Usia Lanjut, tapi Masih Dikarunia Putera; Tidak Ada yang Mustahil bagi Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ  اَبَشَّرْتُمُوْنِيْ  عَلٰۤى  اَنْ  مَّسَّنِيَ  الْكِبَرُ  فَبِمَ  تُبَشِّرُوْنَ

“Dia (Ibrahim) berkata, Benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu (dengan cara) bagaimana kamu memberi (kabar gembira) tersebut?” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 54).

Nabi Ibrahim usia lanjut, tapi masih dikarunia putera

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Heran dengan berita itu, dia (Ibrahim) berkata, “Wahai tamuku, benarkah kamu memberi kabar gembira kepadaku dengan kelahiran seorang anak yang telah lama aku impikan, padahal usiaku telah lanjut dan kekuatanku pun sudah melemah? Rasanya tidak mungkin lagi bagiku untuk mendapatkan anak seperti yang kamu katakan. Lalu, bagaimana kamu memberi kabar gembira tersebut; yakni bagaimana hal itu dapat terwujud?” (Lihat: Surah Hud/11: 53).

Selain nabi Ibrahim menurut Al-Qur’an yang dikaruniai anak pada usia yang sangat lanjut, adalah nabi Zakaria. Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa ketika Allah menghendaki sesuatu, tidak ada yang mustahil.

Dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Hijr: 53–54, malaikat memberi kabar gembira bahwa beliau akan memperoleh seorang anak, padahal beliau telah sangat tua. Nabi Ibrahim berkata:
“Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut?” (QS. Al-Hijr: 54). Istri beliau, Sarah, juga sudah tua dan sebelumnya mandul. Namun Allah mengaruniakan mereka seorang putra, yaitu Nabi Ishaq.
Nabi Zakaria, kisah yang sangat mirip terdapat dalam QS. Maryam ayat 4–9 dan QS. Ali ’Imran ayat 38–41. Nabi Zakaria berdoa agar dikaruniai keturunan, padahal beliau telah berusia lanjut dan istrinya mandul.

Allah mengabulkan doanya dengan mengaruniakan seorang putra, yaitu Nabi Yahya. Beliau berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku akan mendapat seorang anak, padahal istriku seorang yang mandul dan aku sendiri telah sangat tua?” (QS. Maryam: 8)

Hikmah yang dapat ditadaburi dari Al-Hijr: 54

  • Usia bukan penghalang bagi kekuasaan Allah. Apa yang menurut manusia mustahil, bagi Allah sangat mudah.
  • Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Nabi Ibrahim tidak mengingkari kabar malaikat, tetapi bertanya karena takjub atas kebesaran Allah.
  • Doa tidak mengenal kata terlambat. Nabi Zakaria terus berdoa meski secara biologis peluang memiliki anak hampir tidak ada.
  • Allah sering memberi nikmat pada waktu yang paling tepat, sehingga hamba semakin menyadari bahwa semua terjadi karena karunia-Nya, bukan semata-mata karena sebab-sebab duniawi.

Dengan demikian, dua nabi yang secara jelas disebut dalam Al-Qur’an memperoleh putra pada usia lanjut adalah Nabi Ibrahim dan Nabi Zakaria. Kedua kisah tersebut menjadi penguat iman bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, sekaligus mengajarkan agar seorang mukmin tidak pernah berhenti berharap kepada-Nya.

Doa yang dapat diamalkan ketika menghadapi keadaan yang terasa mustahil, sebagai pengingat bahwa QS. Al-Hijr ayat 54 mengajarkan untuk memandang segala sesuatu dengan ukuran kekuasaan Allah, bukan semata-mata dengan ukuran kemampuan manusia.

اللَّهُمَّ يَا قَادِرَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، لَا تُقَيِّدْ رَجَائِي بِحُدُودِ عَقْلِي، وَلَا بِضَعْفِ قُوَّتِي، وَاجْعَلْنِي أُحْسِنُ الظَّنَّ بِكَ فِي كُلِّ أَمْرٍ.

Allāhumma yā Qādira ‘alā kulli syai’, lā tuqayyid rajā’ī bi ḥudūdi ‘aqlī, wa lā bi ḍa’fi quwwatī, waj’alnī uḥsinuẓ-ẓanna bika fī kulli amr.

“Ya Allah, Mahakuasa atas segala sesuatu, janganlah Engkau batasi harapanku dengan keterbatasan akalku ataupun kelemahan diriku. Jadikanlah aku selalu berbaik sangka kepada-Mu dalam setiap urusan.