Yahudi; Kami telah Beriman padahal Masih ada Kekafiran

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَاِ ذَا  جَآءُوْكُمْ  قَا لُوْۤا  اٰمَنَّا  وَقَدْ  دَّخَلُوْا  بِا لْكُفْرِ  وَهُمْ  قَدْ  خَرَجُوْا  بِهٖ  ۗ وَا للّٰهُ  اَعْلَمُ  بِمَا  كَا نُوْا  يَكْتُمُوْنَ

“Dan apabila mereka (Yahudi atau munafik) datang kepadamu; mereka mengatakan, Kami telah beriman, padahal mereka datang kepadamu dengan kekafiran dan mereka pergi pun demikian; dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 61)

Kami telah beriman, padahal masih ada kekafiran

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa setelah beberapa ayat lalu menerangkan tingkah laku orang-orang kafir dan Ahli Kitab dari orang-orang Yahudi, maka pada ayat ini dan beberapa ayat berikutnya, Allah menerangkan pula tingkah laku orang-orang munafik dari golongan Yahudi Medinah dan sekitarnya. Menurut riwayat Qatadah dan as-Suddi mereka menceritakan, bahwa orang-orang Yahudi datang menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya yang kebetulan ada pada waktu itu, maka turunlah ayat ini untuk mengungkapkan kepalsuan orang-orang munafik

Ayat ini menerangkan kepada Muhammad saw dan para sahabatnya, yang maksudnya: Apabila datang kepada kamu orang-orang munafik dari Yahudi yang berkata, “Kami beriman kepada Rasul Allah Muhammad dan apa yang diturunkan kepadanya,” maka ketahuilah di dalam hati mereka tetap tertanam kekafiran dan kesesatan yang tak kunjung berubah, semenjak mereka masuk ke tempat kamu sampai keluar.

Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka, sewaktu mereka mengunjungi kamu dengan cara tipu muslihat sampai mereka keluar dalam segala macam bentuk tipu daya untuk mengetahui keadaan kamu yang diperlukan mereka untuk disampaikan kepada kaum mereka.

Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab Munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakui dalam hatinya. Munafik adalah orang yang nifaq. Nifaq secara bahasa berarti ketidaksamaan antara lahir dan batin.

Nifāq merupakan salah satu sifat yang sangat dibenci. Nifāq dari bentuknya dapat dibagi dua, yaitu nifāq ǐmānǐ atau nifāq syar’ǐ serta nifāq ‘amalǐ atau biasa juga disebut dengan nifāq ‘urfǐ. Nifāq ǐmānǐ adalah suatu sikap yang dimiliki seseorang dengan memperlihatkan keimanan dan menyembunyikan kekafirannya. Orang seperti ini diancam neraka, sebab orang sangat berbahaya bagi umat dan agama Islam.

Adapun nifāq ‘amalǐ yakni sikap yang dimiliki seseorang dengan memperlihatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya sehingga dalam interaksi sosialnya dia seringkali berprilaku atau menampakkan tanda-tanda kemunafikan seperti yang ditunjukkan Rasulullah dalam hadis beliau seperti gemar berdusta (menyembunyikan sesuatu dari yang sebenarnya), gemar ingkar janji sebab orang yang ingkar janji itu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dia pernah janjikan, serta gemar berkhianat, sebab dia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan amanah yang dipegangnya.

Semoga kita terhindar dari sifat sifat nifaq, tidak kesesuaian antara ucapan dan hati, tidak kesesuaian antara perbuatan dan ucapan.