, lalu mereka bernaung di bawahnya. Tiba-tiba dari dalam awan itu memancar nyala api yang menghanguskan mereka. Dalam Surah al-A’raf/7: 91, diterangkan bahwa mereka juga ditimpa gempa yang dahsyat.

Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka. (al-A’raf/7: 91)

Kemudian Allah swt menerangkan bahwa kota Sodom dan kota Aikah itu adalah dua kota yang berdekatan letaknya, sama-sama terletak di jalan yang biasa dilalui manusia. Bahkan, bekas peninggalan mereka masih dapat dilihat dan diteliti, agar dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mau menggunakan pikirannya.

Yang dimaksud dalam tafsir tersebut adalah bekas wilayah kaum Nabi Luth a.s. (Sodom) dan kaum Aikah, yang keduanya berada di kawasan Syam (Levant), sehingga jalur perdagangannya memang sering dilalui pada masa itu.

Pedagang Quraisy yang bepergian ke Syam kemungkinan besar melewati kawasan bekas kaum-kaum tersebut, sehingga mereka dapat melihat sisa-sisanya.

Yang ingin ditekankan Al-Qur’an bukan sekadar lokasi geografisnya, tetapi bahwa jejak kehancuran kaum yang mendustakan para rasul masih berada di jalur yang dapat disaksikan manusia. Bekas-bekas itu menjadi ayat (tanda) bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran. Inilah sebabnya Allah berfirman bahwa kedua negeri itu berada di “jalan yang nyata”, sehingga siapa pun yang melewatinya dapat merenungkan bahwa kekuasaan, kemakmuran, dan peradaban yang besar sekalipun tidak dapat menyelamatkan suatu kaum apabila mereka terus-menerus berbuat zalim dan menolak kebenaran.

“Allah tidak hanya menceritakan sejarah kehancuran kaum terdahulu, tetapi juga membiarkan jejaknya tetap terlihat sepanjang zaman agar menjadi peringatan bagi setiap generasi yang mau berpikir.”

Doa supaya dimasukkan ke dalam kelompok orang yang mengambil pelajaran dari jejak kehancuran kaum terdahulu, memohon agar Allah menganugerahkan hati yang berpikir, mampu mengambil ibrah, dan dijauhkan dari sifat lalai.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ أُولِي الْأَلْبَابِ، الَّذِينَ يَتَفَكَّرُونَ فِي آيَاتِكَ، وَيَعْتَبِرُونَ بِمَصَارِعِ الْمُكَذِّبِينَ، وَلَا تَجْعَلْنِي مِنَ الْغَافِلِينَ.

Allāhumma’j’alnī min ulīl-albāb, alladzīna yatafakkarūna fī āyātika, wa ya’tabirūna bi maṣāri’il-mukadzdzibīn, wa lā taj’alnī minal-ghāfilīn.

“Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang berakal, yang senantiasa merenungkan ayat-ayat-Mu, mengambil pelajaran dari kehancuran orang-orang yang mendustakan kebenaran, dan janganlah Engkau jadikan aku termasuk orang-orang yang lalai.”