Ditimpa Kesulitan Ingat Kepada Allah, Setelah Berlalu Kemabali Lalai

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ ذَا  مَسَّ  الْاِ نْسَا نَ  الضُّرُّ  دَعَا نَا  لِجَنْبِۢهٖۤ  اَوْ  قَا عِدًا  اَوْ  قَآئِمًا    ۚ فَلَمَّا  كَشَفْنَا  عَنْهُ  ضُرَّهٗ  مَرَّ  كَاَ نْ  لَّمْ  يَدْعُنَاۤ  اِلٰى  ضُرٍّ  مَّسَّهٗ  ۗ كَذٰلِكَ  زُ يِّنَ  لِلْمُسْرِفِيْنَ  مَا  كَا نُوْا  يَعْمَلُوْنَ
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus 10: Ayat 12)
Mengingat Allah dalam keadaan  kesulitan dan setelah kesulitan berlalu kembali lalai
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan karakter manusia yang lain, yaitu apabila mereka ditimpa kemudaratan, musibah atau kesulitan, mereka ingat kepada Allah dan berdoa kepada-Nya, baik dalam keadaan berbaring duduk ataupun berdiri, agar dihindarkan dan dihilangkan dari mereka semua kemudaratan itu. Sebaliknya jika bahaya kesengsaraan dan kesulitan itu telah lenyap dan mereka telah menikmati rahmat, nikmat dan kurnia Allah, maka berangsur-angsur lupa kepada pemberi rahmat dan karunia itu, bahkan mereka mulai kafir kepada Allah.
Ayat ini menunjukkan kelemahan-kelemahan manusia di kala ia menerima cobaan dari Allah, dan menunjukkan pula ketergantungan manusia kepada rahmat dan karunia Tuhan Pencipta dan Yang Mengatur kehidupannya. Karena itu hendaklah orang-orang yang beriman ingat dan jangan lupa kepada Pencipta dan Pengawasnya, baik dalam keadaan kesulitan dan bahaya, maupun dalam keadaan lapang dan senang. Semua itu merupakan cobaan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya untuk menguji kekuatan iman mereka. Orang yang berhasil mengatasi segala cobaan yang dialaminya baik berupa kesulitan maupun kesenangan, mereka itulah yang berhak memperoleh kebahagiaan abadi di dunia dan di akhirat.
Orang yang melampaui batas dan orang yang sesat seperti orang musyrik Mekah adalah orang-orang yang telah dipalingkan hatinya oleh setan. Setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan buruk yang telah mereka kerjakan, sehingga apabila bahaya telah lenyap mereka akan kembali sesat dan mendurhakai Tuhan.
Sifat jelek yang lain,  berdoa dengan sungguh-sungguh ketika dalam kesulitan, tetapi lupa kepada Allah setelah mendapatkan kemudahan, selain QS Yunus 12;
–  QS. Az-Zumar: 8; “Dan apabila manusia ditimpa suatu bahaya, dia berdoa kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya. Kemudian apabila Dia memberinya suatu nikmat dari-Nya, dia lupa (akan bahaya) yang pernah dia berdoa kepada-Nya untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.’”
  • -QS. Al-Isra’: 67;  “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia (Allah). Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu memang selalu ingkar (tidak bersyukur).”
  • QS. Fussilat: 51; “Dan apabila Kami berikan nikmat kepada manusia, dia berpaling dan menjauhkan diri (dengan sombong); tetapi apabila dia ditimpa kesusahan, maka dia banyak berdoa.”
  • QS. Luqman: 32; “Dan apabila mereka diliputi ombak yang besar seperti gunung, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya (untuk menyelamatkan mereka). Tetapi ketika Dia telah menyelamatkan mereka ke daratan, maka sebagian mereka tetap menempuh jalan yang tengah (tidak benar-benar bersyukur). Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang sangat pengkhianat dan sangat kufur.”
Dari ayat-ayat di atas, Allah menggambarkan bagaimana manusia cenderung ingat kepada Allah saat kesulitan, tetapi melupakan-Nya setelah diberi kemudahan. Ini adalah sifat yang harus kita hindari. Islam mengajarkan agar kita tetap bersyukur dan mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik saat susah maupun senang.
Agar tidak termasuk dalam golongan yang disebut dalam ayat-ayat ini, kita bisa berusaha untuk:
1.Bersyukur kepada Allah setelah mendapatkan pertolongan-Nya.
2.Tetap beribadah dan berdoa, tidak hanya saat dalam kesulitan.
3.Menggunakan nikmat yang diberikan Allah dengan baik dan tidak menyombongkan diri.
Semoga kita selalu menjadi hamba yang bersyukur dan tidak hanya mengingat Allah ketika sedang dalam kesulitan. Aamiin.