أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَـرٰٮكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْٓءٍ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَا شْهَدُوْۤا اَنِّيْ بَرِ يْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
“kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. Dia (Hud) menjawab, Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan,” (QS. Hud 11: Ayat 54)
Yang bener dianggap gila, yang enggak bener dianggap normal
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat ini diterangkan kelanjutan dari tantangan kaum Hud a.s., yaitu dengan mengatakan kepadanya, bahwa ucapan Hud itu mirip seperti ucapan orang yang kemasukan setan. Ucapan itu sama sekali tidak dapat mereka terima, lebih-lebih ucapan yang meremehkan dan menghalang-halangi mereka untuk beribadah kepada berhala. Tantangan ini ternyata diikuti dengan tantangan yang lebih keras dari yang sebelumnya. Mereka menuduh Hud a.s. menderita penyakit gila, jadi tidak perlu didengar perkataannya apalagi dipercayai. Penyakit gila itu, menurut anggapan mereka, disebabkan karena Hud a.s. durhaka kepada sesembahan-sesembahan mereka.
Itulah sebabnya Nabi Hud a.s. mengambil kesimpulan bahwa dakwahnya tidak akan berguna lagi bagi mereka, sehingga ia menjawab tantangan mereka itu dengan mengatakan bahwa ia bersaksi kepada Allah dan menyuruh mereka supaya menyaksikannya, bahwa sesungguhnya ia terlepas dari apa yang mereka persekutukan itu. Jawaban Hud a.s. ini menunjukkan suatu sikap yang tegas, penuh dengan keimanan dalam mempertanggungjawabkan kebenaran dakwahnya, yang disampaikan kepada kaumnya tanpa memperdulikan segala macam bentuk rintangan dan tantangan yang dihadapinya.
Kaum Nabi Hûd menuduh beliau gila hanya karena beliau menyeru kepada kebenaran. Itu pola lama yang terus berulang sampai hari ini:
1.Yang benar dianggap aneh atau salah
- Orang yang jujur dianggap naif, bahkan “nggak realistis.”
- Orang yang menolak korupsi malah sering disingkirkan.
- Orang yang ingin hidup sederhana dan menjaga prinsip agama, dianggap kolot atau tidak modern.
2.Yang salah dianggap biasa atau normal
- Budaya hedonisme, maksiat, bahkan perilaku menyimpang justru dilabeli “hak asasi” atau “kebebasan.”
- Gaya hidup konsumtif, boros, dan penuh pamer dianggap prestise.
- Ketidakadilan atau kebohongan publik dibungkus dengan istilah keren agar diterima masyarakat.
3.Stigma terhadap kebenaran
- Seperti Nabi Hûd dituduh gila, sekarang pun ada orang yang membela nilai agama, menolak budaya rusak, atau mengingatkan tentang halal-haram, lalu dicap “fanatik,” “radikal,” bahkan “anti-kemajuan.”
- Padahal yang dilakukan hanyalah menyuarakan kebenaran.
Hikmah yang bisa diambil
- Kebenaran tidak selalu populer. Kadang yang benar justru dianggap aneh di mata banyak orang.
- Ujian orang beriman: tetap teguh walau dicemooh, sebagaimana para nabi menghadapi tuduhan miring.
- Normal menurut manusia , tidak benar menurut Allah. Standar kebenaran tetaplah wahyu, bukan opini mayoritas.
Salah satu doa yang bisa diamalkan supaya diteguhkan dalam keimanan:
اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Allāhumma ṯabbit qalbī ‘alā dīnik
“Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”