Watak Manusia; Segala Sesuatunya Ingin Disegerakan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَوْ  يُعَجِّلُ  اللّٰهُ  لِلنَّا سِ  الشَّرَّ  اسْتِعْجَا لَهُمْ  بِا لْخَيْرِ  لَـقُضِيَ  اِلَيْهِمْ  اَجَلُهُمْ  ۗ فَنَذَرُ  الَّذِيْنَ  لَا  يَرْجُوْنَ  لِقَآءَنَا  فِيْ  طُغْيَا نِهِمْ  يَعْمَهُوْنَ
“Dan kalau Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka. Namun, Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung di dalam kesesatan mereka.” (QS. Yunus 10: Ayat 11)
Salah satu sifat dan watak manusia, adalah ingin segala sesuatu yang akan terjadi padanya dipercepat atau disegerakan, baik itu berupa hukuman atau kemudaratan, kebaikan atau pahala
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Setelah dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan, Mahasempurna dengan segala ciptaan-Nya, Mahaadil dalam memberikan hukuman atau pahala, lalu dijelaskan pada ayat ini bahwa Dia Maha Terpuji karena tidak segera menghukum orang yang durhaka sebagaimana permintaan mereka agar Allah menyegerakan siksa. Mereka diberi kesempatan untuk kembali kepada tuntunan  Al-Qur’an. Dan kalau Allah menyegerakan keburukan, sebagai hukuman atas perbuatan jahat bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti diakhiri umur mereka, yakni dibinasakan. Namun Kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, yakni tidak percaya pada hari Kiamat dalam keadaan bingung dan tetap berada di dalam kesesatan mereka sesuai kemauan mereka.
Salah satu sifat dan watak manusia, adalah ingin segala sesuatu yang akan terjadi padanya dipercepat atau disegerakan, baik itu berupa hukuman atau kemudaratan, kebaikan atau pahala
Pada ayat-ayat Al-Quran yang lain dijelaskan sifat tergesa-gesa yang ada pada manusia, sebagaimana firman Allah:
Dan manusia (seringkali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana (biasanya) dia berdoa untuk kebaikan. Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa. (al-Isra/17: 11)
Dan firman Allah: Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu minta Aku menyegerakannya. (al-Anbiya/21: 37).
Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka janganlah kamu minta Aku menyegerakannya. (al-Anbiya/21: 37)
Sifat tergesa-gesa ingin memperoleh kebaikan dan kesenangan pada manusia itu, adalah karena keinginan mereka memperoleh manfaat dari sesuatu dalam waktu singkat, padahal mereka mengetahui bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Proses itu memerlukan tekad/niat yang kuat, kesabaran dan keuletan. Mustahil mereka akan mencapai suatu kesenangan, tetapi mereka tidak berusaha mencapainya dengan mengikuti syarat-syarat tercapainya sesuatu.
Ketergesaan -gesaan menyebabkan seseorang melakukan kesalahan, tidak berpikir panjang, atau melanggar aturan, maka sifat ini bisa menjadi sesuatu yang negatif dan bahkan dimanfaatkan oleh setan. Dalam hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ketenangan itu dari Allah, sedangkan ketergesa-gesaan itu dari setan.” (HR. Tirmidzi, 2012)
Maksudnya, setan sering mempengaruhi manusia agar bertindak tanpa berpikir, sehingga mereka terjerumus dalam kesalahan dan dosa. Contohnya, orang yang tergesa-gesa dalam marah bisa mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain, atau seseorang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan bisa merugikan dirinya sendiri.
Tergesa-gesa dalam hal yang tidak perlu atau tanpa pertimbangan memang merupakan sifat yang bisa dimanfaatkan oleh setan. Sebaliknya, Islam mengajarkan tadabbur (merenung), tawaqquf (berhenti sejenak untuk berpikir), dan istikhara (meminta petunjuk kepada Allah) sebelum mengambil keputusan.
“Ya Allah, jadikanlah aku orang yang sabar, dan jangan jadikan aku orang yang tergesa-gesa. Bimbinglah aku kepada kebenaran dalam setiap urusanku, dan bantulah aku untuk mengendalikan diriku serta menenangkan hatiku. Wahai Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”