Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَتَرٰ ى كَثِيْرًا مِّنْهُمْ يُسَا رِعُوْنَ فِى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ وَاَ كْلِهِمُ السُّحْتَ ۗ لَبِئْسَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 62)
Berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram
Khitabnya/objeknya Yahudi, tapi ini bisa peringatan semua manusia jangan berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan, dan memakan yang haram.
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI, Surat Al-Ma’idah Ayat 62 menjelaskan bahwa selanjutnya Allah memberikan informasi kepada nabi dan rasul-Nya, kamu, wahai nabi Muhammad, akan melihat banyak di antara mereka, yaitu orang yahudi yang berlomba dalam berbuat dosa, menimbulkan permusuhan, baik di antara mereka sendiri maupun dengan orang mukmin, dan memakan yang haram tanpa menghiraukan syariat yang telah ditetapkan tuhan. Sungguh, sangat buruk apa saja yang telah mereka perbuat dan yang mereka kerjakan.
Di antara sebab dari perbuatan buruk yang dilakukan orang-orang yahudi itu adalah karena mereka tidak mendapat peringatan dari pendetanya. Karena itu muncul pertanyaan mengapa para ulama yahudi dan para pendeta mereka, setelah mengetahui perilaku masyarakat, tidak melarang mereka yang sering mengucapkan perkataan bohong dan terbiasa memakan yang haram’ bila terus dibiarkan, sungguh, hal itu merupakan kebiasaan yang sangat buruk dan apa yang mereka perbuat merupakan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah.
Berlomba-lomba dalam dosa, kebalikannya berlomba-lomba dalam kebaikan ( Fastabikhul khoirot). Berlomba lomba dalam dosa, amalan yang dapat mendatangkan siksa yang berlipat lipat atau dikenal dengan dosa jariyah, berlomba lomba dalam kebaikan , amalan yang dapat mendapatkan pahala yang berlipat lipat atau disebut amal jariyah…
Dari Abi Hurairah r.a Rasulullah SAW bersabda:” Barang siapa yang menunjuki/ mengarahkan orang lain untuk berbuat kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya dan tidak akan dikurangi dari pahalanya sedikitpun, dan barang siapa yang mengarahkan orang lain untuk berbuat dosa maka ia juga akan mendapatkan dosa/sangsi seperti orang yang diarahkannya tadi untuk berbuat dosa, dan tidak akan dikurangi sedikitpun dari dosa m m / sangsinya” (HR.Muslim).
Didalam Hadits tersebut jelas bahwa tidak hanya amal jariyah yang pahalanya terus mengalir kepada pelakunya tetapi ada juga dosa jariyah yang mana dosa terus mengalir kepada pelakunya; seorang yang mengarahkan orang lain untuk berbuat dosa jangan pernah berpikir akan lepas begitu saja dari Allah SWT terhadap apa yang sudah ia lakukan, bahkan ia harus mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah SWT, sebagaimana yang Allah gambarkan didalam surah Al-isra’ ayat 36 :
ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسؤولا
Dan Janganlah kamu berbuat sesuatu yang kamu tidak ada ilmunya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hatimu akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT
Memberikan fatwa sembarangan yang tidak berlandaskan kepada ilmu tetapi nafsu sehingga menyesatkan orang lain termasuk juga dosa jariyah, makanya hati hatilah memberikan fatwa kepada orang lain. Seorang pendakwah juga harus hati hati dalam berbicara, kalau tidak tahu lebih baik diam saja, makanya seorang pendakwah itu dituntut untuk banyak membaca dan menfilter setiap apa yang dibaca; jangan sampai menyesatkan orang lain karena akibatnya akan kembali kepada pendakwah itu sendiri. Hadits Rasulullah yang mengatakan “sampaikanlah dari ku walau satu ayat” itu bukan berarti kita menyampaikan sesuatu menurut kehendak atau nafsu kita, karena dikhawatirkan yang kita sampaikan menyimpang atau tidak sesuai dengan Al-qur’an dan Sunnah.
Seperti halnya amal Jariyah; seseorang yang mengarahkan orang lain untuk berbuat baik kemudian ia meninggal dunia, maka pahalanya terus mengalir kedalam kuburnya walaupun ia sudah meninggal (Hadits dari Abi Hurairah yang diriwayatkan oleh Muslim), begitu pulalah halnya dengan dosa jariyah yang dilakukan oleh seseorang, walaupun ia sudah meninggal dunia, perbuatan yang pernah ia lakukan didunia untuk menyesatkan orang lain, memberikan fatwa tidak sesuai dengan Al-qur’an dan Sunnah, sehingga seorang individu bahkan masyarakat melaksanakan apa apa yang ia dengar Maka dosa orang yang meninggal akan terus bertambah walaupun ia tidak berbuat dosa lagi (sudah meninggal) karena dosa jariyahnya itu terus mengalir.
Oleh karena itu sebelum kita meninggal dunia, tinggalkanlah hal yang baik baik, kalaupun kita pernah menyesatkan orang lain atau memberikan fatwa yang tidak benar maka dengan kerendahan hati mari kita mengajak orang yang kita sesatkan kembali kejalan Allah SWT dengan cara mengakui segala kesalahan kita didepan mereka. Begitu juga masalah fatwa yang menyesatkan, agar tidak di jalankan oleh orang lain hendaklah merobah kembali fatwa sesuai dengan tuntutan Al-qur’an dan Sunnah. Ini semua demi kemaslahatan kita sendiri.
Kita tidak menyadari; menyesatkan orang, pembenaran terhadap yang salah, fatwa yang berlandaskan nafsu sehingga bisa mendhalimi orang lain, semua itu mengarah kepada berlomba lomba untuk berbuat dosa jariyah, yang pada akhirnya perbuatan itu akan mendhalimi kita sendiri. Ketika berbicara masalah dosa, Imam al-ghazali menggambarkan tentang seorang ahlul bid’ah dan maksiat yang sudah bertaubat, beliau menambahkan pula kalaupun dia sudah bertaubat bagaimana nasib orang orang yang sudah ia sesatkan? Puluhan, ratusan bahkan ribuan orang yang sudah ia sesatkan, maka sungguh tidak adil kalau yang bertaubat masuk kedalam surga sedangkan pengikutnya yang pernah ia sesatkan masuk kedalam neraka.
Semoga kita beramal yang dapat mendatangkan pahala yang mengalir terus dan dilipatgandakan, jangan sampai melakukan amal yang mendatangkan dosa yang mengalir terus dan dosanya dilipatgandakan